manisnya iman IV

17 Okt

Manisnya Iman [IV]

Iman dengan kapasitas ma’nanya yang bernuansa pembenaran adanya Tuhan Allah Subahanahu Wata’ala, yang menjadi sebab terangkatnya seorang manusia menjadi seorang hamba yang diakui sebagai hamba.

Yang menjadi sebab terpujinya kehidupan seorang manusia, dan menjadi sebab seorang manusia menggapai ridhoNya, dan menjadikan seorang manusia dibebaskan dari JAHANNAM, meski keberadaannya hanyalah sebesar biji atom atau yang lebih rendah darinya, ia adalah merupakan harta manusia yang paling berharga daripada yang lainnya.

APA YANG MENJADI SEBAB MAHALNYA IMAN

Seseorang yang diberi kekayaan melimpah ruah, kekuasaan yang amat luas, dan kenikmatan yang paling tinggi didunia ini, namun pada dirinya tidak ada iman sedikitpun, maka harta yang melimpah ruah dan kenikmatan yang paling tinggi itu tidak akan bermanfaat sama sekali bagi dirinya, karena beberapa hal:

–          Amal sholih berupa apapun yang diusahakannya tidak diterima disisi Allah Subhanahu Wata’ala, karena adanya iman adalah merupakan syarat diterimanya amal.

–          Kelak diakhirat akan dimasukkan keneraka dan untuk selama-lamanya karena tidak ada iman pada dirinya.

–          Adanya iman pada diri seseorang seberapapun besar kecilnya adalah merupakan tanda perwaliannya dengan Allah Subhanahu Wata’ala dan menyebabkan keluarnya dari neraka.

Maka sudah selayaknya kita berusaha mencapai ketinggihan iman dalam rangka meningkatkan kuwalitas diri kita dihadapan Tuhan kita.

IMAN ADALAH MERUPAKAN SYARAT DITERIMANYA AMAL

Seagaimana firman Allah Ta’ala:  (Al-Kahfi: 110)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Allah Ta’ala berfirman: (Az-Zumr: 65)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65)

65- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

ORANG-ORANG KAFIR TIDAK DITERIMA AMALNYA

Allah Ta’ala berfirman: (An-Nur: 39)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

39- Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: (Al-Ma’idah:36)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari adzab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh adzab yang pedih.

IMAN ADALAH PENYEBAB KELUAR DARI NERAKA

Adapun seseorang yang masih ada harapan akan keluar dari neraka, yaitu apabila ada pada dirinya keimanan meskipun hanya sebiji debu, bahkan  meski yang lebih kecil dari itu.

Sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِي، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيْثِ الشَّفَاعَةِ الطَّوِيْلِ، وَفِيْهِ: فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: “اِرْجِعُوْا، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَأَخْرِجُوْهُ مِنَ النَّارِ”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam dalam hadits yang sangat panjang. (Dan padanya): “Maka Allah Azza Wajalla berfirman (kepada para pemberi syafaat): “Kembalilah, maka barangsiapa mendapatkan seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari keimanan, maka keluarkanlah dia dari neraka”.

Dalam sebuah lafadz:

“أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ فَأَخْرِجُوْهُ مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا”

“Lebih kecil, lebih kecil, lebih kecil dari biji atom dari keimanan, maka keluarkanlah dia dari neraka. Lalu dikeluarkanlah (darinya) makhluk yang banyak sekali”.

ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُو سَعِيْدٍ: اِقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: { إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا}

Kemudian Abu Sa’id berkata:“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorangpuan walaupun sebesar zarrah (biji atom), dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (An-Nisa :40)

Wahai kaum muslimin!!

Silahkan anda perhatikan dalil-dalil diatas, pasti anda akan mendapatkan perasaan yang mendalam, bahwa iman itu ternyata adalah harta kita yang paling mahal, dan yang paling berharga.

Mungkin diantara manusia ada yang berkehidupan serba cukup, memiliki harta yang melimpah, memiliki kekuasaan yang besar, namun tidak ada didalam hatinya sedikitpun dari iman walau sebesar biji atom, maka tidak ada harapan bagi dirinya untuk keluar dari neraka.

Maka dimanakah letak harga dunia seisinya ini, ketika sesoarang telah merasakan panasnya api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan bebatuan. Ketika Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam ditanya tentang siksa yang paling ringan, beliau menjawab: “Fii dhohdhoohin minan naar” (di dalam neraka yang paling dangkal). Yang panasnya yaitu seseorang hanya disiksa dengan menginjak dua bongkahan batu, namun karena panasnya hingga otaknya mendidih, pada saat itu dia berkata: “Sungguh aku adalah yang paling berat siksanya”.

EMAS DAN PERAK TIDAK BERHARGA

Suatu ketika Allah Ta’ala memanggil seseorang dari ahli neraka yang telah difonis kekal di neraka. Sebagaimana tertuang dalam hadits dibawah ini.

رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُقَالُ لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهِ؟” قَالَ: “فَيَقُوْلُ: نَعَمْ. فَيَقُوْلُ: قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنُ مِنْ ذَلِكَ، قَدْ أَخَذْتُ عَلَيْكَ فِي ظَهْرِ آدَمَ أَلاَّ تُشْرِكَ بِي شَيْئًا، فَأَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تُشْرِكَ بِي”.أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيْحَيْنِ، مِنْ حَدِيْثِ شُعْبَةَ بِهِ.

Imam Ahmad rahimahulloh meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalloohu anhu, dari Rasululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Akan dikatakan kepada seseorang dari ahli neraka kelak pada hari kiamat: “Bagaimana pendapatmu sekiranya bagi kamu segala yang ada dimuka bumi, adakah engkau akan menebusnya dengannya?.

Ia menjawab: “Ya”.

Lalu Allah berfirman: “Padahal Aku telah menghendaki darimu kepada yang lebih mudah dari itu. Padahal Aku telah mengambil (janji) atasmu sejak kamu berada di punggung ADAM, yaitu agar janganlah engkau mensekutukan Aku dengan sesuatu apapun, lalu engkau menolak, kecuali engkau mempersekutukan Aku ”.

ORANG KAFIR MENYADARI PANASNYA API NERAKA

Allah Subhanahu Wata’ala telah mengkisahkan keadaan itu, tatkala mereka telah mencicipi panasnya api neraka, maka mereka berharap untuk bisa kembali ke dunia dan mereka bercita-cita untuk melakukan ketaan yang penuh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, memang hal seperti itu jelas tidak mungkin.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: (Al-An’Am: 27)

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآَيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (27)

  1. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan keadaan orang-orang kafir yaitu tatkala mereka telah berdiri dihadapan api neraka dan telah menyaksikan segala macam jenis siksa yang akan didapatinya, baik dari jenis rantai dan belenggu. Dan mereka telah melihat dengan mata kepala mereka huru hara yang agung itu, lantas mereka berandai-andai seperti yang telah dikisahkan pada ayat diatas.

Mereka berharap jikalau masih ada harapan untuk dikembalikan ke dunia, agar mereka bisa melakukan amal amal sholih dan tidak lagi mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka dan mereka berharap agar termasuk diantara orang-orang yang beriman. Ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi!!.

Saudarku! Apapun alasan kita, apapun usaha kita untuk menolak akan kebenaran akhirat tetap akan sia-sia, dan tidak akan membuahkan apa-apa bagi kita, bahkan sebaliknya, kita akan mendapatkan sangsi dari Allah disebabkan penolakan kita kepada mengimaniNya.

Allah telah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ اَلَّذِيْنَ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَ أَنَا الَّذِي أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ وَ لاَ أُبَالِي فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُ فَاسْتَطْعِمُوْا نِي أَطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّ لَكُمْ وَ آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَزِدْ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَ آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَ آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ اِجْتَمَعُوْا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي وَ أَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ مَا سَأَلَ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْبَحْرُ إِنْ يَغْمِسْ فِيْهِ الْمُخِيْطُ غَمْسَةً وَاحِدَةً يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أَحْفَظُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَ مَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ”. رَوَى الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ

Dari Abi Dzarrin radhiyalloohu anhu: dari Rasulullah Shollalloohu alaihiwsallam, dari Allah Tabaaroka Wata’ala, bahwasanya Ia berfirman: “Wahai para hambaku sesungguhnya kalian senantiasa berbuat kesalahan pada siang dan malam, sedang Aku adalah Dzat Yang Maha mengampuni dosa-dosa dan Aku tidak peduli, maka mintalah kalian ampunan dariku niscaya Aku akan mengampuninya bagi kalian.

Wahai para hambaku! Sesungguhnya kalian semua dalam keadaan lapar kecuali barangsiapa yang aku beri makan, maka mintalah kalian makanan kepadaku niscaya aku beri makan kalian.

Wahai para hambaku! Sesungguhnya kalian semua adalah telanjang, kecuali barangsiapa yang aku beri pakaian, maka mintalah kalian pakaian kepadaku, maka aku beri pakaian kalian.

Wahai para hambaku! Sekiranya (sejak) orang pertama kalian dan orang yang terakhir kalian, (seluruh) manusia kalian dan jin kaian, seluruhnya berada pada ketakwaan satu orang dari kalian, hal itu tidak akan menambah sedikitpun pada kerajaanKu.

Wahai para hambaku! Sekiranya (sejak) orang pertama kalian dan orang yang terakhir kalian, (seluruh) manusia kalian dan jin kaian, seluruhnya berada pada kedurhakaan satu orang dari kalian, hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanKu.

Wahai para hambaku! Sekiranya (sejak) orang pertama kalian dan orang yang terakhir kalian, (seluruh) manusia kalian dan jin kaian, berkumpul di satu tempat, lalu mereka semua meminta kepadaku, lalu aku beri setiap manusia dari mereka akan permintaannya, hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanku, kecuali sekedar seperti terkuranginya lautan jika dicelupkan padanya sehelai benang dengan sekali celupan.

Wahai para hambaku! Sesungguhnya ia hanyalah amal-amal kalian yang aku pelihara atas kalian, maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah Ta’ala, dan barangsipa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia sekali-kali mencela kecuali pada dirinya sendiri”.

Hr. Al-Hakim dan berkata: (ini adalah hadits shohih menurut syarat Syaikhoin dan mereka tidak meriwayatkannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: