KEUTAMAAN BERDZIKIR

14 Okt

KEUTAMAAN BERDZIKIR

Berdzikir artinya mengingat Allah Ta’ala dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir atau memujinya dengan pepujian yang layak bagiNya di waktu pagi, siang, petang dan malam. Berdzikir kepada Allah bukan hanya berupa kalimat-kalimat thoyyibah, tetapi bisa berupa memikirkan dan mengakui akan kebesarannya dalam segala sesuatu, termasuk berusaha memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –Shollallohu alihi Wasallam- dan mendakwahkannya, semua itu mengantarkan kepada meningkatnya pepujian kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepadaKu, serta jangan ingkar (pada nikmatKu)”. (Al-Baqarah, 2:152).

Dan firmanNya:

“Hai, orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut namaNya)”. (Al-Ahzaab, 33:42).

Dan firmanNya:

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung”. (Al-Ahzaab, 33:35).

Dan firmanNya:

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaanNya), serta tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (Al-A’raaf, 7:205).

Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ”.

“Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati”.

HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari 11/208. Imam Muslim meriwayatkan dengan lafazh sebagai berikut:


“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk dzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk dzikir, laksana orang hidup dengan yang mati”.

(Shahih Muslim 1/539).

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى”.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata: “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi”.

HR. At-Tirmidzi 5/459, Ibnu Majah 2/1245. Lihat pula Shahih Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/316.

Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَة “.

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia ingat Aku.  Jika dia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika dia menyebut namaKu dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”.

HR. Al-Bukhari 8/171 dan Muslim 4/2061. Lafazh hadits ini riwayat Al-Bukhari.


وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ .

Dari Abdullah bin Busr Radhiallahu’anhu, dia berkata: Bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syari’at Islam telah banyak bagiku, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu buat pegangan”. Beliau bersabda: “Tidak hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya).”

HR. At-Tirmidzi 5/458, Ibnu Majah 2/1246, lihat pula dalam Shahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317.

Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

” مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ: الـم حَرْفٌ؛ وَلَـكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْ “.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedang satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif laam miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”

HR. At-Tirmidzi 5/175. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/9 dan Shahih Jaami’ush Shaghiir 5/340.

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ : أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِيْ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ اِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ.

Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar, sedang kami di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah di antara kamu yang senang berangkat pagi pada tiap hari ke Buthhan atau Al-Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya, tanpa mengerjakan dosa atau memutus sanak?” Kami (yang hadir) berkata: “Ya kami senang, wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda: “Apakah seseorang di antara kamu tidak berangkat pagi ke masjid, lalu memahami atau membaca dua ayat Al-Qur’an, hal itu lebih baik baginya daripada dua unta.  Dan (bila memahami atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila memahami atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta), dan demikian dari seluruh bilangan unta.” [6] HR. Muslim 1/553.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ.

“Barangsiapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, pastilah dia mendapatkan hukuman dari Allah dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berdzikir kepada Allah, pastilah mendapatkan hukuman dari Allah.” HR. Abu Dawud 4/264; Shahihul Jaami’ 5/342.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ .

“Apabila suatu kaum duduk di majelis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabinya, pastilah ia menjadi kekurangan dan penyesalan mereka, maka jika Allah menghendaki bisa menyiksa mereka dan jika menghendaki mengampuni mereka[1]”.. Shahih At-Tirmidzi 3/140.

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً “.

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majelis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan hal itu menjadi penyesalan mereka (di hari Kiamat)[2].”
HR. Abu Dawud 4/264, Ahmad 2/389 dan Shahihul Jami’ 5/176.

اَلْاَذْكَارُ وَالْاَدْعِيَّةُ بَعْدَ السَّلَامِ

Dzikir dan do’a setelah salam (II)

Telah datang dari Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- sejumlah dzikir-dzikir dan do’a-do’a sesudah salam, di sunnahkan bagi orang yang melakukan sholat agar mengamalkannya, dan kita sebutkan berikut ini:

1 – عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ اللهَ ثَلَاثًا وَقَالَ: (أَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالاِكْرَامِ(، رواه الجماعة إلا البخاري.

Dari Tsauban –rodhiyallohu anhu- berkata: “Adalah Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- apabila selesai dari mengerjakan sholatnya memohon ampunan kepada Allah sebanyak tiga kali dan membaca: (ALLOHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAM TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL-IKROOM). Hr. Bukhori

*  (اللهم أنت السلام ومنك السلام) السلام الاول اسم من أسماء الله تعالى.والثاني بمعنى السلامة.

*(ALLOHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAAM)

وََزَادَ مُسْلِمٌ: قَالَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْاَوْزَاعِي: كَيْفَ الْاِسْتِغْفَارُ؟ قَالَ يَقُوْلُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ.

Dan Muslim menambahkan: Al-Walid berkata: “Maka aku bertanya kepada Al-Auza’I : “Bagaimanakah Istighfar? Ia menjawab: “Beliau membaca: “ASTAGHFIRULLOH, ASTAGHFIRULLOH, ASTAGHFIRULLOH”.

2 – وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيََدِهِ يَوْمًا ثُمَّ قَالَ: (يَا مُعَاذُ إِنِّي لَاُحِبُّكَ) فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: (بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُوْلُ اللهِ، وَأَنَا أُحِبُّكَ) قَالَ: (أُوْصِيْكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُوْلَ: ) اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.

2- Dari Mu’adz bin Jabal: bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- pada suatu hari memegang tangannya lalu berkata: “Wahai Mu’adz! Sesungguhnya aku mencintaimu”. Maka Mu’adz berkata kepadanya: “Demi engkau sebagai bapak dan ibuku wahai Rasulullah, dan akupun mencintai engkau”. Beliau bersabda: “Aku berwasiat kepada engkau wahai Mua’adz, janganjah engkau tinggalkan setiap selesai sholat yaitu engkau membaca: “ALLOOHUMMA A’INNII ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBAADATIKA”. Hr. Ahmad, Abu Daud, Nasa’I , Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dan beliau berkata: “Hadits ini shohih menurut Syaikhoni”

3 – وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: (كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ فِي دُبُرِ الصَّلَاةِ يَقُوْلُ: (لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، أَهْلَ النِّعْمَةِ وَالْفَضْلِ وَالثَّنَاءِ الْحَسَنِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ). رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي.

3- Dan dari Abdillah bin Zubair ia berkata: “Adalah Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- apabila telah mengucapkan salam pada selesai sholat membaca: “LAA ILAAHA ILLALLOOH, WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH,  LAHUL MULKU, WALAHUL HAMDU, WAHUWA ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR, LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, WALAA NA’BUDU ILLA IYYAAH, AHLAN NI’MATI, WAL-FADHLI, WAS-TSANA’IL HASANI, LAA ILAAHA ILLALLOOH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WALAU KARIHAL KAAFIRUUN). Hr. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i.

4 – وَعَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ: (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قََدِيْرٌ: أَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ). رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُ وَمُسْلِمٌ.

Dan dari Al-Mughirah bin Syu’bah: bahwasanya Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- adalah membaca setiap selesai sholat wajib: “ LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH, LAHUL MULKU, WALAHUL HAMDU, WAHUWA ALAA KULLISYAI’IN QODIIR. ALLOHUMMA LAA MAA NI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU”. Hr. Ahmad, Bukhari dan Muslim

5 – وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَِأَ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ. رَوَاهُ أََحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

5- Dan dari Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- memerintah kepadaku agar aku membaca Al,muawwidzatain (Al-falaq dan An-Nas) setiap selesai sholat”. Hr. Ahmad, Bukhori dan Muslim

6 – وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ) رَوَاهُ النَّسَائِي وَالطَّبَرَانِي.

6- Dari Abi Umamah:

Bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa membaca AYAT KURSI setiap selesai sholat, maka tidak ada yang menghalangi dia masuk kedalam surga kecuali kematian”. Hr. An-Nasa’I dan At-Thobroni

7– وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ فِي ذِمَّةِ اللهِ إِلَى الصَّلاَةِ الاُخْرَى). رَوَاهُ الطَّبَرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

7- Dari Ali –radhiyallohu anhu-:

Bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa membaca AYAT KURSI pada setiap selesai sholat maktubah, maka ia berada pada penjagaan Allah hingga sholat berikutnya”. Hr. Thobaroni dengan sanad yang hasan

8 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ سَبَّحَ اللهَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ تِلْكَ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ. ثُمَّ قَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍْ قَدِيْرٌ، غُفِرَتْ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ.

8- Dari Abu Hurairah: Bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa BERTASBIH kepada Allah setiap selesai sholat, tiga puluh tiga kali. Dan Bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali. Dan BERTAKBIR kepada Allah tiga puluh tiga kali, kemudian membaca sebagai kesempurnaan seratus: “ LAA ILAAHA ILLALLOH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU

WALAHUL HAMDU WAHUWA ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR” maka di ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih lautan”. Hr.Ahmad, Bukhori, Muslim dan Abu Daud


[1] – perintah dzikir disini bukan berarti kemudian lantas mengadakan acara dzikir bersama yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Nabi –Shollallohu alihi Wasallam-, dan berdzikir itu sifatnya relatif, tidak dalam satu bentuk saja sebatas masih berpegangan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

[2] – sama seperti pada nomor satu , dimana pada hadits diatas sama sekali tidak menunjukkan agar dzikiran secara aklamasi, namun ia adalah sekedar menunjukkan pentingnya berdzikir bagi setiap orang dimanapun ia berada, tidak melupakannya pada saat ia berdiri, berjalan, duduk, berbaring atau ditengan suatu majlis. Karena adakalanya seseorang itu dimana ia berada tetap senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dan adakalanya seseorang berada di suatu majlis atau di tempat manapun   tidak mengingat Tuhannya sama sekali, bahkan terkadang terlibat pada pembicaraan yang merugikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: