PENGERTIAN AHLUSSUNNAH

14 Okt

PENGERTIAN AHLUSSUNNAH

As-Sunnah (السنة) secara bahasa: yaitu At-Thoriiqotu (الطريقة):  jalan.  As-Syiirotu (السيرة): sejarah hidup, baik terpuji keadaannya atau tercela.

Maksudnya, bahwa kebiasaan yang sering dilakukan oleh seseorang seperti suka baca Al-Qur’an, berkata lembut, peramah, pemarah, suka nyanyi, omong kotor, suka mencuri, apapun yang telah menjadi kebiasaan seseorang itulah sunnahnya.

Sehingga adakalanya dikatakan: orang ini sunnahnya baik atau orang ini sunnahnya buruk, tergantung pada nilai apa yang terjadi, demikianlah pengertian As-Sunnah secara bahasa.

Menurut istilah ulama akidah islamiyah:

As-Sunnah secara bahasa dapat dibagi dua:

1- As-Sunnah Al-Hasanah

2- As-Sunnah A-Sayyi’ah

Sunnah hasanah ialah segala sesuatu yang menyangkut perkataan atau perbuatan, dan termasuk diantaranya yang menyangkut masalah watak atau tabiat atau perangai atau akhlak, apabila hal itu baik maka hal itu disebut sunnah hasanah. Tetapi apabila hal itu mengarah kepada kejelekan maka hal itu disebut sunnah sayyi’ah. Demikianlah pengertian as-sunnah. Karena itu kita katakan bahwa langit dan bumi atau alam semesta ini adalah merupakan sunnatullah, karena semuanya adalah diperbuat oleh Allah.

Dalil kata As-Sunnah secara bahasa adalah hadits berikut ini:

عَنْ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَََالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ “. رواه مسلم

Dari Al-Mundzir bin Jarir dari ayahnya berkata: Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan didalam Islam suatu sunnah yang baik, maka baginya (mendapat) pahalanya dan pahala orang-orang (yang ikut) mengamalkannya sesudahnya, tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa melakukan  didalam Islam suatu sunnah yang jelek, maka atasnya dosanya dan dosa orang-orang (yang ikut) mengamalkannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun”. Hr.Muslim

adapun dari Al-Qur’an adalah firman Allah:

$£Jn=sù (#÷rr&u‘ $uZy™ùt/ (#þqä9$s% $¨ZtB#uä «!$$Î/ ¼çny‰÷nur $tRöxÿŸ2ur $yJÎ/ $¨Zä. ¾ÏmÎ/ tûüÏ.Ύô³ãB ÇÑÍÈ óOn=sù à7tƒ öNßgãèxÿZtƒ öNåkß]»yJƒÎ) $£Js9 (#÷rr&u‘ $uZy™ùt/ ( |M¨Yߙ «!$# ÓÉL©9$# ô‰s% ôMn=yz ’Îû ¾Ínϊ$t7Ïã ( uŽÅ£yzur y7Ï9$uZèd tbrãÏÿ»s3ø9$#

84.  Maka tatkala mereka melihat azab kami, mereka berkata: “Kami beriman Hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang Telah kami persekutukan dengan Allah”.

85.  Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka Telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir”. Al-Mu;min: 84-85

Dan firman Allah:

$¨B tb%x. ’n?tã ÄcÓÉ<¨Y9$# ô`ÏB 8ltym $yJŠÏù uÚtsù ª!$# ¼çms9 ( sp¨Zߙ «!$# ’Îû tûïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB ã@ö6s% 4 tb%x.ur ãøBr& «!$# #Y‘y‰s% #·‘r߉ø)¨B ÇÌÑÈ šúïÏ%©!$# tbqäóÏk=t7ムÏM»n=»y™Í‘ «!$# ¼çmtRöqt±øƒs†ur Ÿwur tböqt±øƒs† #´‰tnr& žwÎ) ©!$# 3 4’sx.ur «!$$Î/ $Y7ŠÅ¡ym ÇÌÒÈ

38.  Tidak ada suatu keberatanpun atas nabi tentang apa yang Telah ditetapkan Allah baginya. (Allah Telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang Telah berlalu dahulu . dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.  (39)  (yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan”. AL-Ahzab: 38-39

As-Sunnah secara istilah ulama akidah islamiyah ialah: Petunjuk yang berjalan diatasnya Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam dan para sahabatnya, baik dalam hal ilmu, keyakinan, ucapan dan perbuatan.

Inilah As-Sunnah yang wajib diikuti oleh semua ummatnya, yang akan menjadi terpuji ahlinya (pelakunya), dan akan tercela siapapun yang menyelisihinya.

Maka seseorang dikenal sebagai Ahlussunnah, ya’ni karena dia selalu menjalani agamanya dan kehidupannya diatas garis sunnah (ajaran) yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam yang lurus dan terpuji. Dan menghindarkan diri dari perkara-perkara yang tidak diajarkan olehnya.

Mereka senantiasa mendasarkan segala aspek keagamaannya diatas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah misalnya dalam masalah akidah, ibadah dan muamalah.

Tidaklah mereka berwudu kecuali dengan cara yang telah ada dalam Al-Hadits mulai dari membasuh tangan mereka harus melihat dari sisi ada hadisnya, berkumur, menghisap air kedalam hidung, mambasuh muka, mengusah kepala langsung ke telinga satu kali, membasuh kaki, semua gerakannya harus asli sesuai dengan hadits.

Misalnya haditsnya Humran atau haditsnya Utsman bin Affan –Radhiyalloohu anhuma-, begitu juga cara sholat mereka mulai dari bagaimana adzan dan amalan apasaja yang diperbolehkan sebelum sholat berjama’ah dan sesuadah berjamaah seperti melakukan wiridan, coba anda teliti di kebanyakan masjid atau musholla, maka anda akan temukan puluhan cara atau gaya wiridan dan pijian yang menggambarkan seolah-olah didalam Islam itu tidak ada patokan yang jelas.

Sebagian Ummat Islam dalam beribadah telah banyak melakukan kejahatan dan penyimpangan dari sunnah Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam dengan menambah amalan-amalan sebelum dan sesudah sholat pada apa-apa yang sama sekali tidak berasal dari Rasulullah dan sesungguhnya hal seperti ini adalah samasekali bukan akhlak atau amalan Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, sebab mereka adalah manusia yang paling taat dan paling tahu tentang ajaran Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam . Seperti pujian, kidungan yang disuarakan dengan suara-suara yang keras dengan berbagai macam lagu dan bahasa, ada yang lagunya mirip dangdut, ada yang mirip POP , ada yang mirip Jaipongan, ada yang seperti kentrungan, pokoknya macam-macam deh. Sungguh memalukan!  karena cara ini disamping tidak ada dasarnya baik di Bukhari, Muslim, Abu Dawud,Tirmidzi, Nasa’I , Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Musnad As-Safi’I, Musnad Abu Hanifah, Al-Muawattho’ dan seluruh kitab-kitab hadits manapun bisa anda cek pasti anda tidak akan menemukan.

Juga berarti tidak sopan terhadap Allah Dzat pemilik syari’at ini sendiri. Bagaimana ibadahnya akan hadir dihadapan Allah jika cara pelaksanaannya tidak ada ajarannya. Sunnguh peribadatan orang-orang kafir yang jelas-jelas batil, jauh lebih sopan dalam hal ini. Kebanyakan mereka hanya membatasi suara di dalam ruangan, tidak mengganggu sekitarnya.

Sekali lagi ibadah kepada Allah itu tidak boleh asal-asalan, diperlukan keikhlasan yang tinggi dan sesuai dengan ajaran, dan tetap tidak akan diterima manakala hanya ikhlas saja atau sesuai dengan ajaran saja sehingga benar-benar keduanya dilakukan secara bersamaan.

Saya mohon dari teguran ini jangan ada yang marah tapi silahkan anda jadikan sebagai awal untuk berfikir, sebab kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah.

Mari kita periksa satu persatu seperti bacaan istghfar sesudah sholat, kalau anda benar-benar kembali kepada ajaran, maka istighfar Rasulullah sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ اللهَ ثَلَاثًا وَقَالَ: (أَللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ، رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إِلَّا الْبُخَارِيْ.

وَزَادَ مُسْلِمٌ: قَالَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْاَوْزَاعِي: كَيْفَ الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ يَقُوْلُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ.

Dari Tsauban radhiyallohu anhu berkata: “ Adalah Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam apabila selesai dari sholatnya beliau Istighfar (memohon ampun) kepada Allah tiga kali lalu membaca: “Alloohumma antas Salaam wamingkas Salaam Tabaarokta Yaa Dzal Jalaali Wal-Ikroom”.

Hr. Al-Jama’ah kecuali Bukhari.

Dan Muslim menambahkan: berkata Al-Walid: “Maka aku bertanya kepada Al-Auza’i: “Bagaimana Istighfar?. Ia menjawab:

“Astaghfirullooh, Astaghfirullooh, Astaghfirullooh”.

Saudaraku! Coba anda perhatikan betapa sederhananya istighfar Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam lebih pendek dari yang biasa dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin, sungguh aneh!, karena yang selalu kita dengar hampir di seluruh pelosok nasional jauh berbeda dari aslinya.

Mari sama-sama menghitung berapakah kalimat tambahan dari keasliannya pada lafadz-lafadz berikut ini:

“أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيَّ وَلِمَشَايِخِنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمَنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ”.

“Astaghfirulloohal Adziim lii waliwaa lidayya wa liash-haabil huquuqil waajibaati alayya wa limasyaa

yikhinaa wa lijamii’il muslimiina wal-muslimaat wal-mu’miniina wal-mu’minat al-ahyaa’I minhum wal-amwaat”.

Saudaraku dari sini coba anda teliti, ada berapa tambahan kalimat dari istighfar aslinya. Kami tidak mungkin dibuku ini menerangkan seluruh penyimpangan yang terjadi, namun yang kami tampilkan ini jadikan sebagai contoh untuk menimbang-nimbang yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: