MUSUH MENGINCAR KEIMANAN 24 JAM.

24 Jun

Al-Iman memiliki makna At-Tashdiiq (pembenaran), yaitu pembenaran yang pasti terhadap wujudnya Allah  sebagai Tuhan bagi semesta alam. Ia adalah merupakan inti daripada Islam, dimana Islam sebagai bentuk dzohir dari ketundukan dan kepatuhan terhadap Allah  yang harus tertuang dalam melaksanakan segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya, sedangkan Iman adalah kekuatan batin yang membenarkannya.


Apabila seseorang dalam melaksanakan keislamannya benar-benar sesuai dengan ajaran yang telah disampaikan oleh Rasulullah  dan dilaksanakan dengan iman (kepercayaan penuh) kepada Allah , maka amalnya akan senantiasa diterima di sisi Allah . Namun apabila dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan syari’at yang telah di ajarkan oleh Rasulullah , seperti ketika seseorang menjalankan agamanya di atas cara-cara yang bid’ah artinya menyimpang dari garis sunnah Rasulullah , maka amalnya pasti tidak diterima di sisi Allah .

Berdasarkan beberapa dalil berikut ini:

Firman Allah : (An-Nur: 63)
…فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (63)
… Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Firman Allah : (Ali Imran: 32)

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)
32. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Firman Allah : (Ali Imran: 31)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31)
31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Firman Allah : (An-Nisa’ : 65)
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Adapun dalil dari Assunnah adalah sebagaimana berikut ini:

1- عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى » .
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan.”

2- عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا بَعْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata, “Pada suatu hari setelah shalat shubuh Rasulullah  menasihati kami dengan nasihat yang menyentuh. Karena nasihat ltu air mata berderai dan hati bergetar.
Seseorang berkata. “Sesungsuhnya ini adalah nasihat orang yang akan pergi (berpisah). Apa saja yang engkau amanatkan kepada kami, wahai Rasulullah?
Beliau bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (atas perintahnya), meskipun seorang hamba sahaya dari suku Habsyi (yang menjadi pemimpin kalian). Sesungguhnya siapa saja yang masih tetap hidup (berumur panjang) di antara kalian maka ia akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Hindarilah perkara-perkara yang baru (bid’ah), sesungguhnya bid’ah itu sesat. Siapa saja di antara kalian yang menjumpai hal itu maka hendaklah ia berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin yang diberi petunjuk. Gigitlah hal itu dengan gigi geraham (Pegang teguhlah sunnah itu erat-erat).” Shahih: Ibnu Majah (442). Abu Isa (at-Tirmidzi) berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
3- عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ».
Dari Aisyah –radhiyalloohu anhu- berkata:” Rasulullah  telah bersabda, “Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan kami, maka sesungguhnya amalan itu tertolak.” {Muslim 5/132}

Demikianlan dalam menjalankan agama yang mulia ini, dimana segala sesuatunya wajib mengikuti dalil dari apa yang telah di syari’atkan oleh Allah  kepada RasulNya , karena agama Islam adalah merupakan agama wahyu, maka ia berbeda dengan agama-agama yang lainnya.

Adapun Islam maka syarat diterimanya segala amal adalah sangat tergantung kepada dalil dari Allah dan RasukNya .

Yang demikian itu karena Islam adalah merupakan agama ketundukan dan kepasrahan, bukan sekedar berlaku kebajikan atau menebar kebaikan. Karena itu syarat diterimanya amal di dalam Islam ada dua:

1- Al-Ihlash

Yaitu hendaknya segala sesuatu dari amal-amal sholih yang dilakukan oleh ummat ini hendaknya murni ihlash karena Allah . Dan ini adalah merupakan perwujudan dari syahadat yang pertama: “ASY-HADU ANLAA ILAAHA ILLALLOOH”

2- Al-Muta’baah

Yaitu hendaknya segala bentuk amal yang kita lakukan sebagai seorang muslim, benar-benar mengikuti jejak sunnah Rasulullah , dan itu adalah sebagai perwujudan dari syahadat yang ke dua:
“WA-ASY-HADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH”

Dari sini perlu disadari oleh semua ummat islam bahwa dua kalimat syahadat itu adalah sangat mengikat bagi benar dan tidaknya agama kita, dan keduanya sudah barang tentu memiliki kandungan-kandungan yang meliputi pilar-pilar Islam.

Karena itu kita harus faham betul apa dan bagaimana hakikat DUA KALIMAT SYAHADAT, karena kalau tidak, maka akan terjadi kekurangan-kekurangan atau bahkan mengantarkan kepada keterpurukan dan kesalahan dalam menjalankan agama ini.

Sudah barang tentu barangsiapa yang tidak menjalankan agama ini sesuai dengan kebenarannya, pasti tertolak?. Sebagaimana hal itu telah di sabdakan oleh Nabi  pada hadits di atas bahwa:
“Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agama kami, maka sesungguhnya amalan itu tertolak.” {Muslim 5/132}
Dan demikianlah hakikat dari agama ketundukan itu dimana pemeluknya harus SAMI’NA wa ATHO’NA, terhadap segala aturan yang terdapat di dalamnya.
Namun perlu disadari oleh semuanya bahwa dalam masalah agama ini atau yang lebih simpel yaitu dalam masalah IMAN yang ternyata pada hakikatnya mudah karena hanya sekedar meyakini bahwa Allah  itu adalah Tuhan kita dan kemudian mentaati segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya, seolah-olah menjadi sulit bahkan terkesan melelahkan dan bahkan banyak manusia yang lari menjauhinya.
Semua itu karena IMAN itu perlu di uji, untuk mengukur seberapa ketebalan iman seseorang, karena Allah  berfirman dalam surat Al-Mulk : (2)
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
2. yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Dalam rangka itu maka Allah  kemudian menciptakan syaithon untuk sepenuhnya menjadi lawan (rival) bagi keimanan, sehingga iman anak manusia ini benar-benari di uji kebenarannya mulai dari ujian yang sangat ringan hingga kepada yang paling berat.
Maka, dari ujian itu manusia terbagi menjadi beberapa bagian:
1- Tersesat dan menganiaya dirinya.
2- Pertengahan dalam agamanya.
3- Mencapai ketinggian derajat dalam agamanya.
Sebagaimana hal itu telah di firmankan oleh Allah  dalam surat Fathir: (32)
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32)
32. kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.
Kita pasti senanatiasa ingat akan kisah perseteruan antara nenek moyang kita Nabi Adam  dengan Iblis, sebagaimana hal itiu dikisahkan dalam surat Al-A’raf ayat 11-17
                
11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.
                  
12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”.

          •   

13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina”.
     

14. iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya[529] sampai waktu mereka dibangkitkan”.
 •   

15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.”
   •    

16. iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
Demikianlah sumpah Iblis dihadapan Allah  untuk menghalangi anak manusia dari jalan Allah  yang lurus. Dia telah bersumpah untuk tujuan itu akan mendatanginya dari segala arah dan dengan berbagai macam cara yang penting mencapai tujuan, yaitu menghalangi manusia dari bersyukur kepada Allah .
Setan benar-benar telah mencampuri urusan manusia dalam segala aspek kehidupan. Propaganda-propaganda mereka telah bercampur aduk dalam otak manusia, cara berfikir mereka, cara berpandangan mereka, pola hidup mereka telah benar-benar di racuni oleh panah-panah setan.
Setan mengacak-acak manusia, sehingga terkadang apa yang mereka pandang itu sebagai kebenaran, ternyata adalah kesesatan, dan apa-apa yang mereka pandang sebagai kesunnahan ternyata itu adalah kebid’ahan.
Kebenaran itu di dalam Islam, sebenarnya tolok ukurnya adalah apabila benar menurut:
Al-Qur’an dan Assunnah sebagaimana apa-apa yang telah di fahami oleh para SALAFUS SHOLIH,
namun pada kenyataannya ummat ini benar-benar berpecah-pecah hingga menjadi berkeping-keping, dan semuanya merasa berada di atas kebenaran, padahal yang pasti kebenaran itu hanya satu yaitu yang datang dari Allah dan RasulNya.
Mari sama-sama membuktikan!!
Sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa dielakkan, bahwa ummat ini telah berpecah-pecah, seperti apa yang telah disabadakan oleh Rasulullah  sebagaimana hadits beriktu ini:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ « الْجَمَاعَةُ ». رواه ابن ماجه
Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata, “Rasulullah  bersabda, ‘Umat Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan akan masuk surga, sedangkan yang tujuh puluh golongan masuk neraka. Dan umat Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan akan masuk neraka, sedangkan dan satu golongan akan masuk surga. Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku kelak akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan akan masuk surga, sedangkan yang tujuh puluh dua masuk neraka.’ Lalu beliau , ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga itu)?’ Beliau menjawab, ‘Jama’ah (Ahlussunnahwal Jama’ah)’.” Shahih: Ar-Raudh An-Nadhir, Zhilal Al Jannah (63), Ash-Shahihah (1492).

Sungguh apa yang disabdakan oleh Nabi ini benar-benar telah terbukti bahkan pada akhrinya semakin berkembang menjadi ribuan kelompok, baik besar maupun kecil, namun tetap bahwa pokok pangkal perpecahan itu adalah dari tujuh puluh tiga golongan, sebagaimana yang tertera dalam hadits di atas hanya saja kemudian dari tujuh puluh tiga itu bercabang-cabang lagi menjadi ribuan tadi.
Terkadang sering kita temui suatu kelompok yang tumbuh saat ini mengadopsi dari beberapa ciri-ciri dari tujuh puluh tiga kelompok di atas, seperti contoh:
1- Terjadi pada kelompok SUFI tertentu, dimana mereka disamping mengamalkan thoriqot sufiyahnya, mereka juga berkiblat kepada syi’ah dalam hal tertentu, seperti sikap ghuluw (berlebihan) terhadap AHLUL BAIT NABI . Bahkan terkadang di antara mereka juga ada yang mengkultuskan Nabi  dan beberapa sahabatnya,
2- Kita telah banyak membaca, dimana ada gerakan-gerakan tertentu yang dalam pemikiran terilhami oleh kelompok MU’TAZILAH, yaitu karena mereka lebih mengutamakan akal mereka daripada dalil dari Al-Qur’an dan sunnah, dan di sisi lain mereka juga mengikuti golongan khowarij, sehingga mereka suka mengkafirkan orang lain dan suka melakukan aksi demontrasi padahal cara ini telah dilarang oleh Islam, dan mereka juga suka melengserkan penguasa dari jabatannya, padahal hal itu juga amat terlarang didalam Islam, karena yang wajib ditegakkan adalah nasihat kepada pemimpin bukan menurunkan jabatan, sekiranya dari nasihat itu tetap tidak berhasil maka kita diperintahkan untuk bersabar menunggu keputusan dari Allah  .
Demikian contoh kecil dimana tujuh puluh golongan itu berpecah-pecah menjadi ribuan kelompok yang dimaksud di atas.
Dan ketika kita selidiki dengan cermat, maka kelompok-kelompok itu terbagi kepada beberapa kreteria:
1- Kelompok yang bertujuan di atas kebenaran.
2- Kelompok yang hanya ikut-ikutan.
3- Kelompok yang berkepentingan.
4- Kelompok yang memang ingin merusak agama.
Keterangan:
1- Kelompok yang bertujuan di atas kebenaran.
Kelompok pertama ini terjadi karena bersamaan dengan semangat yang tinggi, mereka memilki semangat membela agamanya, namun mereka tidak memilki pengetahuan yang baik terhadap agamanya, dan akhirnya mereka terperangkap kepada jalan-jalan subuhaat, sehingga mereka melakukan banyak penyimpangan dari kebenaran Al-Qur’an dan Assunnah, sedang mereka tidak menyadari.
2- Kelompok yang hanya ikut-ikutan.
Kelompok ini tidak memiliki pengetahuan yang baik dalam agamanya, namun mereka memiliki sedikit semangat, sehingga mereka aktif mengadakan kegiatan keagamaan, ini yang banyak terjadi saat ini, seperti: sebuah kelompok pangajian atau kelompok dzikir, kemudian mereka mengadakan kegiatan arisan, atau mereka membuat yayasan lalu menjadi besar dan membentuk badan sosial, hingga membuat kelompok atau aliran. Dan kelompok ini tergolong amat berbahaya, karena nantinya akan dikuasai oleh orang-orang yang sebenarnya buta agama.
3- Kelompok yang berkepentingan.
Kelompok ini muncul karena dilatarbelakangi oleh banyak kepentingan, seperti karena ingin meraih suatu jabatan, atau hendak memasarkan ide, atau utnuk mendapatkan pengaruh, kepentingan partainya dan lain sebagainya. Biasanya mereka mengerahkan kekuatan apasaja yang bisa mencapai tujuan, meski harus mengorbankan agamanya. Terkadang mereka memunculkan suatu kebid’ahan yang dipaksakan dengan merangkul orang-orang awam, karena bagi mereka yang terpenting mencapai tujuan.
4- Kelompok yang memang ingin merusak agama.
Kelompok ini muncul dari banyak kalangan, bahkan terkadang dimotori oleh seseorang yang dikenal pandai, atau intelektual. Mereka bergerak dengan mengadakan gebrakan-gebrakan yang acap kali membingungkan dan meresahkan masyarakat. Mereka pandai bersilat lidah sehingga ummat ini ada yang mendukung gerakannya karena terbius oleh semangatnya, dan juga ada yang menentangnya karena mereka mengatahui kesesatan pemikirannya. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh orang-orang sekuler.
Mereka selalu mencari celah untuk merecoki pemikiran ummat agar tidak lagi komitment terhadap agamanya. Bahkan terkadang mereka berkedok membela agama dan berkedok untuk membangkitkan ummat, namun mereka senantiasa menyimpang dari fitrah agama ini.
Coba para pembaca mencermati slogan –slogan berikut ini, apakah menurut anda masih layak dikatakan sebagai pembela agama atau sebagai perusak agama??:
– “Semua agama itu sama, kita tidak boleh saling bermusuhan”.

– “Islam itu agama yang flexibel, bisa hidup dan menyesuaikan diri dalam keadaan apapun”.

– “Islam itu sangat menjunjung persatuan, karena itu kita harus bekerja sama dengan siapapun dan dengan agama apapun baik dalam kemasyarakatan maupun dalam masalah keagamaan”

– “Do’a bersama lintas agama itu boleh”

– “Kita tidak boleh berfikir jumut dengan selalu kembali kepada ulama salaf”.

– “Kita tidak boleh terpaku dengan kitab-kitab tafsir para ulama”.

– “Setiap ummat Islam berhak memahami dan menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman masing-masing”.

– “Kita hanya mementingkan Al-Qur’an saja tidak perlu AL-Hadits”.

– “Tidak ada hukum Allah di muka bumi ini, hukum jual beli, hukum pernikahan, hukum qishos itu terserah kepada manusia”.

– “Ummat Islam tidak boleh terlalu fanatik kepada agama”

– Dan masih banyak lagi yang lainnnya.
Ya, kalo menurut hemat penulis, semua slogan-slogan di atas tidak ada yang benar, karena sangat jauh dari fitrah agama ini, dimana agama ini adalah:
– Dari Allah kepada Rasulnya, tentunya tidak ada hak bagi siapapun menambah atau merubah atau menguranginya.
– Saling bermusuhan itu jelas hal yang dilarang, tetapi akidah Islam jelas tidak bisa disamakan dengan akidah agama lain, karena Islam adalah agam tauhid.
– Islam adalah agama yang flexibel tentunya hal ini jangan di bawa kepada pengertian bahwa islam itu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan?, karena kalau itu yang dimaksud berarti ajaran Al-Qur’an dan sunnah itu tidak ada artinya, padahal kita senantiasa diperintah untuk “TAAT KEPADA ALLAH DAN RASULNYA”. Tetapi kalau yang dimaksud itu bahwa Islam bisa diamalkan dan cocok untuk segala zaman, maka tidak diragukan lagi bahwa memang Islam diperuntukkan oleh Allah  untuk menjadi rujukan bagi segala zaman, agar senantiasa berada diatas jalan yang lurus, yang diridhoi oleh-Nya.
– Islam sangat menjunjung persatuan terutama antar sesema muslim, dan Islam juga memerintahkan agar kita menghormati hak orang lain, dan menghargai pendapat orang lain, namun jangan diartikan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir boleh tukar menukar agama demi kepentingan kemasyarakatan. Dalam masalah muamalah yang bersifat kemasyarkatan memang diperbolehkan selama tidak menyangkut perkara larangan, atau yang berbenturan dengan akidah, jadi tetap menjaga keutuhan ajaran dan bukan tukar menukar ideologi.
– Sekarang merebak pemikiran dan slogan-slogan untuk tidak kembali kepada ulama atau para salafussolih? Ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya, karena agama ini yang terbaik adalah generasi yang pertamanya, yaitu Rasulullah  dan para shabatnya, dan mereka di dalam Al-Qur’an maupun Assunnah telah dinyatakan sebagai ikutan yang terbaik dalam agama. (lihat: At-Taubah: 100)
– Kembali kepada kitab-kitab para ulama salaf (terdahulu) adalah merupakan kewajiban bagi ummat Islam, supaya perjalanan dakwah ini tetap sejalan dengan kebenaran yang pertama, dan jangan sampai terjadi penyimpangan dari jalur yang telah dirintis oleh Rasulullah .
– Sekarang banyak bermunculan kajian anak-anak muda, yang bangga dengan hanya mementingkan Al-Qur’an. Mereka adalah kumpulan anak-anak muda yang sangat berbahaya, karena mereka ingin memecah belah antara Al-Qur’an dan sunnah. Ketahuilah bahwa sunnah itu adalah merupakan wahyu dari Allah yang diperuntukkan untuk menjelaskan seleruh isi AL-Qur’an, sehingga ummat ini bisa mengamalkannya sesuai dengan yang di syari’atkan.
– Pernyataan bahwa tidak ada hukum Allah dimuka bumi, sebagaimana hal ini telah dikatakan oleh gerakan LIBERAL, yang dimotori oleh ULIL ABSAR ABDALAH, ini ada dua kemungkinan, pertama mungkin ia dinyatakan oleh orang-orang yang memang awam samasekali terhadap agamanya. Yang kedua, mungkin ia disampaikan oleh mereka-mereka yang memang ingin merusak agama ini. Karena kalau tidak ada hukum Allah dimuka bumi ini maka benar-benar manusia ini akan menjadi binatang ternak dan lebih hina darinya. Dan kalau hukum Allah tidak ada dimuka bumi ini maka berarti diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab itu tidak juga berguna, dan tentu itu adalah pemikiran yang sesat dan menyesatakan.
– Pernyataan bahwa ummat Islam tidak boleh terlalu fanatik terhadap agamanya. Bagi kita yang agak baik pengetahuan keislamannya, pasti mengetahui bahwa pernyataan ini amat sangat berbahaya, karena kata FANATIK itu bermakna diantaranya: berpegang teguh atau sangat membela, bagaimana kiranya menurut anda kalau ummat ini di suruh tidak fanantik terhadap agama? Sebagaimana hal ini terlalu sering terjadi dimana ada ummat Islam yang tidak mempermasalahkan kitab suci yang diinjak dengan kaki atau dipakai bungkus kacang atau di anggap samasaja dengan buku-buku yang lainnya??. Semua itu tidak lain karena FANATISME agama yang telah luntur sehingga tidak punya nyali lagi untuk membela kitab sucinya.
MUSUH MENGINCAR RUSAKNYA IMAN KITA 24 JAM
Para pembaca yang budiman!
Mari kita adakan efaluasi diri dengan mengenang beberapa ayat di atas, akan ancaman musuh iman kita dengan realita yang sudah dan sedang dan yang mungkin akan datang dari perjalanan hidup kita, yang penuh tantangan ini?
Sudah berapa ribu kali kemaksiatan dan kejahatan melintas pada diri kita, dan diantara kita ada yang menyadari hal itu, dan diantara kita ada yang tidak pernah mau menyadari hal itu, padahal itu adalah bentuk nyata dari dampak sumpah pocong yang dinyatakan oleh Iblis dihadapan Tuhannya, namun sedikit sekali diantara kita yang dapat mengambil pelajaran.
Kita saat ini sedang dalam keadaan yang paling berat daripada tantangan yang terjadi di masa lalu, karena yang kita hadapi sekarang adalah MASA GLOBALISASI, dimana kerusakan telah membumi, sejak tingkatan kejahatan yang rendah hingga kepada kejahatan yang berkedok kebenaran padahal telah menyeret manusia menuju neraka jahannam yang pailng dalam, dikarenakan jauhnya dari kebenaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah .
Segera sadar, segera bangkit, segera bergerak dalam membenahi diri dan keluarga serta masyarakat kita dari ancaman musuh yang sangat berat itu, dengan senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah  dan senantaiasa meningkatkan pangetahuan kita terhadap agama yang mulia ini, agar kita memiliki Ad-DAF’UL QOWI ( pertahanan yang kuat) dalam membentengi diri kita dan keluarga serta masyarakat kita, semoga Allah  senantiasa melindungi diri kita dari ancaman musuh iman, amin.
Di tulis oleh: Ridwan Ibnu Abdil Aziz

4 Tanggapan to “MUSUH MENGINCAR KEIMANAN 24 JAM.”

  1. kevin 21 Juli 2011 pada 3:50 AM #

    BISMILLAH.’afwan ustadz,mohon kiranya sudi untuk di teliti kembali.
    MENANGGAPI SEPUTAR FATWA MUFTI SAUDI TENTANG”BOM BUNUH DIRI”(jawaban dari majalah tauhidullah edisi ke 29)
    oleh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy
    Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
    Apa pendapat Anda tentang fatwa yang dilontarkan mufti Saudi dan disebarkan dalam koran asy-Syarq al-Awsath, tentang penganggapan ‘amaliyyat istisyhadiyyah (operasi-operasi mati syahid) yang terjadi di Palestina sebagai ‘amaliyyat intihariyyah (operasi-operasi bunuh diri) yang tergolong membunuh jiwa dan intihar serta bukan termasuk jihad fii sabilillah dan tidak memiliki landasan syar’iy..?

    Jawaban :

    Bismillahir rahmaaanir rahiim, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man waalah.

    Akhi al-fadhil..

    Semoga Allah melindunginya, menjaganya, dan meluruskan langkahnya untuk membela dien ini.

    Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

    Telah sampai suratmu kepada saya, semoga Allah menyambungmu dengan perlindungan dan taufiq-Nya. Di dalamnya Anda bertanya tentang pendapat saya akan fatwa yang dilontarkan mufti Saudi, yang menganggap ‘amaliyyat yang terjadi di Palestina sebagai ‘amaliyyat intihariyyah yang dikhawatirkan termasuk upaya bunuh diri dan bukan termasuk jihad fii sabilillah.

    Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa fatwa seperti ini adalah kecerobohan dan ketergesa-gesaan dari sang mufti. Terutama dalam situasi sulit yang dilalui umat Islam, berupa pencengkeraman para thaghut atasnya, persaudaraan mereka terhadap Yahudi dan Nasrani, sikap mereka mempersilakan Yahudi dan Nasrani ini dari menguasai negerinya, tanah airnya, dan kekayaan alamnya, pemberlakuan mereka terhadap undang-undang kufur di dalamnya, penolakan mereka dari memberlakukan aturan Allah serta pengguguran mereka bahkan pengharaman mereka terhadap jihad dimana UUD kafir mereka menegaskan bahwa (perang invasi adalah diharamkan, sedangkan perang dalam rangka membela diri tidaklah dilakukan kecuali dengan marsum [intruksi])…

    Dan karenanya kami memiliki banyak bantahan dan catatan atas fatwa ini:

    Pertama: peringatan akan kebatilan penamaan ‘amaliyyah itu dengan ‘amaliyyah intihariyyah, karena di dalamnya ada penyamaan ‘amaliyyah itu dengan bunuh diri yang diharamkan secara asti dalam dinullah, baik karena putus asa dari hidup ini dan sikap protes terhadap ketentuan-ketentuan Allah atau karena keluh kesah dari ujian, terkena sasaran dan luka. Dan orang yang mencermati hadits-hadits ancaman terhadap intihar (bunuh diri) ia akan mendapatkannya berputar sekitar hal ini, dan ini seluruhnya sangat berbeda dengan keadaan orang yang berupaya menjihadi dan memerangi musuh-musuh Allah dengan cara menimbulkan sebesar-besarnya pukulan dalam barisan-barisan mereka atau dengan cara memasukkan sebesar-besarnya macam rasa takut dan teror atas mereka lewat jalan operasi-operasi ini; seraya memprakteknyatakan firman-Nya Ta’ala,

    “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka (orang-orang musyrik) itu apa yang kamu mampu berupa kekuatan dan kuda-kuda yang ditambatkan, dengannya kamu menggetarkan musuh-musuh Allah dan musuh kamu.” (al-Anfal:60)

    atau firman-Nya,

    “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (al-Baqarah:207),

    dan firman-Nya Subhanah,
    “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (at-Tawbah:111)

    Dan nash-nash lainnya yang mendorong untuk berjihad, terjun bertempur, dan mempersembahkan jiwanya secara murah di jalan Allah Ta’ala.

    Jadi, ‘amaliyyat ini zhahirnya adalah ‘amaliyyah buthuliyyah (kepahlawanan) yang sangat jauh untuk digolongkan pada sikap bunuh diri, sedang orang yang melaksanakannya bila dikaruniakan taufiq terhadap syarat-syarat penerimaan amal shalih adalah mujahid yang sangat jauh dari status orang yang bunuh diri.
    Kedua: kami walaupun mengingkari penamaannya dengan ‘amaliyyat intihariyyah, maka begitu juga KAMI TIDAK MENAMAKANNYA SEBAGAI ‘amaliyyat istisyhadiyyah, karena dalam hal itu terkandung pemastian predikat syahid bagi para pelaksananya, sedangkan ia adalah hal yang mana Rasulullah SAW melarang kita untuk memastikan dengannya, sebagaimana dalam Shahih al-Bukhariy (Bab Tidak Boleh Dikatakan Fulan Syahid), namun kami memohon kepada Allah agar menyampaikan mereka kepada tingkatan para syuhada, dan ini tidak bertentangan dengan perlakuan terhadap orang yang terbunuh dalam peperangan yang bertauhid, dengan perlakuan terhadap syahid, ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan dikubur dengan pakaiannya, karena hukum-hukum dunia diambil dengan dugaan kuat.

    Oleh sebab itu, hal yang benar lagi selaras dengan syariat dalam penamaan ‘amaliyyat ini bila ia muncul dari kaum muslimin yang berperang di jalan Allah adalah dinamakan ‘amaliyyat jihadiyyah (operasi jihad), karena ia adalah operasi-operasi jihad dan kepahlawanan yang melegakan dada-dada kaum mukminin.
    Ketiga: bahwa landasan dalam pembolehan ‘amaliyyat seperti ini adalah apa yang ditentukan para ulama dalam masalah yang mereka namakan dengan masalatuttatarrus: yaitu masalah dimana orang-orang kafir membentengi diri dengan tawanan-tawanan kaum muslimin atau dengan wanita mereka dan anak-anak mereka, dimana sekelompok dari ahlul ‘ilmi membolehkan untuk membunuh orang-orang yang dijadikan benteng itu karena darurat, namun mereka membatasi hal itu dengan beberapa syarat. Dan atas dasar ini, selagi hal ini adalah landasannya, maka wajib membatasi ‘amaliyyat ini dengan apa yang dijadikan syarat-syarat oleh ulama dalam masalatuttatarrus atau yang serupa dengannya, yaitu:

    * Pada sikap tidak membunuh benteng itu menjadikan jihad terbengkalai.

    Sebagaimana yang dinukil Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, 8/450, dari al-Qadhi dan asy-Syafi’iy, yaitu ucapan mereka, “Boleh menembak mereka bila perang sedang terjadi, karena meninggalkannya menyebabkan pada penerbengkalaian jihad.” Selesai.

    * Tidak mungkin menembus kuffar dan membunuh mereka serta memeranginya kecuali dengan membunuh benteng (tameng/ perisai) itu.

    Atau membiarkan benteng itu menyebabkan dihabisinya kaum muslimin, pelanggaran kehormatan mereka, dan dikuasainya negeri, dan kemudian pembunuhan benteng itu juga.

    * Dan atas dasar ini, bila menolaknya adalah sebagaimana yang dikatakan ikhwan kita di Palestina, bahwa masa sekarang tidak jalan untuk menjihadi dan menteror bangsa Yahudi, sebagaimana yang Allah perintahkan kecuali dengan operasi-operasi ini dan itu disebabkan kaum Yahudi memperketat upaya-upaya pengamanan dan kerjasama para thaghut penguasa bersama mereka serta dukungan terhadap mereka atas kaum mujahidin, maka pada keadaan seperti ini tidak ada yang mengatakan pengguguran jihad seorang pun yang memahami dinullah serta mengerti dari syar’i tujuan-tujuan-Nya.

    Akan tetapi hajat kepada hal itu wajib ditakar dengan kadar kebutuhan saja, sehingga selama masih memungkinkan perealisasiannya dengan selain jalan ini maka tidak dirukhshahkan (melakukan) dengan hal itu di dalamnya.

    Sebagaimana wajib atas mujahidin sebisa mungkin memanfaatkan sarana-sarana ilmu modern dalam memerangi musuh-musuh Allah, sebagai bentuk perealisasian firman-Nya Ta’ala,

    “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka (orang-orang musyrik) itu apa ang kamu mampu berupa kekuatan dan kuda-kuda yang ditambatkan, dengannya kalian menggetarkan musuh-musuh Allah dan musuh kamu.” (al-Anfal:60)

    Dan itu dengan menimbulkan sebesar-besarnya pukulan terhadap mereka dengan kadar minimal kerugian di barisan mujahidin. Mereka bertanggung jawab terhadap orang yang mereka tugaskan untuk melaksanakan tugas itu di antara mereka; terutama kerugian-kerugian yang ada di tangan mujahidin sendiri, sebagaimana wajib atas mereka untuk memfokuskan terhadap sasaran-sasaran militer dan keamanan dan yang serupa dengannya sehingga benar-benar menimbulkan pukulan yang sangat besar pada musuh-musuh Allah dan menjauhi dari sengaja membunuh anak-anak dan sebangsanya dari kalangan yang bukan militer atau bukan orang-orang yang membantu untuk berperang dengan bentuk bantuan apa saja, kecuali bila mereka terbunuh secara tidak sengaja dalam serangan malam atau pemboman dan yang lainnya berupa macam-macam perang yang menyerupainya yang tidak memungkinkan kaum mujahidin dari menghindari mereka di dalamnya.

    Banyak ahlul ‘ilmi mengambil pendekatan dalil untuk ‘amaliyyat ini dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Ishaq as-Subai’iy, berkata: Saya mendengar seorang laki-laki bertanya kepada al-Barra’ ibnu ‘Azib: Apa pendapat Anda seandainya seseorang menyerang pasukan padahal mereka berjumlah seribu, apa dia menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan? Al-Barra’ menjawab: Tidak, namun kebinasaan adalah seseorang melakukan suatu dosa terus dia menjerumuskan dirinya seraya berkata: Tidak ada taubat bagi saya. Ia berkata: Abu Ayyub tidak mengingkar dan tidak pula Abu Musa al-Asy’ariy RA pada sikap seseorang yang menyerang suatu pasukan besar sendirian dan ia teguh sampai terbunuh.
    Dan juga mereka berdalil untuknya dengan kisah Abu Ayyub di Konstantinopel saat salah seorang dari kaum muslimin menyerang barisan Romawi sampai ia berada di tengah mereka, maka orang-orang berteriak: Subhanallah, dia jerumuskan dirinya kepada kebinasaan! Maka Abu Ayyub bangkit dan berkata: Wahai manusia, sesungguhnya kalian mentakwil ayat ini dengan takyil seperti ini, sesungguhnya ia turun berkenaan kami sekalian Anshar, tatkala Allah telah mengokohkan Islam dan banyak pembelanya, maka sebagian kami berkata secara rahasia kepada sebagian yang lain tanpa sepengetahuan Rasulullah Saw: Sesungguhnya harta-harta kita sudah lenyap dan sesungguhnya Allah telah mengokohkan Islam serta telah banyak pembelanya, maka seandainya kita tinggal di tengah harta-harta kita kemudian kita memperbaiki apa yang lenyap darinya, maka Allah menurukan kepada Nabi-Nya SAW ayat itu… hingga akhir hadits… dan ia ada dalam Sunan at-Tirmidzi dan diriwayatkan oleh Abu Dawud.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Imam yang empat membolehkan seorang muslim mencebur di barisan kuffar meskipun dia menduga kuat bahwa mereka akan membunuhnya bila dalam hal itu terdapat maslahat bagi kaum muslimin. Bila seorang (muslim) melakukan suatu yang dia yakini bahwa ia akan terbunuh dengannya demi maslahat jihad—padahal dia membunuh dirinya sendiri itu lebih dahsyat daripada dia membunuh orang lain—maka suatu yang menghantarkan pada pembunuhan orang lain demi maslahat dien yang tidak mungkin tercapai kecuali dengan hal itu serta (demi) menolak bahaya musuh yang merusak dien dan dunia yang tidak bisa terhadang kecuali dengan hal itu adalah lebih utama…) Selesai, al-Fatawa 28/540.

    Ada ungkapan dalam as-Sair al-Kabir karya Muhammad ibnu Hasan asy-Sya’abaniy dan Syarhnya milik Muhammad ibnu Ahmad as-Sarkhasiy, 4/250: Seandainya seorang muslim menyerang sendirian terhadap seribu tentara, bila ia mengharapkan untuk membabat mereka atau memberikan pukulan pada mereka, maka tidak apa-apa, karena dengan perbuatannya itu dia bermaksud untuk menghajar musuh, sedang hal itu telah diakukan oleh banyak sahabat di hadapan Nabi SAW pada perang Uhud, dan Rasulullah SAW tidak mengingkari hal itu atas mereka dan bahkan beliau memberi kabar gembira kesyahidan terhadap sebagian mereka saat meminta izin dalam hal itu. Dan bila tidak mengharapkan memberikan pukulan maka perbuatan itu dimakruhkan baginya, karena ia membinasakan dirinya dalam selain manfaat bagi kaum muslimin dan tidak ada pukulan bagi kaum musyrikin… hingga ucapannya: maka disyaratkan pukulan (terhadap musuh itu) zhahir untuk kebolehan melakukan. Dan bila tidak mengharapkan memberikan pukulan akan tetapi perbuatan itu membuat berani kaum muslimin terhadap mereka agar nampak dengan perbuatannya itu pukulan pada musuh, maka hal itu tidak apa-apa insya Allah Ta’ala, karena bila boleh melakukan hal itu seandainya ia berharap memberikan pukulan pada mereka dengan perbuatannya, maka begitu juga (boleh) bila ia mengharapkan memberikan pukulan dengan perbuatan orang lain. Dan begitu juga bila perbuatannya itu membuat gentar musuh dan menjadikan mereka lemah, maka tidak apa-apa, karena ini adalah bentuk pukulan yang paling utama dan mengandung manfaat bagi muslimin.) selesai.

    Dan atas dasar ini, siapa yang mengatakan bahwa amaliyyat ini adalah amaliyyat intihariyyah yang tidak memiliki dasar dari syariat ini, maka ia telah keliru, tergesa-gesa, dan mempersempit pintu yang luas dalam jihad.

    Dan siapa yang membuka pintu-pintu itu selebar-lebarnya tanpa ikatan atau batasan-batasan yang dituturkan ahlul ilmi, maka ia telah tergesa-gesa dan ia mengikuti semangat dan emosional dalam fatwanya bukan dalil syar’iy.

    Dan kesimpulannya bahwa ia adalah operasi jihad yang bersifat kepahlawanan lagi terpuji—dengan syarat-syaratnya itu—yang menggentarkan musuh-musuh Allah dan menimbulkan pukulan terhadap mereka walau setelah beberapa waktu. Kaum mujahidin kadang sangat membutuhkannya dalam sebagian kondisi kaerna khawatir penelantaran jihad terutama di bawah payung kesepakatan-kesepakatan istislam (pemasrahan, maksudnya kesepakatan damai, pent) dan resolusi PBB yang memutuskan pengharaman perang dan penganggapan jihad sebagai kriminal serta menilainya sebagai teror yang terlarang, dan (resolusi) itu menegaskan atas (keharusan) kerjasama keamanan dan persekongkolan riil antara negara-negara untuk memberangus jihad dan mujahidin.

    Dan akhir ucapan saya ini penting sekali saya mengingatkan para pelaksana amaliyyat ini dengan beberapa hal:

    Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berupaya mencari ridha Allah Subhanahu dengan jihad mereka itu, serta hendaklah tujuan mereka dalam jihad itu adalah mereka berjuang di jalan Allah agar kalimat Allah lah yang tertinggi, terus perang mereka itu hendaklah di bawah panji Islamiyyah yang jelas bukan jahiliyyah dan fanatik buta. Dan mereka harus menjauhi segala yang menimbulkan murka dan kebencian Allah, karena Allah hanya menolong orang yang menolong-Nya dan menelantarkan orang yang memerangi-Nya, sedangkan mereka mengetahui bahwa banyak kalangan yang menghadapi Yahudi pada hari ini tidak menghormati akan kebesaran Allah, dimana mereka terang-terangan mencela Allah, dien-Nya, dan Nabi-Nya, terus bersama mereka itu semua mereka mengira dengan sikap mereka melempari Yahudi dengan batu bahwa mereka itu mujahidin lagi memerangi Yahudi!! Padahal mereka itu pada hakekatnya adalah orang-orang kafir yang memerangi Allah ‘Azza wa Jalla. Dan orng-orang macam mereka itu tidak mungkin ditolong Allah dan tidak mungkin Allah mengusir musuh dengan mereka, akan tetapi dengan sebab merekalah datang kemurkaan Allah dan penelantaran-Nya, serta mereka itu tergolonga sebab terbesar kehinaan umat ini, penguasaan anak-cucu kera dan babi atasnya serta pendudukan mereka terhadap negeri dan tempat-tempat sucinya, sehingga di samping menjihadi mereka wajib pula menjihadi kebatilan dan kekafiran mereka serta mereka diajak untuk taubat dan kembali kepada dien yang haqq, kemudian bila mereka bersikukuh di atas kekafiran mereka dan perangnya terhadap dien ini maka saat itu tidak ada perbedaan antara mereka dengan Yahudi, bahkan mereka itu lebih jahat dari Yahudi dan lebih utama untuk dijihadi daripada Yahudi. Kami katakan ini sedangkan kami memperhatikan langsung terhadap realita ini juga berhubungan dengan ikhwan kami di Palestina dan kami tidak mengatakannya dari menara-menara yang indah yang jauh dari medan jihad. Oleh sebab itu kami adalah tergolong orang yang paling utama untuk menyampaikan terang-terangan dan nasehat terhadap penduduk Palestina di dalamnya, dan bersama hal ini kami tidak peduli dengan celaan orang-orang yang menyelisihi atau kecaman orang-orang yang mengecam yang tidak didorong oleh dalil syar’iy serta ketulusan terhadap dienullah dan kaum muslimin, namun mereka hanya didorong oleh semangat kosong dan kepentingan-kepentingan dunia, dan mereka sangat antusias untuk berada di depan dengan cara memilih fatwa-fatwa yang sejalan dengan politik-politik atau kondisi-kondisinya dan disukai kaum awam dan pengekor.

    Bagaimanapun juga, sesungguhnya dalam bab ini saya memiliki ucapan yang terperinci yang tergabung dalam jawaban-jawaban saya terhadap pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan terhadap saya saat saya berada di penjara Sawwaqah, dan ia sudah diterbitkan maka silakan rujuk ke sana bila mau. Di dalamnya saya telah membantah terhadap orang yang menggolongkan ‘amaliyyah ini pada sikap bunuh diri yang diharamkan, dan juga terhadap orang-orang yang membolehkannya secara muthlaq tanpa batasan-batasan, serta saya jabarkan kerusakan istidlal-istidlal dan lontaran-lontaran kedua pihak itu. Sedang yang saya sebutkan di sini adalah ringkasannya.

    Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar membela dien-Nya dan memenangkan auliya’-Nya serta menjadikan kami orang-orang yang beramal dalam ketaatan kepada-Nya.

    Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.

    Saudaramu,

    Abu Muhammad al-Maqdisiy
    SEKEDAR TAMBAHAN
    Hukum Amaliyah Istishadiyah (Bom Syahid) Adalah Sesuai Dengan Syar’i (Insha Allah)

    Saudara-saudaraku seiman dan seagama, insha Allah kita pernah menyaksikan atau mengetahui kejadian bom bunuh diri di mana si pelaku membawa bahan peledak di tubuhnya kemudian ia masuk ke dalam kumpulan orang-orang banyak. Tanpa diduga, ia meledakkan dirinya dengan maksud membunuh orang-orang di sekitarnya. Tidak lama kemudian, maka media elektronik maupun cetak ramai meliput kejadian ini yang ternyata pernah terjadi berulang kali di Indonesia.

    Saudaraku sekalian, aksi seperti ini sering dipraktekkan para mujahidin di medan jihad. Mereka menyamar dan berpenampilan selayaknya orang biasa sambil menenteng tas atau meletakkan peledak di tubuhnya, lalu pergi ke tengah-tengah barisan musuh, lalu ia korbankan jiwa raganya dengan meledakkan diri dengan niat membunuh musuh-musuh Allah sebanyak mungkin.

    Bunuh dirikah ia?

    Sebelum kita membahas lebih jauh tentang aksi bom syahid ini, marilah kita terlebih dahulu membahas tentang bunuh diri.

    Syaikh ALBANI (rhm) berkata:

    ”…bunuh diri adalah dimana seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya…”(Rekaman Audio: http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm)

    Dari perkataan ulama besar sekaliber Syaikh ALBANI tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa bunuh diri memiliki motif putus asanya seseorang karena tidak sanggup menanggung penderitaan hidup. Lalu apa yang difirmankan Allah terhadap orang yang bunuh diri?

    ”Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.” (An Nisaa 29)

    Allah telah melarang kita untuk melakukan tindakan bunuh diri. Lalu bagaimana dengan sabda Nabi-nya yakni Muhammad SAW. Beliau bersabda:

    ”Pada zaman sebelum kalian ada seseorang yang terluka, lalu ia mengambil sebilah pisau, dengan pisau itu ia memotong tangannya sendiri sehingga darahnya terus mengalir hingga ia mati. Allah berkata: Hambaku telah mendahului Aku (dengan membunuh dirinya), diharamkan surga untuknya” (Bukhari-Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa bunuh diri dengan benda tajam, maka kelak benda tajam itu akan menusuk perutnya pada hari kiamat di neraka Jahanam dan kekal di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, maka di Jahannam nanti ia menghirup racun itu dan kekal di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan terjun dari gunung, maka ia kelak akan terjun ke dalam Jahanam dan kekal di dalamnya” (Bukhari-Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia ini, maka dia kan disiksa pada hari kiamat” (Muslim)

    Dari ayat Al Quran dan hadist diatas, maka dengan jelas kita bisa memahami bahwa bunuh diri adalah tindakan dosa besar yang menyebabkan pelakunya masuk neraka paling bawah (jahanam) dan disiksa selama-lamanya.

    Sekarang kita bergerak ke arah pembahasan tentang bom syahid (amaliyah istishadiyah) atau yang mana orang-orang awam menyebutnya sebagai bom bunuh diri. Seorang penanya bertanya melalui surat kepada Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi (rhm) mengenai fatwa mufti Saudi Arabia yang menganggap bahwa aksi bom syahid yang dilakukan oleh mujahidin di Palestina adalah bunuh diri dan bukan termasuk jihad fii sabilillah. Syaikh pun menjawab:

    ”Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

    Telah sampai suratmu kepada saya, semoga Allah menyambungmu dengan perlindungan dan taufiq-Nya. Di dalamnya Anda bertanya tentang pendapat saya akan fatwa yang dilontarkan mufti Saudi, yang menganggap ‘amaliyyat yang terjadi di Palestina sebagai ‘amaliyyat intihariyyah (operasi bunuh diri) yang dikhawatirkan termasuk upaya bunuh diri dan bukan termasuk jihad fii sabilillah.

    Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa fatwa seperti ini adalah kecerobohan dan ketergesa-gesaan dari sang mufti. ….” (www.millahibrahim.wordpress.com)

    Dari potongan jawabannya di atas, Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi tidak menyetujui fatwa sang mufti Saudi tersebut, dengan kata lain Syaikh mendukung kebenaran aksi bom syahid. Lalu apakah ada dalil dari Al Quran maupun hadist tentang masalah ini. Sebelumnya telah kita uraikan di atas bahwa sistematika bom syahid ini yaitu seorang muslim menyusup ke tengah barisan musuhnya lalu ia meledakkan dirinya dari dalam. Ia menyadari bahwa dirinya akan (dan sudah pasti) terbunuh oleh ledakkan itu. Namun ia melakukannya dalam rangka menghancurkan musuh-musuh islam dan bukan berniat ingin mengakhiri hidupnya dari kesulitan dunia. Adapun dalil-dalil yang menerangkan seorang muslim menceburkan diri ke barisan musuh hingga akhirnya ia terbunuh adalah banyak jumlahnya.

    Dalil-dalil jibaku syahid

    1. Dari jalur Aslam bin Yazid At Tujaibi, katanya:

    ”Kami berada di Romawi. Pasukan Romawi dengan jumlah besar menyerang kami. Pasukan muslim dengan jumlah sebanding menghadapi mereka. Pasukan dari Mesir dipimpin oleh Uqbah bin Amir. Sedangkan pasukan induk dipimpin oleh Fudhalah bin Ubaid. Tiba-tiba seorang prajurit muslim berlari melesat menuju barikade Romawi. Melihat kejadian itu, orang-orang berteriak: ”Dia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan” (Al Baqarah 195). Abu Ayyub Al Anshari membantah teriakan orang-orang tersebut. Ia berkata: ”Wahai kaum muslimin, kalian salah mentakwilkan ayat tersebut. Sebenarnya ayat itu diturunkan kepada kami golongan Anshar. Saat itu Allah memenangkan islam, lalu jumlah kaum muslimin juga sudah banyak. Tanpa sepengetahuan rasulullah, kami secara sembunyi-sembunyi berkata: ”Harta kita terbengkalai, sedangkan Allah telah memenangkan kita, alangkah baiknya jika kita kembali mengurusi ekonomi kita”. Maka Allah menurunkan ayat ini kepada rasulullah, Dan berinfaklah di jalan Allah dan jangan kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan (Al Baqarah 195).” (Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Hibban, Al Hakim)

    Jadi, kata kebinasaan di atas maknanya adalah mengurusi ekonomi dan meninggalkan jihad fii sabilillah.

    2. Dalam kitab Al Mushanif:

    “Salah satu batalyon dari beberapa batalyon kafir telah tiba. Seorang laki-laki dari kalangan Anshar menyongsong kedatangan mereka. Ia berjibaku menerobos batalyon kafir tersebut dan mengobrak-abrik barisan mereka. Ia lalu keluar dari barisan kafir yang sudah ia obrak-abrik tersebut dan mengulangi aksinya sampai dua atau tiga kali. Kejadian ini disampaikan kepada Abu Hurairah. Menanggapi hal ini, Abu Hurairah membaca ayat, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah (Al Baqarah 207).” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

    Abu Hurairah dari hadist di atas tidak menyebut perbuatan orang yang menerobos barisan musuh sendirian sebagai bunuh diri. Malahan beliau meridhai aksi tersebut.

    3. Dalam pertempuran Yamamah, Bara bin Malik meminta sahabat-sahabatnya untuk melemparkan dirinya melintasi tembok pertahanan pasukan musuh dengan mengenakan perisai. Setelah berada dalam benteng musuh, ia berperang habis-habisan dan berhasil membunuh 10 orang kafir. Dia sendiri mengalami 80 luka. Menyikapi aksi jibaku tersebut, tak seorang pun yang mengingkari atau menyalahkannya. (Ringkasan dari Sunan Bayhaqi, Tafsir Al Qurtubi 2/364)

    Dari ringkasan kisah di atas, tak ada seorangpun sahabat yang mengingkari aksi yang dilakukan oleh Bara bin Malik. Mereka diam tak mencela, sedangkan diketahui bahwa diamnya sahabat merupakan ijma (kesepakatan).

    4. Operasi yang dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn dan pasukannya. Dalam ketika itu Rasulullah s.a.w memuji mereka, dengan sabdanya: “Pasukan infantry terbaik hari ini adalah Salamah” (Bukhari-Muslim).

    Ibnu Nuhas berkata : Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh. Tidak mengapa dilakukan jika dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi s.a.w tidak mencela, sahabat r.a tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan. Rasulullah s.a.w memuji Abu Qatadah dan Salamah sebagaimana disebutkan terdahulu. Dimana masing-masing dari mereka telah menjalankan operasi Jibaku terhadap musuh seorang diri (Masyari’ul Asywaq 1/540)

    5. Kisah Ghulam, seorang pemuda yang hidup di antara masa kenabian Nabi Isa dan Muhammad. Ia seorang pemuda beriman yang mana seorang raja memerintahkan pasukannya untuk membunuhnya namun tidak pernah berhasil walaupun sudah dilakukan berkali-kali. Akhirnya Ghulam berkata kepada sang raja; “Kau tak akan bisa membunuhku kecuali kau menuruti perintahku.” Raja bertanya; “Apa itu?” Ghulam menjawab; “Kumpulkan orang banyak di lapangan luas, saliblah aku di kayu, ambillah satu anak panah dan ucapkan AKU BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM, bidiklah aku dengan panah itu. Niscaya kamu bisa membunuhku.”

    Sang raja menuruti instruksi Ghulam dan melepaskan anak panah kearah pemuda itu dengan mengucapkan aku beriman kepada tuhannya Ghulam. Panah ditembakkan dan akhirnya pemuda itupun meninggal. Melihat kejadian itu, masyarakat yang berada di situ ramai-ramai mengucapkan; “Kami beriman kepada Tuhannya Ghulam.” (Ringkasan kisah dari riwayat Bukhari-Muslim)

    Dari hadist di atas, Ghulam memberitahu sang raja cara untuk untuk membunuhnya. Ia telah merelakan nyawanya demi tercapainya kemaslahatan agama. Kematiannya justru membuat banyak orang menjadi beriman kepada Allah.

    6. Umar bin Khattab (ra) memberi izin kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta kedua matanya untuk ikut berjihad. Di peperangan, ia mengayunkan pedangnya kesana kemari untuk membunuh musuh-musuhnya. Di sore hari, kemenangan diperoleh kaum muslimin dan sahabat menemukan jasad seorang muslim yang buta kedua matanya. (Dalam kitab Shifatu As Shafwah 1/222)

    7. Seorang lelaki mendengar sebuah hadits dari Abu Musa: ”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan pedang.” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri, berperang sampai ia terbunuh. (Imam Al-Bayhaqi, 9/44)

    8. Kisah Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (surga),” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. (Bukhari-Muslim)

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah, dalil-dalil di atas adalah hanya segelintir yang bias saya kemukakan. Bisa kita lihat dengan jelas bahwa aksi orang-orang muslim yang disebutkan di atas berjibaku menuju barisan musuh seorang diri dan ia mereka tahu mereka memiliki resiko tinggi untuk terbunuh.

    Sekilas apa yang mereka perbuat itu terlihat seperti tindakan yang terkesan agak konyol dan cari mati, namun pada kenyataannya para sahabat baik itu Abu Hurairah atau Abu Ayyub Al Anshari pada hadist no. 1 dan 2 sama sekali tidak mencela perbuatan orang itu. Justru mereka mendoakan mereka. Bahkan pada hadist no. 4, Rasulullah SAW sendiri memuji Salamah yang melakukan tindakan serupa. Pada hadist no. 6, Umar bin Khattab pun memberi izin kepada Ibnu Ummi Maktum yang buta matanya agar ikut berperang. Padahal kita sadar bahwa orang buta lebih tidak bisa mempertahankan dirinya dari serangan musuh karena ia tak bisa melihat dari mana arah serangan itu datang.

    Fatwa ulama tentang amaliyat istishadiyah

    1. Ibnu Taimiyah berkata:

    ”Imam yang empat membolehkan seorang muslim mencebur di barisan kuffar meskipun dia menduga kuat bahwa mereka akan membunuhnya bila dalam hal itu terdapat maslahat bagi kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 28/540)

    2. Muhammad Ibnu Hassan Asy Sya’abani berkata:

    ”Seandainya seorang muslim menyerang sendirian terhadap seribu tentara, bila ia mengharapkan untuk membabat mereka atau memberikan pukulan pada mereka, maka tidak apa-apa, karena dengan perbuatannya itu dia bermaksud untuk menghajar musuh, sedang hal itu telah diakukan oleh banyak sahabat di hadapan Nabi SAW pada perang Uhud, dan Rasulullah SAW tidak mengingkari hal itu atas mereka dan bahkan beliau memberi kabar gembira kesyahidan terhadap sebagian mereka saat meminta izin dalam hal itu.” (As Sair Al Kabir)

    3. Ibnu Nuhas berkata tentang hadist Salamah:

    ”Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.” (Masyari’ul Asywaq 1/540)

    4. DR. Nawaf Hail Takruri berkata:

    “Aksi-aksi bom syahid ini terbukti telah banyak yang menewaskan orang-orang Yahudi dan lebih efektif menyusupkan rasa takut ke dalam hati mereka” (Al Amaliyat Al IStishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 37)

    5. Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata setelah menjelaskan hadist Abu Ayyub Al Anshari:

    “Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Allah, akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Allah dan kemenangan agama Allah, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan (http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/)

    “Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu (bom syahid), itu adalah jihad untuk Allah.” (http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm)

    6. DR. Salman Al Audah berkata:

    “…sesungguhnya aksi bom syahid seperti ini adalah boleh, dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh para fuqaha” (http://www.islamway.com/ara/articles.php?article id=84)

    7. Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Alwan (hafal 9 kitab hadist) berkata:

    “Adapun dalil-dalil tentang bolehnya aksi bom syahid ini, maka jumlahnya sangat banyak, dan sebagiannya telah saya sebutkan di depan.” (http://mojaheedon.org/news/showTopic.php?topicid+589)

    8. DR. Aidh Al Qarni

    Beliau mengatakan aksi ini adalah bagian dari jihad dan pelakunya insha Allah mati syahid di sisi Allah. (Dalam silaturrahmi bersama Pustaka Al Kautsar di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, tanggal 5 Maret 2006)

    9. Syaikh Abdullah bin Humaid

    “Alhamdulillah, sesungguhnya aksi individu seorang muslim yang membawa seperangkat bahan peledak, kemudian dia menyusup ke dalam barisan musuh dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia sadar bahwa dia adalah orang yang pertama kali terbunuh, saya katakan: bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah termasuk bentuk jihad yang disyariatkan” (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hlm. 100-101)

    10. Majelis Ulama Indonesia

    Dalam artikel berjudul “MUI Dukung Aksi Bom Syahid,” Majelis Ulama Indonesia memfatwakan: “Jadi seperti yang terjadi di Palestina kita dukung karena merupakan bentuk perlawanan di daerah yang dilanda perang. Tetapi bukan yang di Bali atau di Hotel Marriot karena Indonesia adalah negara dakwah.”(www.Tempointeraktif.com)

    11. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    “Melakukan aksi meledakkan diri sendiri dalam peperangan (di tengah-tengah musuh), berbeda dengan bunuh diri. Kita juga memiliki pejuang yang pernah melakukan aksi bom syahid ini, yakni Mohammad Thoha yang meledakkan tempat penyimpanan amunisi Belanda di Bandung selatan.” (www.mediaindo.co.id)

    12. Rabithah Ulama Filisthin (Persatuan Ulama Palestina)

    ”Sesungguhnya aksi-aksi bom syahid ini merupakan jihad fi sabilillah. Sebab dalam aksi tersebut terdapat perlawanan yang sangat sengit terhadap musuh kita Israel. Aksi tersebut bisa membunuh, melukai, dan menyusupkan rasa takut yang amat sangat serta gentar dalam hati mereka” (www.palestinianforum.net)

    13. Front Ulama Al Azhar Mesir

    ”…Bagaimana mungkin Allah akan menyamakan antara orang yang mati mempertahankan haknya dengan orang yang mati bunuh diri karena putus asa dari rahmat Allah; orang yang hilang harapan dari Tuhannya karena membenci hidupnya? Sesungguhnya orang yang pertama (pelaku bom syahid) adalah mati syahid, …” (Al Amaliyat Al Istishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 100-101)

    14. Para Ulama Yordania

    “Bahwa sesungguhnya aksi bom syahid ini adalah disyariatkan dan merupakan jihad, maka dia mendapatkan kedudukan sebagaimana para syuhada di sisi Allah.” (Al Amaliyat Al Istishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 98-99)

    Data-data kemenangan dari aksi bom syahid

    1. 11 November 1982, pusat kendali militer di kota Shur, Libanon, hancur lebur oleh aksi bom syahid ini. Gedung bertingkat delapan tersebut hancur rata dengan tanah. Tercatat 400 tentara Yahudi tewas, di antaranya 20 orang perwira. (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hal 39-42)
    2. 23 Oktober 1983, sebuah truk berisi dinamit ditabrakkan ke barak angkatan laut Amerika Serikat di Beirut. Aksi bom syahid ini membunuh 241 tentara Amerika. (http://www.irib.com)
    3. 23 Oktober 1983 (di hari yang sama), Libanon. Aksi bom syahid membunuh 58 tentara Prancis. Aksi ini membuat dunia internasional memberi kecaman terhadap Presiden Reagan. Maka pada bulan Februari 1984, tentara AS ditarik mundur dari Libanon. Perlu diketahui bahwa AS, Prancis, Italia, dan Inggris merupakan sekutu sebagai pasukan multinasional yang dikirim ke Libanon. (http://www.irib.com)
    4. Sepanjang Februari-Maret 1996 banyak dilakukan aksi bom syahid sebagai bentuk pembalasan atas terbunuhnya Yahya Ayyash. Aksi ini membunuh 60 zionis Israel. Selain itu, DR. Abu Musa Marzuq (Kepala Biro Politik HAMAS) dan Syeikh Ahmad Yassin dibebaskan dari penjara Israel. Perdana Mentri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan ia takut akan terjadi lagi bom-bom syahid lainnya jika Ahmad Yassin tak dilepas. (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hal 39-42)
    5. 31 Juli 1997, aksi bom syahid membunuh 13 orang Yahudi dan melukai 160 orang di pusat perniagaan Al-Quds. (Al Amaliyat Al Istishadiyah fi Al Mizan Al Fiqhiy, hal 39-42)
    6. 7 Mei 2002, aksi bom syahid menghancurkan klub billiard di Israel tengah. 15 orang Yahudi tewas. (http://www.freelists.com)
    7. 18 Juni 2002, aksi bom syahid dilakukan di sebuah bis di Yerusalem. Hal ini membunuh 18 orang dan melukai puluhan lainnya. (http://www.voanews.com)
    8. 31 Agustus 2004, aksi bom syahid memporak-porandakan dua bus penumpang Israel di kota Beersheva, Israel. 16 Yahudi tewas. (http://swaramuslim.net)
    9. 17 April 2006, aksi bom syahid menewaskan 9 orang Yahudi dan 50-an lainnya luka-luka. Ini terjadi di Tel Aviv, ibukota Israel. (http://www.bbc.co.uk)

    Bagaimana jika aksi bom ini memakan korban orang muslim yang berada di sekitarnya

    At Tatarus adalah istilah bagi kaum muslimin yang disandera oleh kaum kafir dan dijadikan perisai agar mujahidin ragu untuk menyerang kaum kafir tersebut.

    Imam Al Qurthubi berkata:

    “Diperbolehkan membunuh orang Islam yang dijadikan tameng hidup, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat, Insya Allah. Yang demikian itu jika pembunuhan itu terdapat maslahat dharuriyah, kulliyah, dan qhatiyah.” (Tafsir Al Qurthubi, 16/562)

    Ibnu Taimiyah berkata:

    “Sesungguhnya para imam telah bersepakat bahwa jika kaum kafirin menjadikan kaum muslimin sebagai perisai hidup dan kaum muslimin (yang berjihad) khawatir jika tameng hidup itu tak disingkirkan, maka diperbolehkan membidik tameng hidup tersebut dengan niat memerangi kaum kaffir.” (Majmu Fatawa, 28/538-539)

    Dua ulama di atas memfatwakan hal yang demikian setelah menyimak hadist Rasulullah. Aisyah berkata, “Nabi bersabda: ‘Sepasukan tentara hendak memerangi ka’bah, ketika mereka berada di Biida (suatu tempat yang terletak antara Mekkah dan Madinah), mereka ditenggelamkan oleh Allah mulai dari pasukan paling depan hingga pasukan paling belakang.’ Aisyah bertanya, bagaimana bisa dari depan sampai belakang ditenggelamkan sedangkan di tengah ada penduduk yang tidak termasuk dalam pasukan itu? Rasulullah menjawab: ‘Mereka di tenggelamkan dari depan sampai belakang, dan akan dibangkitkan di hari kiamat sesuai dengan niat mereka.’” (Bukhari)

    Ibnu Quddamah pun memfatwakan hal yang serupa:

    “Boleh menembak mereka bila perang sedang terjadi, karena meninggalkannya menyebabkan jihad menjadi terbengkalai.” (Al Mughni, 8/450)

    Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan…

    Allah Ta’ala knows best

    • tauhidullah 28 Juli 2011 pada 3:45 PM #

      AHLAN… sekarang ini banyak anak2 muda mulai tidak percaya kepada ulamanya, apalagi karena terhasut oleh semangat2 yang menawan seakan jihad fi sabilillah benaran padahal mereka tidak sadar bahwa jebakan seta itu dimulai dari yang kasar hingga kepada yang sangat halus. coba bayangkan ulama itu dalam berfatwa kan nggak ngawur mereka itu adalah pewaris para Nabi yang bertanggung jawab membentengi ummat in dari kesalahan, agar senantiasa mendapat ridho ALlah dalam setiap amalnya…. yaah kalau aku ikut ulama aja …..

  2. kevin 31 Juli 2011 pada 1:04 PM #

    USTADZ….’AFWAN YA.kiranya ustadz sudi berbaik hati dan berlapang dada dan tidak menanggapinya dengan emosi.’afwan ustadz.saya memang ingusan,bau kencur dan tidak se’alim ustadz ridwan aziz.tapi apakah iman,taqwa dan ilmu seseorang harus diukur dengan umur?maaf….
    maksud saya agar ustadz kiranya sudi meneliti kembali,kemudian ustadz buat kesimpulan berdasarkan alqur’an dan sunnah baru ustadz tanggapi lagi apa kiranya yang salah dan berentangan dengan alqur’an dan sunnah dari comment saya di atas.bukannya kita harus ittiba'(ikut)alqur’an dan sunnah ya ustadz?bukankah kita dilarang untuk taqlid buta pada ulama’ tanpa landasan alqur’an dan sunnah?coba ustadz baca lagi surah At Taubah: 31 tentang ‘adi ibnu hatim,“Mereka menjadikan alim ulama dan para pendetanya sebagai tuhan-tuhan selain Allah”saya kira ustadzlah yang lebih tau tentang tafsirnya ibnu katsir,na’udzubillah…kalau saya sampai tidak percaya pada ulama’.saya masih percaya pada ustadz ridwan,buktinya saya selalu setia membaca blog dan majalah tauhidullah.dan alhamdulillah disanalah saya banyak menggali ilmu.
    comment saya diatas itupun bukan dari rekayasa saya pribadi,diatas juga disebutkan ada fatwa syaikh ALBANI(rahimahullah)dan waktu saya buka-buka majalah tahidullah edisi 29 dan ternyata secara tidak sengaja juga saya menemukan bacaan yang bertentangan tentang fatwa ulama’ saudi tersebut(yang menyebutkan fenomena pengeboman buah pemikiran khowarij)dan saya ajukan di blog ini.maaf mungkin karna saya kurang sopan waktu memposting comment di atas.
    saya bukan golongan S atau J atau N,dan saya tidak akan taqlid buta ataupun benci pada ulama’ Z atau L atau H,yang pentingkan isinya bukan luarnya,mana yang lebih shohih dalilnya berdasarkan alqur’an dan sunnah PASTI akan saya ikuti.wallahul muwafiq ila aqwamitthoriq.
    sekali lagi ma’afkan saya ustadz dan mohon bimbingan.

  3. ridwan 14 Agustus 2011 pada 4:22 PM #

    AFWAN
    anda lebih percaya kepada orang-orang yang memang saat sedang teracuni oleh subhat daripada percaya kepada ulama. dan sering kalian mengambil fatwa ulama itu bukan untuk di taati melainkan untuk melegitimasi keinginan shg perkataan ulama itupu hanya di ambil seoptong-sepotong sehingga seakan mereka membela anda padahal ulama itu juga yang membantah hujjah anda. silahkan anda cermati perkataan Syeh nashir di atas apakah kiranya sejalan beneran dengan jalan pikiran anda?
    kalo ana sederhana saja ketika ada gejolak seperti sekarang ini gembar gembor jihad tapi sangat-sangat ngawor (tahawwur), ana hanya melihat bagaimana komentar ulama AHLUSSUNNAH ketika mereka telah mengeluarkan hujjahnya yang terang dari AlQur’an dan Assunnah, akan kebolehan dan tidaknya suatu perkara, maka disitulah ana TAWAQQUF karena mereka warotsatul anbiya’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: