Australia Mengubah Paradigma Islamofobia

4 Apr

 

Fenomena Islamofobia terus berlangsung di negara-negara sekuler Barat pasca peristiwa 11 September 2001.

Bahkan di Eropa, fenomena ini dirasakan bertambah marak akhir-akhir ini dengan munculnya partai-partai kanan jauh yang sengaja menghembuskan sentimen anti-Islam dalam kampanyenya. Partai-partai ini pun semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat. Namun di Australia, salah satu negara sekuler di belahan bumi Selatan, fenomena yang sama tak berlangsung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh sejumlah pemuda Muslim Indonesia yang tergabung dalam Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia atau Muslim Exchange Program (MEP) 2011. Selama beberapa hari mereka melakukan kunjungan di Negeri Kangguru dan berkesempatan melihat langsung kehidupan masyarakat di sana dan berdialog dengan para tokoh Muslim mulai dari kalangan cendekiawan, akademisi, imam, hingga artis. Muzakkir, salah satu peserta program tersebut, menuturkan kisahnya kepada Republika.co.id. Berikut laporannya: Banyak keluarga muslim di Indonesia yang sangat khawatir apabila ada anggota keluarga mereka yang hendak bepergian ke negara minoritas Muslim. Dari bayangan susahnya mencari makanan halal, kesulitan untuk menemukan tempat shalat sampai kekhawatiran akan tekanan masyarakat terhadap Muslim yang menampilkan simbol-simbol keislamannya seperti menggunakan jubah dan berjanggut bagi laki-laki serta menutup hijab atau menggunakan jilbab bagi perempuan. Australia, salah satu negara sekuler, berhasil merubah paradigma itu. Paling tidak, itulah satu kesan yang kami dapatkan selama beberapa hari kunjungan kami di Negeri Kangguru ini sebagai salah satu duta tokoh Muslim muda Indonesia yang berkesempatan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat di sini dan berdialog dengan para tokoh Muslim dari kalangan cendekiawan, akademisi, imam, artis, hingga beberapa pemeluk Islam lainnya. Sebagai kaum minoritas yang berjumlah kurang dari 2% jumlah masyarakat Australia, umat Islam diberikan kesempatan yang sama dengan kaum mayoritas untuk mengimplementasikan nilai-nilai keislaman yang mereka pahami dalam kehidupan sehari-hari. Ismail, salah satu Imam yang kami temui, mengatakan bahwa pemerintah Australia sangat mendukung umat Islam untuk mengimplementasikan pemahaman mereka terhadap Islam dalam aktivitas sehari-hari. Bahkan dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh umat Islam, pemerintah Autralia memberikan dukungannya dalam bentuk dana. Bagi Ismail, yang merupakan imam di mesjid Albania, kalau pun ada umat Islam yang merasa hidup dalam keterbatasan ruang dan gerak, itu disebabkan oleh mentalitas mereka sendiri yang malas bersilaturrahim dan cenderung menutup diri. Ketika bertemu dengan komunitas Muslim Indonesia di Westall, Melbourne, kami semakin mendapatkan bukti bahwa pemerintah Australia sangat memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan kebebasan mengimplementasikan nilai-nilai keislaman yang mereka yakini. Di tempat ini, komunitas Muslim Indonesia memiliki sebuah masjid yang sangat representatif yang digunakan tidak hanya untuk ibadah shalat, tetapi juga untuk melakukan majelis ta’lim, pembelajaran baca tulis Alquran, hingga acara akad nikah atau pernikahan anggota Muslim Indonesia yang ada di Australia. Mulyoto Pangestu, salah satu jamaah dan penggagas komunitas Muslim Indonesia, menyatakan bahwa proses pembangunan masjid untuk komunitas Muslim Indonesia relatif sangat mudah dan hampir tidak ada hambatan. Mulai dari pembelian rumah hingga urusan izin pembangunan didapatkan dengan mudah karena persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah berhasil mereka penuhi. Di bidang pendidikan, pemerintah Australia memberikan kesempatan masyarakat Muslim untuk mendirikan sekolah islam dari tingkat SD hingga SMA. Salah satu yang sangat terkenal adalah Minaret Islamic School yang terletak di Springvale. Di sekolah Islam swatsa unggulan ini, siswa-siswinya tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga kalangan non-Muslim. Tentu aturan yang diberlakukan untuk siswi non-Muslim, termasuk guru perempuan non-Muslim adalah wajib menggunakan jilbab atau hijab sebagai seragam sekolah tersebut. Dalam bidang kurikulum pengajaran, Minaret School mengintegrasikan kurikulum nasional Australia dengan kurikulum agama Islam. Dengan integrasi kurikulum tersebut, lulusan siswa-siswi Minaret dapat diterima dengan mudah di universitas-universitas ternama di Australia, seperti ANU, Melbourne University, Monash University dan lain lain. Hyder Gulam, President Islamic Council of Victoria, sebuah organisasi yang membawahi sekitar 40 komunitas Muslim di Victoria, menjelaskan bahwa bagi umat Muslim di Australia, menjadi minoritas bukan sebuah hambatan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Dengan keberagamaan masyarakat yang multikultur dan berasal dari berbagai negara seperti Turki, Albania, Mesir, Indonesia dan negara-negara lainnya, tantangan bagi umat Islam di Australia adalah bagaimana menyatukan persepsi keislaman yang berbeda-beda untuk menyatu dalam pemahaman yang sama untuk memberikan cotoh teladan kepada masyarakat non-Muslim bahwa masyarakat Muslim adalah mayarakat yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi untuk bisa hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya. Profesor Tim Lindsey, Ketua Australia Indonesia Institute (AII), institusi yang menyelenggarakan program MEP, menyatakan bahwa program ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman yang sama antara pemuda Muslim indonesia dan Australia tentang bagaimana Islam di kedua negara diimplementasikan oleh pemeluknya, dan bagaimana peran pemerintah dalam memberikan dukungan kepada umat Islam di kedua negara tersebut untuk mempraktekkan nilai-nilai keislaman mereka dalam kehidupan sehari-sehari. Dengan diselenggarakannya program ini, tentu saja diharapkan akan terjadi peningkatan hubungan bilateral antara kedua negara dalam segala aspek.(rpblk).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: