SYI’AH ITU SESAT?

14 Feb

PERNYATAAN PARA ULAMA ISLAM TENTANG SYI’AH RAFIDHAH

Ditulis pada Juli 16, 2007 oleh haulasyiah

 

Syi’ah rafidhah adalah kelompok sesat yang sangat jauh dari kebenaran, dekat kepada kekufuran. Ini semua akan nampak jelas ketika kita paham siapa sebenarnya syi’ah rafidhah! Tentang aqidah mereka sebagiannya telah kita singgung pada edisi-edisi yang lalu. Tidak sampai disitu, mereka masih memiliki sekian aqidah-aqidah yang lebih para dan mengerikan, aqidah yang tidak pernah di anut oleh seorang pun sebelum mereka. Percaya atau tidak ini adalah kenyataan yang telah diabadikan di dalam karya tulis mereka, maka tidak heran jika para ulama’ islam mengkafirkan dan menjuluki mereka dengan julukan yang tidak pernah diberikan kepada siapapun. Untuk lebih jelasnya langsung saja kita baca bersama dengan mata dan hati terbuka. Semoga kita dapat memetik faidah darinya:<!–[if !supportEmptyParas]–><!–[endif]–>

‘Alqamah bin Qais An-Nakha’i rahimahullah (62 H):
“Sungguh syi’ah telah berlebihan terhadap Ali sebagaimana nashara berlebihan terhadap ‘Isa bin Maryam”.

‘Amir Asy-Sya’bi rahimahullah (105 H): -beliau termasuk manusia yang paling tahu tentang mereka-
“Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu dari syi’ah” ”.

Beliau juga berkata: “Saya peringatkan kalian dari hawa nafsu yang menyesatkan dan dari kejelekan rafidhah, karena diantara mereka ada seorang yahudi yang berpura-pura masuk islam untuk menghidupkan kesesatan mereka sebagaimana Baulus bin Syamil (atau disebut juga dengan Paulus-pen) seorang raja Yahudi yang berpura-pura masuk agama nashara untuk menghidupkan kesesatan mereka.” Kemudian beliau berkata: “Mereka tidak masuk ke dalam islam untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk menghancurkan islam”.

Thalhah bin Musharrif rahimahullah (112):
“ Rafidhah tidak boleh dinikahi wanitanya dan tidak boleh dimakan sembelihannya, karena mereka telah murtad”. (Al Ibanah Ash-Shughrah hal.161)

Mis’ar bin Kidam rahimahullah (155 H):
Al-Imam Al-Lalika’i meriwayatkan: “bahwa seorang rafidhah menemuinya dan berbicara beberapa kalimat … Maka berkata Mis’ar bin Kidam: “Berpalinglah dariku sesungguhnya engkau adalah syaithan”.

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah (161 H):
Dari Muhammad bin Yusuf Al-Firyabi dia berkata: “Aku mendengar Sufyan ditanya tentang  hukum orang yang mencela Abu Bakar dan ‘Umar? Sufyan menjawab: “Dia telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung” orang tersebut bertanya lagi: “Apakah kita menshalatinya (jika dia mati)?” Sufyan menjawab: “Tidak, tidak ada kemulian” orang tersebut berkata: “Maka manusia mengerumuninya sampai mereka menghalangi antara aku dan dia, maka aku bertanya kepada orang yang dekat dengannya: “Apa yang dia katakan?” dia menjawab: “Sufyan berkata: lailahaillallah, apa yang akan kita lakukan (terhadap orang rafidhi yang mati ini)? Jangan kalian sentuh dia dengan tangan-tangan kalian, angkat dia dengan kayu sampai kalian memasukkannya ke dalam kuburnya”.

Al-Imam Malik bin Anas radhiallahu anhu (179):
Berkata Asyhab bin Abdul ‘Aziz: “Al Imam Malik ditanya tentang seorang yang berpemikiran rafidhah?” beliau menjawab: “Jangan kamu berbicara dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan hadits dari mereka karena mereka adalah pendusta”.

Al-Qadhi Abu Yusuf rahimahullah (182 H):
“Aku tidak akan shalat di belakang seorang yang berpemikiran jahmiyah, rafidhah dan qadariyah”.

‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (198 H):
“Keduanya adalah agama lain, yaitu: “Jahmiyah dan Rafidhah”.

Al-Imam Asy-Syafi’I rahimahullah (204 H):
“Aku tidak pernah melihat dari para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta di dalam ucapan, dan bersaksi dengan saksi palsu dari rafidhah”.

Yazid bin Harun rahimahullah (206 H):
“Boleh menulis hadits dari ahlul bid’ah yang tidak mengajak kepada kebid’ahannya kecuali rafidhah karena mereka adalah pendusta”.

Masih banyak sekali pernyataan para ulama’ tentang syi’ah rafidhah yang insya Allah akan kita lanjutkan pada edisi-edisi mendatang. Wallahu a’lam

Dinukil dari kitab: الانتصار للصحب والآل من افتراءات السماوي الضال

Berkata syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah rahmatan wasi’ah: “Ahlul ilmi telah sepakat secara nukilan, riwayat dan sanad bahwa rafidhah adalah kelompok yang paling berdusta dan kedustaan mereka (telah dikenal) sejak dahulu. Oleh karenanya para ulama’ islam mengetahui keunggulan mereka dengan banyaknya berdusta.”

Berkata Asyhab bin Abdul ‘Aziz: “Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang rafidhah maka beliau menjawab: jangan kamu ajak bicara mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka karena mereka adalah pendusta.” Beliau juga berkata: “siapa yang berani mencela shahabat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak ada bagian baginya dalam islam.”

Berkata Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah: ”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari keutamaan Allah (ikhlas) dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (telah disebutkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (QS. Al-Fath:29)
Beliau berkata: Dari ayat ini Imam Malik rahimahullah berpendapat dalam satu riwayatnya tentang kafirnya rawafidh (jamak rafidhah), yaitu orang-orang yang membenci para shahabat ridhwanullah ‘alaihim ajma’in. (Imam Malik) berkata: “karena mereka (rafidhah) jengkel dengan para shahabat dan barang siapa yang merasa jengkel dengan para shahabat maka di hukumi kafir dengan ayat ini.”

Berkata Imam Qurthubi: “Betapa indahnya perkataan Imam Malik (diatas) dan sungguh benar penafsiran beliau. Maka barangsiapa yang mencari-cari kekurangan salah seorang mereka atau mencela riwayatnya sungguh dia telah membantah Allah, rabbul alamin dan membatalkan syari’at kaum muslimin.” (Ushul Madzhabi Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsa Asyariyyah karya Dr. Nashir Al-Qafari 3/1250).

Berkata Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Harmalah, dia berkata: aku mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih berdusta dari rafidhah.”

Berkata Ma’mul bin Ahab, “Aku mendengar Yazid bin Harun berkata: “Boleh menulis (meriwayatkan hadits) dari setiap pelaku bid’ah selama tidak menyeruh (kepada kebid’ahannya) kecuali rafidhah karena mereka pendusta.”

Berkata Muhammad bin Sa’id Al-Ashbahani: “Aku mendengar Syarik berkata: “Ambillah ilmu dari setiap orang yang kamu jumpai kecuali rafidhah karena mereka memalsukan hadits kemudian menjadikkan (hadits palsu itu) sebagai agama.” Syarik diatas adalah bin Abdillah, Qodhi Kufah.

Berkata Mu’awiyah: “Aku mendengar A’masy berkata: “aku menjumpai sekumpulan manusia, tidaklah mereka dijuluki kecuali sebagai pendusta.” Yakni pengikut Mughiroh bin Sa’id rafidhi (seorang rafidhah) kadzdzab (pendusta) sebagaimana yang disifati Adz-Dzahabi. (Minhajus Sunnah karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah 1/55-60)

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, aku pernah bertanya kepada bapakku (yakni, Ahmad bin Hanbal) tentang rafidhah. Maka beliau menjawab: “(mereka adalah) orang yang mencela atau menghina Abu Bakar dan Umar.”. beliau juga pernah ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, maka beliau menjawab: “cintailah keduanya dan berlepas dirilah dari siapa saja yang membenci keduanya.” (Al Masail war Rasail Al Marwiyah ‘anil Imam Ahmad bin Hanbal karya Abdul Ilah bin Sulaiman Al Ahmadi, 2/357). Dari dua pendapat Imam Ahmad diatas dengan jelas memerintahkan kita untuk berlepas diri dari rafidhah karena mereka membenci Abu Bakar dan Umar.

Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (yakni, Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah. Beliau menjawab: “Aku tidak memandangnya dalam islam.” (As Sunnah karya Al Khallal, 3/493). Sangat jelas fatwa Imam Ahmad tentang kafirnya rafidhah.

Al Khallal juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Al Firyabi, bahwa ada seorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Maka dia menjawab: “Kafir” kemudian ditanya lagi: “Apakah (jika dia mati) di shalati?” beliau menjawab: ”Tidak” (As Sunnah karya Al Khallal, 3/499).

Perhatikanlah, para ulama’ yang hidup di jaman yang berbeda dan negeri yang berjauhan tidak ada diantara mereka komunikasi tetapi tetap pendapat mereka tentang syi’ah rafidhah adalah satu. Ini semua menunjukkan bahwa rafidhah adalah kelompok yang sejak awal munculnya sudah memiliki kelebihan yang menonjol yaitu kadzdzab, pendusta.

• Perlu diketahui bahwa syi’ah terpecah menjadi beberapa golongan. Sebagiannya lebih parah dari sebagian yang lain. Diantaranya adalah, Imamiyyah, rafidhah, Jakfariyyah, Zaidiyyah dll. Maka setiap rafidhah adalah syi’ah dan tidak setiap syi’ah itu rafidhah.
Jadi tidak perlu digubris kalau ada yang mengatakan bahwa rafidhah itu bukan syi’ah.
Akan tetapi setiap mereka memiliki ciri khas tersendiri yang dengan itu kita bisa membedakan mereka satu dengan yang lainnya.
Diantara ciri pokok syi’ah rafidhah sebagaimana yang disebutkan Imam Ahmad diatas, ketika beliau ditanya siapa yang dimaksud rafidhah? Beliau menjawab: ”Yaitu mereka yang memusuhi Abu Bakar dan Umar.”

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari bahaya syi’ah rafidhah.

Berkata Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm rahimahullah tentang rafidhah, ketika beliau berdebat dengan orang-orang nashara, dan mereka (orang-orang nasharah) menghadirkan kitab-kitab rafidhah untuk membantah beliau. Beliaupun menjawab “Sesungguhnya rafidhah bukan bagian dari muslimin, dan perkataan mereka bukanlah hujjah bagi agama ini. Akan tetapi rafidhah adalah kelompoj yang muncul pertama kali, dua puluh lima tahun setelah wafatnya nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Beliau juga berkata: “(rafidhah) adalah kelompok yang berjalan sealiran dengan Yahudi dan Nashara dalam hal dusta dan kufur.”. (Al-Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/78 )
perhatikanlah pernyataan Ibnu Hazem diatas, beliau termasuk ulama’ yang paling tahu tentang rafidhah. Walaupun beliau hidup jauh dari ulama’ yang telah kami sebutkan pada bagian pertama dan kedua lalu toh beliau memiliki pendapat yang sama dengan mereka. Beliau mengeluarkan syi’ah rafidhah dari bingkaian islam dan menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nashara.

Berkata Imam Abu Zur’ah Ar-Razi: “Jika engkau mendapati seseorang mencela para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa ia seorang Zindiq (yaitu seorang yang berpura-pura masuk islam dengan niatan menghancurkan islam dari dalam).”
Renungkanlah fatwa Imam Abu Zur’ah diatas, beliau menjuluki orang-orang yang membenci shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai zindiq, mengapa demikian? Ya, karena melalui merekalah islam ini sampai kepada kita, jika para shahabat di cela bahkan sampai di kafirkan berarti sama saja kita menggugurkan agama islam yang mulia ini.

Dewan Fatwa Arab Saudi yang tergabung dalam Lajnah Daimah lil Buhutsil Ilmiyah wal Ifta’ pernah ditanya dengan sebuah pertanyaan dari seorang yang tinggal di perbatasan bagian selatan yang bertetangga dengan markaz Iraq, disana terdapat sekelompok Syi’ah Jakfariyyah, diantara mereka (yakni kaum muslimin disana) ada yang enggan memakan sembelihan mereka (Syi’ah Jakfariyah) diantara mereka juga ada yang memakannya. Penanya berkata: “Apakah halal bagi kami memakan sembelihan mereka? Perlu diketahui bahwa mereka selalu berdo’a (menuhankan) Ali, Hasan, Husein, dan semua imam-imam mereka ketika waktu sempit dan lapang.
Jawab:
Segala puji hanya milik Allah semata, shalawat dan salam kita panjatkan kepada rasul, keluarga dan para shahabatnya… waba’du:
Jika memang keadaannya seperti yang ditanyakan diatas bahwa jama’ah yang tergabung dalam Syi’ah Ja’fariyah itu berdo’a kepada Ali, Hasan, Husein dan imam-imam mereka maka mereka musyrik, murtad (keluar) dari bingkaian islam –wal-’iyadzu billah- tidak boleh memakan sembelihan mereka, karena (sembelihan merek itu) adalah bangkai walaupun mereka menyebut nama Allah

Lajnah daimah
Diketuai oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz
Wakil: Syaikh Abdurrazaq Afifi
Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudyan dan Syaikh Abdullah Qu’ud

(Fatawa Lajnah Daimah lil Ifta’, 8/264)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: