1 Mar

Jalan Menuju Islam
oleh : Syaikh DR. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd

KENABIAN MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN SEKILAS DARI SEJARAHNYA

Pembahasan tentang diutusnya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam menjadi nabi dan tentang sejarahnya adalah sangat panjang, dan para ulama telah menulis banyak karya-karya secara khusus tentang hal ini. Lembaran-lembaran ini tidak cukup untuk memuat hal tersebut secara panjang-lebar. Sesungguhnya pada alenia-alenia terdahulu telah penulis singgung bahwa risalah Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam adalah risalah pemungkas (penutup) dan bahwa kitab suci yang diturunkan kepadanya yaitu, Al-Qur’an adalah merupakan kitab suci samawi yang terakhir.

Mudah-mudahan pembahasan pada lembaran berikut ini mencakup topik-topik dari sebagian sejarah mulia Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.
DASAR-DASAR AWAL KENABIAN:

Sesungguhnya Allah subhanahu wata’aala telah mempersiapkan banyak persiapan bagi kenabian Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam yang merupakan tanda-tanda bagi kenabian dan kerasulannya. Di antaranya adalah:

Do’a Nabi Ibrahim, khabar gembiranya Nabi Isa ’alaihis salam dan mimpi ibunya, Siti Aminah. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam telah bersabda:

أَنَا دَعْوَةُ إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيْسَى، وَرَأَتْ أُمِّي حِينَ حَمَلَتْ بِي كَأَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُوْرٌ أَضَاءَتْ بَصْرَى مِنْ أَرْضِ الشَّامِ

Artinya: “Aku adalah do’a Nabi Ibrahim, berita gembira Nabi Isa dan ibuku di waktu hamil pernah bermimpi bahwasanya ada cahaya (nur) keluar dari dalam dirinya yang menerangi Bushra di negeri Syam”

Maksud hadits di atas ialah, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Aku adalah realisasi dari do’a Nabi Ibrahim ’alaihis salam dimana ketika ia membangun pondasi-pondasi Ka’bah di Mekkah bersama putranya Ismail, ia berdo’a sebagaimana diinformasikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an:

وَ إِذْ يَرْفَعُ إبراهيم القواعد مِنَ البيت وإسماعيل رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السميع العليم . رَبَّنَا واجعلنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التواب الرحيم . رَبَّنَا وابعث فِيهِمْ رَسُولاً مّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءاياتك وَيُعَلّمُهُمُ الكتاب والحكمة وَيُزَكّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العزيز الحكيم

“Wahai Rabb kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 127-129).

Lalu Allah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim dan Ismail tersebut, dengan diutusnya Nabi terakhir (pemungkas) Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam yang berasal dari keturunannya.

Adapun sabda beliau “dan berita gembiranya Nabi Isa”, maksudnya adalah bahwasanya Nabi Isa ’alaihis salam telah memberitakan akan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul sebagaimana diinformasikan oleh Allah subhanahu wata’aala di dalam Al-Qur’an, seraya berfirman:

وَ إِذْ قَالَ عِيسَى ابن مَرْيَمَ يابنى إسراءيل إِنّى رَسُولُ الله إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التوراة وَمُبَشّراً بِرَسُولٍ يَأْتِى مِن بَعْدِى اسمه أَحْمَدُ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. (Al-Shaff: 6)

Jadi, Isa ’alaihis salam adalah nabi terakhir dari nabi-nabi yang berasal dari anak keturunan Israil, dan tidak ada seorang nabipun (dalam jarak waktu) antara Nabi Isa ’alaihis salam dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Maka dengan demikian, jelaslah bahwa Nabi Isa telah memberi berita gembira akan datangnya seorang nabi sesudahnya yang bernama Ahmad. Ahmad adalah merupakan salah satu dari nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam.

Adapun “Mimpi ibunya”, maksudnya adalah bahwa ibunya pernah bermimpi suatu mimpi yang benar. Di saat ibunya melahirkannya tampak dalam pandangannya cahaya yang menerangi negeri Bushra yang berada di negeri Syam.

Keberadaan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam diutus dari bangsa Arab. Bangsa Arab pada saat itu adalah bangsa yang diberi keistimewaan atas bangsa-bangsa lainnya, sehingga mempunyai kesiapan untuk menerima perbaikan spiritual dan kultural yang universal yang tercakup dalam agama Islam, meskipun telah dilanda oleh buta huruf, penyembahan terhadap berhala dan perpecahan yang terjadi akibat sifat ke-primitif-an mereka. Sekalipun demikian, bangsa Arab tetap merupakan umat (bangsa) yang mempunyai keistimewaan kemerdekaan pemikiran dan kebebasan personil di saat bangsa-bangsa lain tenggelam di dalam pengabdian kepada kediktatoran religi dan duniawi, dilarang memahami selain hukum-hukum keagamaan yang diajarkan oleh para tukang tenung dan para tokoh agama mereka atau berbeda faham dengan mereka dalam masalah pemikiran atau keduniaan, sebagaimana mereka diharamkan berbuat melakukan urusan-urusan kultural dan keuangan.

Bangsa Arab juga mempunyai kelebihan kebebasan berkehendak dalam melakukan segala perbuatan, di saat bangsa-bangsa lain menjadi budak hina para penguasa diktator yang memperlakukan mereka seperti binatang, tidak mempunyai aspirasi baik dalam keadaan damai ataupun perang, serta tidak memiliki kebebasan berkehendak di hadapan mereka di dalam menentukan pekerjaan atau usaha.

Bangsa Arab juga mempunyai kelebihan percaya diri, keberanian, kekuatan fisik dan mental, di mana bangsa-bangsa lain pada kala itu yang terbagi menjadi para penguasa yang telah dibejadkan oleh tindakan berlebih-lebihan dan kemewahan dan rakyat jelata yang terhina karena kesengsaraan dan kesempitan, penguasa lalim yang mabuk dengan kediktatorannya dan rakyat jelata yang hina oleh cengkaraman perbudakan.

Bangsa Arab pada saat itu lebih dekat kepada keadilan di antara individu dan mempunyai kelebihan kepandaian dan sifat-sifat terpuji baik yang diwarisi secara turun temurun ataupun yang merupakan hasil usaha mereka, seperti menghormat tamu, membantu orang yang lemah, berkemauan keras, kedermawanan, belas kasih, membela orang yang meminta perlindungan, hormat kepada tetangga, dimana pada saat itu bangsa-bangsa lain tenggelam dalam egoisme, keluhan akan beratnya beban pajak dan upeti yang menjadi beban.

Bangsa Arab pada saat itu telah mencapai puncak kesempurnaan kefasihan dan retorika bahasa sehingga menjadikan mereka siap menerima pengaruh dan terpengaruh dengan argumen-argumen rasional dan nilai-nilai seruan, dan siap mengungkapkan semua ilmu-ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu syar’i, ilmu yang berdasarkan akal sehat dan ilmu-ilmu kauni, dimana bangsa-bangsa lain pada saat itu tercerai-berai dari ikatan kesatuannya karena panatisme kepercayaan dan kelompok serta permusuhan antar etnik.

Kelebihan yang paling menonjol yang dimiliki bangsa Arab pada saat itu ialah kesucian fithrah, sekalipun bangsa-bangsa lain lebih tinggi peradaban dan teknologinya.

Sementara, perbaikan (baca: al-ishlah) Islam didasarkan pada lebih mengutamakan jiwa dengan memerdekakan akal dan kehendak serta perbaikan moral daripada perbaikan lahiriah. Dengan demikian, Allah telah mempersiapkan bangsa Arab untuk ishlah total yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Kemuliaan nasab: Nasab Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam merupakan nasab yang paling mulia lagi paling jelas. Allah berfirman:

إِنَّ الله اصطفى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى العالمين

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat” (Ali ‘Imran: 33).

Jadi, Allah telah memilih mereka dimana kenabian dan hidayah dianugerahkan kepada mereka, dan Allah memilih suku Quraisy dari Kinanah, dan dari suku Quraisy Allah memilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasym itu Allah memilih Sayyid waladi Adam yaitu, Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Maka dari itu keluarga Ismail merupakan manusia paling utama dan keluarga Ishaq merupakan umat pertengahan yang paling utama.

Adapun tentang jatuhnya pilihan Allah subhanahu wata’aala kepada suku Quraisy itu karena Allah telah mengaruniai mereka beberapa keutaman terutama setalah mereka menjadi penduduk kota Mekkah dan mengelola Masjidil Haram, apalagi mereka merupakan keturunan yang paling jelas dari Nabi Ismail, mempunyai kedudukan paling tinggi, budi perketi paling luhur dan bahasa yang paling fasih. Maka dengan demikian, mereka mempunyai kesi-apan untuk menyatukan bangsa.

Adapun tentang jatuhnya pilihan Allah kepada Bani Hasyim, itu disebabkan mereka mempunyai kelebihan dan sifat-sifat terpuji. Mereka segera mengadakan ishlah (perbaikan) dikala terjadi fitnah dan mereka sangat baik kepada orang fakir-miskin dan anak yatim. Dan sesungguhnya julukan Hasyim (orang yang suka membagi-bagikan sesuatu) yang diberikan kepada ‘Amru bin Abdimanaf, karena dia merupakan orang pertama yang membagi-bagikan tsarid (makanan lezat khas Arab) kepada orang-orang yang ditimpa musibah musim kering. Dia selalu memberikan kecukupan pangan (tsarid) setiap tahun kepada mereka yang tertimpa musibah musim kering. Tempat hidangan makanannya selalu tersedia dan tidak pernah ditutup baik pada waktu lapang maupun waktu sempit. Ditambah lagi dengan anaknya, Abdul Muththalib kakek Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Dia adalah orang yang suka memberi makan binatang liar dan burung-burung, dan juga merupakan orang pertama yang beribadah di dalam gua Hira’, dan konon diriwayatkan bahwa dia telah mengharamkan minuman keras (khamar) terhadap dirinya.

Singkatnya, keluarga Nabi shallallahu ‘alahi wasallam itu mempunyai kelebihan akhlaq mulia dan kegiatan-kegiatan sosial terpuji dan keutaman spiritual atas segenap kaumnya. Dari Bani Hasyim inilah Allah memilih Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam (sebagai utusan-Nya). Maka dengan demikian Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam merupakan anak keturunan Adam yang terbaik dan merupakan tokohnya.

Nabi telah mencapai pada puncak kesempurnaan akhlaq mulia: Sesungguhnya Allah subhanahu wata’aala telah menganugerahkan karakter mulia dan sifat-sifat terpuji kepada Nabi Muhammad. Sebelum ia diangkat menjadi nabi adalah ia merupakan sosok manusia paling mulia di tengah-tengah kaumnya, bahkan merupakan manusia yang paling bersih jiwanya, paling suci fitrahnya dan paling tinggi budi pekertinya.

Beliau dibesarkan dalam keadaan yatim yang terhormat, tumbuh dalam keadaan faqir yang suci, kemudian menikah dengan penuh rasa cinta dan tulus kepada istrinya.

Beliau, juga ayahnya belum pernah satu kalipun memangku jabatan dalam urusan keagamaan maupun keduniaan suku Quraisy, dan Nabi juga tidak pernah menyembah sembahan mereka, tidak pernah menghadiri pertemuan dan perkumpulan-perkumpulan mereka, bahkan tidak ada ucapan atau perbuatan Nabi yang mengindikasikan bahwa beliau cinta kekuasaan atau berusaha untuk merebutnya.

Dia dikenal dengan konsisten dalam kejujuran, amanah, keluhuran etika. Oleh karenanya ia mempunyai kedudukan paling tinggi sebelum kenabian sehingga mereka menggelarinya dengan “al-amin” (yang terpercaya).

Dan dalam kondisi seperti itulah Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berada hingga dewasa, semua potensi kebaikan menjadi sempurna pada kepribadiannya yang suci, tak ada sedikitpun sifat tama’ kepada harta benda, popularitas maupun kekuasaan, hingga datang kepadanya wahyu dari Rabb semesta alam, sebagaimana akan kami jelaskan nanti.

Sebagai seorang buta huruf tidak mengetahui baca-tulis. Ini merupakan bagian terbesar dari ciri dan bukti-bukti bagi kebenaran kenabiannya. Laki-laki buta huruf yang tidak dapat membaca kitab, tidak pula bisa menulis dan tidak pernah membaca sya’ir dan puisi, yang dibesarkan di tengah-tengah ummat yang buta huruf pula ini datang dengan da’wah yang agung, syari’at samawi yang adil yang mengikis habis kekacauan sosial, dan memberikan jaminan kebahagiaan kemanusiaan abadi bagi pemeluknya, membebaskan mereka dari belenggu penyembahan kepada selain Rabb (Tuhan) mereka.

Semua itu merupakan persiapan kenabiannya dan bagian dari tanda-tanda kebenarannya.

SEKILAS TENTANG NASAB DAN KEHIDUPAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Dia adalah Muhammad putra Abdillah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Hakim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Iyas bin Mudhar bin Nazar bin Ma’di bin ‘Adnan dari suku Arab, sedang suku Arab adalah anak-cucu Nabi Ismail putra Ibrahim ’alaihis salam.

Ibunya adalah (Siti) Aminah putri Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah, sedangkan Zuhrah adalah saudara kandung kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam, Abdullah ayah Nabi shallallahu ‘alahi wasallam menikah dengannya dan tinggal di rumah keluarga istri selama tiga hari, dan tidak lama kemudian ia hamil dan tidak merasakan beban dan tidak mengidam sama sekali semasa hamil sebagaimana biasanya wanita-wanita yang berbadan sehat.

Ketika sang ibu mengandungnya pernah bermimpi sebagaimana kita singgung di muka.

Nabi dilahirkan oleh ibunya dalam bentuk yang sempurna, tampan dan berbadan sehat. Ia dilahirkan pada tahun gajah bertepatan dengan tahun 571 Masehi.

Ayahnya meninggal dunia disaat Nabi masih di dalam kandungan ibunya. Kemudian ia dipelihara oleh kakeknya Abdul Muththalib dan sempat disusui oleh ibunya selama tiga hari, lalu kakeknya menyusukannya kepada seorang wanita bernama Halimah al-Sa’diyah.

Sudah menjadi tradisi bangsa Arab menyusukan anak-anak mereka kepada wanita-wanita di perkampungan, dimana faktor-faktor yang mendorong pertum-buhan badan yang sehat terpenuhi di sana.

Halimah al-Sa’diyah pernah menyaksikan suatu keajaiban yang terjadi pada bayi manis ini, di antaranya ialah: Sesungguhnya Halimah datang ke kota Mekkah bersama suaminya dengan menunggangi seekor keledai kurus yang jalannya sangat lambat. Dan sekembalinya dari Mekkah Halimah meletakkan bayi (Muhammad) di pangkuannya sedangkan keledai berjalan dengan sangat cepat hingga meninggalkan binatang-binatang tunggangan lainnya di belakang, yang membuat setiap orang yang melintasi jalan tersebut keheran-heranan.

Halimah menceritakan bahwa payudaranya tidak dapat mengeluarkan air susu dan membuat bayinya selalu menangis kelaparan. Tetapi setelah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam menetek padanya air susu keluar dengan deras hingga dapat menyusui anak kandungannya sendiri dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam hingga keduanya kenyang.

Halimah juga menjelaskan tentang tandusnya tanah di perkampungannya, yaitu qabilah Bani Sa’ad. Namun setelah ia mendapat kehormatan menyusui bayi tersebut tanah di perkampungannya berubah menjadi subur dan banyak menghasilkan ternak dan kondisi berubah menjadi lapang dan penuh kemudahan setelah sebelumnya diselimuti oleh kesulitan dan kefakiran.

Setelah dua tahun kemudian Halimah membawa-nya kembali kepada ibu dan kakeknya di Mekkah, akan tetapi Halimah bersikeras meminta kepada ibu si kecil (Nabi) agar ia tetap bersamanya untuk kedua kalinya, karena merasakan berkah dari keberadaan si kecil bersamanya. Siti Aminah pun akhirnya menyetujui permintaan Halimah. Halimah kembali ke kampung halamannya dengan si kecil itu dengan penuh riang gembira.

Setelah dua tahun berikutnya Halimah mengembalikan si anak kepada ibunya di Mekkah. Pada saat itu usianya sudah empat tahun. Maka Nabi shallallahu ‘alahi wasallam diasuh oleh ibu kandungnya sendiri hingga sang ibu tercinta wafat pada saat Nabi baru berusia enam tahun.

Kemudian Nabi diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib selama dua tahun, lalu sang kakek wafat. Dan menjelang kematiannya kakek berwasiat kepada anaknya Abu Thalib (paman Nabi shallallahu ‘alahi wasallam) agar mengasuh keponakan. Maka Abu Thalib pun mencurahkan perhatian kepadanya sebagaimana perhatiannya kepada keluarga dan anak-anaknya sendiri. Akan tetapi karena kefakirannya, ia hidup dalam kesederhanaan. Maka Nabi shallallahu ‘alahi wasallam belum pernah merasakan nikmatnya kemewahan. Barangkali itu semua merupakan perhatian (inayah) dari Allah shallallahu ‘alahi wasallam kepada Nabi mulia ini.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam telah terbiasa menggembala kambing bersama saudara-saudaranya sesusuan tatkala berada di perkampungan Bani Sa’ad. Maka dari itu ketika berada di Mekkah ia mengembala kambing milik penduduk kota Mekkah dan dari upah mengembala ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari hingga tidak terlalu membebani pamannya dalam menafkahinya.

Kemudian ia pergi dalam perniagaan bersama pamannya ke negeri Syam pada saat usianya baru 12 tahun lebih 2 bulan 10 hari. Di sanalah Buhaira (seorang pendeta) melihatnya lalu memberikan khabar gembira kepada pamannya Abu Thalib dan menyuruhnya waspada akan penganiayaan orang-orang Yahudi terhadapnya setelah ia melihat tanda cap kenabian di antara dua pundaknya.

Kemudian untuk kedua kalinya Nabi pergi ke Syam untuk memperdagangkan harta benda Khadijah putri Khuwailid. Khadijah memberinya upah yang lebih dari yang biasa diberikan kepada orang lain, karena perniagaan itu membawa keuntungan yang berlipat lipat, bahkan datang dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Khadijah adalah sosok wanita tercerdas lagi paling sempurna pada suku Quraisy, hingga di masa jahiliyah ia dijuluki “al-Thahirah” (wanita suci), karena kehormatan, harga diri dan keutamaan-keutamaan lahiriah yang tampak pada kepribadiannya.

Tatkala pembantunya Maisarah bercerita kepadanya tentang akhlaq mulia dan kepribadian luhur Nabi shallallahu ‘alahi wasallam yang perhatikan disaat kepergiannya bersama Nabi shallallahu ‘alahi wasallam ke Syam dan tentang apa yang dikatakan oleh Buhaira (pendeta) kepada pamannya Abu Thalib pada kepergian pertamanya ke negeri Syam, maka Khadijah tertarik kepada Nabi dan berharap jika ia menjadi pendamping hidupnya. Khadijah adalah seorang janda yang ditinggalkan mati suaminya. Tak lama kemudian, pernikahan antara keduanya pun terlaksana. Nabi pada saat itu berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah mendekati 40 tahun.

Nabi tidak pernah menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup dan tidak ada yang lebih ia cintai seperti cintanya kepada Khadijah. Khadijah wafat sepuluh tahun sesudah kenabian Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam . Nabi selalu mengenangnya, bersedekah atas namanya dan memberikan hadiah kepada teman-teman akrab Khadijah. Dia istri yang darinya Nabi dikaruniai seluruh anak-anaknya selain Ibrahim, karena Ibarahim adalah anak dari istrinya Mariyah al-Qibthiyah.

Demikianlah sekilas tentang sejarah hidup beliau sebelum diangkat menjadi Nabi dan sebelum menerima wahyu.

PERMULAAN WAHYU DITURUNKAN

Setelah Nabi sampai pada usia matang, mendekati usia ke-40 tahun; dan tatkala kekuatan intelektual dan jasmaninya telah sempurna, maka beliau menerima wahyu yang dimulai dengan mimpi-mimpi baik (shalih). Setiap kali bermimpi baik, mimpi itu tampak seperti fajar subuh dengan sempurna sebagaimana ia lihat di dalam mimpinya.

Setelah itu ia senang menyendiri dan itu ia lakukan di dalam gua Hira di Mekkah; di sana ia beribadah kepada Allah selama beberapa malam, lalu kembali kepada istrinya Khadijah dan kembali ke gua dengan perbekalan makanan dan minuman. Hal ini terus belanjut beberapa waktu hingga datang kepadanya al-haq (kebenaran) dengan turunnya al-Qur’an kepadanya pada bulan Ramadhan, yaitu dengan datangnya Jibril kepadanya. Lalu Jibril mentalqinkan (membacakan) wahyu pertama yang diturunkan, seraya berkata: “Iqra” (Bacalah!). Maka Nabi menjawab: “Aku tidak dapat membaca!”. Lalu Jibril berkata kepadanya: “Iqra” (Bacalah!). Maka nabi menjawab: “Aku tidak dapat membaca!”. Jibril berkata lagi: “Iqra” (Bacalah!). Nabi pun menjawab: “Aku tidak dapat membaca”. Setiap kali Nabi menjawab Jibril merangkul dan memeluk Nabi sekuat-kuatnya hingga beliau merasa lesu.

Setelah Jibril melepasnya pada jawaban ketiga dibacakanlah kepadanya ayat pertama yang diturunkan dari ayat-ayat al-Qur’an, yaitu:

اقرأ باسم رَبِّكَ الذى خَلَقَ . خَلَقَ الإنسان مِنْ عَلَقٍ . اقرأ وَرَبُّكَ الأكرم . الذى عَلَّمَ بالقلم . عَلَّمَ الإنسان مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya”.

Dengan beberapa ayat suci yang memerintah supaya belajar ini, dan yang menjelaskan awal penciptaan manusia dimulailah penurunan wahyu kepada Nabi subhanahu wata’aala. Setelah itu Nabi pulang menuju istrinya Khadijah dengan hati bergetar, namun tetap dalam keadaan sadar sambil berkata: “Zammiluni. Zammiluni”. Maksudnya selimutilah aku dengan kain. Mereka pun melakukannya, hingga setelah rasa takut hilang Nabi pun menceritakan apa yang telah terjadi kepada Khadijah. Dan beliau berkata: “Sungguh, aku khawatir akan diriku”.

Khadijah radhiyallahu ‘anha pun menjawab: “Tidak! Demi Allah, engkau tidak akan dihinakan oleh Allah, karena engkau suka bersilaturrahmi, membantu orang-orang yang lemah, membelanjai orang yang tak berdaya, engkau memperkuat orang yang lemah dan selalu membela sendi-sendi kebenaran”.

Demikanlah wanita cerdas ini berargumen bahwa orang yang mempunyai kepribadian mulia seperti itu (suaminya) dalam mencintai kebaikan bagi orang lain, niscaya Allah tidak akan membiarkannya begitu saja, sebab sunnatullah tetap berlaku bahwa sesungguhnya balasan itu sejenis dengan perbuatan.

Kemudian Khadijah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam kepada sepupunya Waraqah bin Naufal. Dia adalah seorang yang telah beragama Nasrani di masa Jahiliyah. Dia sedang menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani. Pada saat itu ia sudah lanjut usia dan sudah tidak dapat melihat. Khadijah berkata kepadanya: Dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh Muhammad. Lalu Waraqah bertanya: “Wahai anak saudaraku, apa yang kamu lihat? Kemudian Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberitakan kepadanya apa yang telah ia lihat. Setelah itu Waraqah berkata: “Inilah Namus yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa; Aduhai, sungguh kiranya aku masih muda; aduhai, sekiranya aku masih hidup disaat engkau diusir oleh kaummu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bertanya: “Apakah mereka pasti mengusirku?” Waraqah menjawab: Ya, karena tidak seorangpun yang datang dengan ajaran yang engkau bawa melainkan ia dimusuhi, dan jika kelak aku masih hidup niscaya aku akan membelamu dengan pembelaan yang sesungguh-nya. Tak berapa lama kemudian Waraqah wafat dan wahyu pun sementara waktu tidak turun (terhenti).

Masa terhentinya wahyu berlangsung selama tiga tahun, dimana pada saat itu kesiapan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam menjadi mantap dan kerinduan kepada wahyu makin membara. Beliau bersabda: “Disaat aku sedang berjalan-jalan aku dengar suara dari langit, maka akupun melihat ke atas, ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira”.

Disebutkan bahwasanya beliau merasa takut akan tetapi tidak seperti rasa takut yang pertama. Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam kembali ke rumah kemudian berselimut. Maka diturunkan kepadanya firman Allah subhanahu wata’aala :

ياأيها المدثر . قُمْ فَأَنْذِرْ . وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ . وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ . والرجز فاهجر

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”. (Al-Muddatsir: 1-5).

Maksudnya: Wahai orang yang berselimut dengan pakaiannya, bangunlah, lalu berikanlah peringatan kepada manusia dengan Al-Qur’an, dan sampaikanlah kepada mereka seruan Allah, dan sucikanlah pakaian dan perbuatanmu dari noda-noda kesyirikan, dan jauhilah berhala, serta berlepas dirilah dari para penyembahnya.

Semenjak itu wahyu turun secara berkesinambungan, dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam pun menyampaikan seruan Rabb-nya kepada semua manusia, karena Dia telah memerintahkan dan mewahyukan kepadanya agar menyeru manusia kepada peribadatan kepada Allah semata dan kepada agama Islam yang diridhai-Nya, yang dengannya Dia menutup semua agama. Semenjak itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam bangkit berda’wah mengajak manusia ke jalan Tuhannya dengan hikmah, nasihat yang baik dan berdebat dengan cara yang baik pula.

Orang pertama yang menerima seruan dan da’wahnya ialah: Khadijah, dari kaum wanita, dan Abu Bakar, dari orang dewasa, dan Ali bin Abi Thalib, dari anak-anak. Kemudian makin banyak orang masuk (memeluk) Islam, maka gangguan orang-orang Quraisy pun makin dahsyat dan mereka mengusirnya dari Mekkah dan menyiksa para shahabatnya dengan seperih-perihnya. Maka beliau berhijrah ke Madinah dan wahyu pun terus secara berangsur-angsur diturunkan. Beliau terus berda’wah, berjihad dan melancarkan futuhat (penaklukan-penaklukan), hingga akhirnya kembali ke Mekkah dengan kemenangan.

Sesudah itu Allah menyempurnakan agama dan menghibur jiwanya dengan kemuliaan Islam dan kemenangan kaum muslimin. Kemudian belaiu wafat dalam usia 63 tahun, 40 tahun di antaranya sebelum menjadi nabi dan 23 tahun berikutnya sebagai nabi dan rasul

Dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam Allah menutup semua risalah samawi dan Dia wajibkan kepada jin dan manusia untuk menta’atinya. Maka barangsiapa ta’at kepadanya maka bahagia di dunia dan di akhirat masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadanya, maka sengsara di dunia dan di akhirat kelak masuk neraka.

Setalah Nabi wafat, para sahabat menelusuri langkahnya, mereka sampaikan da’wah Islam, mereka taklukan berbagai negeri dengan Islam dan mereka sebar luaskan agama yang haq hingga sampai pada masa kita sekarang.

Agama yang diajarkan oleh Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam tetap utuh hingga hari Kiamat. Sebab apa yang harus kita katakan tentang seorang buta baca tulis yang hidup di tengah-tengah kaum yang buta tulis pula, bangkit dengan reformasi (ishlah) yang dapat merubah sejarah umat manusia, dalam bidang hukum (syari’at) dan politik serta seluruh aspek kehidupan dunia dan agama? Agama ini meluas bersama bahasanya hanya dalam satu abad dari negeri Hijaz sampai akhir perbatasan Eropa dan Afrika pada bagian barat dan hingga perbatasan Cina pada bagian timur. Semua bangsa dan negara tunduk kepadanya; jiwa dan ruh pun segera menerimanya. Setiap penaklukan yang ia lakukan selalu diikuti oleh peradaban dan kebudayaan, keadilan dan kasih sayang, ilmu pengetahuan akal dan alam. Semua itu dilakukan oleh suatu ummat yang baru saja mengenal baca tulis, suatu umat yang disucikan oleh Al-Qur’an dan diajarkan kepadanya bahwa sesungguh perbaikan (islah) manusia itu selalu dibarengi dengan perbaikan alam sekitar. Apakah mungkin hal ini akan terjadi kalau bukan dengan wahyu yang datang dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui…… dengan dukungan samawi yang langsung dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa dan Maha Pengasih??

SEBAGIAN DARI AKHLAQ RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam adalah manusia yang paling mulia akhlaknya paling luhur budi pekertinya. Semua itu telah ia miliki sewaktu masih dalam zaman jahiliyah, sebelum masa kenabian. Lalu bagaimana dengan akhlaq dan budi pekertinya sesudah diangkat menjadi nabi? Allah telah berfirman kepadanya dengan ungkapan: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak mulia (agung)”.

Nabi telah dibimbing oleh Allah dengan sebaik-baik bimbingan, dididik dengan sebaik-baik pendidikan. Oleh karenanya akhlak dan budi pekerti beliau adalah Al-Qur’an yang suci, ia berakhlaq dan berprilaku perilaku dan akhlak Al-Qur’an dan membangun manusia dengan Al-Qur’an pula. Di antara akhlak beliau adalah bahwasanya ia merupakan manusia paling penyantun, paling adil, paling suci kehormatan dirinya dan paling pemurah (dermawan).

Beliau biasa menyambung tali alas kaki, menjahit pakaian yang robek, membantu keluarganya di rumah, bersama keluarganya memotong daging. Dia adalah sosok manusia yang paling pemalu, tidak mampu menetapkan pandangan pada wajah seseorang.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam selalu memenuhi undangan (ajakan) siapapun juga, ia menerima hadiah sekalipun bernilai kecil dan membalasnya; ia marah hanya karena Allah dan tidak pernah marah karena membela dirinya. Kadang-kadang beliau kelaparan hingga mengikat batu di perutnya dengan kain. Kadang ia makan apa yang ada dan tidak menolak yang ia dapat dan tidak pernah mencaci makanan. Jika ia hanya menemukan sebiji kurma ia makan dan jika menemukan sepotong daging panggangpun ia makan pula; jika ditemukannya hanya sepotong roti ia makan dan begitu pula jika hanya menemukan manisan. Bahkan sekalipun hanya seteguk susu tanpa roti beliau memakannya.

Beliau suka menjenguk orang sakit dan menghadiri jenazah; dan beliau berjalan sendirian tanpa pengawal di hadapan musuh-musuhnya.

Dia adalah sosok manusia yang paling merendahkan hati (tawadhu’), yang paling tenang tanpa sedikitpun ada rasa sombong, paling bagus tutur katanya tanpa dibuat-buat dan paling baik prilakunya, ia tidak takut kepada apapun dalam menghadapi urusan dunia.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memakai pakaian apa adanya, kadang ia memakai syamlah (kain yang dapat menyelimuti tubuh)dan kadang jubbah dari kain wol. Pakaian apa saja yang boleh dipakai yang beliau dapatkan, ia pakai.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam mengendarai binatang seadanya, kadang kuda, kadang unta, kadang bighal (peranakan keledai dengan kuda), keledai kelabu betina, kadang keledai jantan dan kadang berjalan dengan kaki telanjang.

Dia juga bergaul dengan para fakir miskin, makan bersama mereka dan menghormati orang yang mulia akhlaqnya dan mendekati para kaum bangsawan untuk mengajak mereka berbuat kebajikan kepada orang-orang lemah. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam juga selalu menjalin hubungan silaturrahmi tanpa mendahulukan siapa yang lebih mulia di antara sesama mereka.

Nabi tidak pernah bersikap acuh kepada seseorangpun, ia menerima alasan orang yang meminta ma’af, dan ia juga bercanda tetapi tidak pernah mengatakan kecuali yang haq; tertawa dengan tidak terbahak-bahak; berlomba dengan istrinya; kadang suara nyaring mengganggunya tetapi ia sabar.

Tidak ada waktu berlalu tanpa beramal kepada Allah subhanahu wata’aala atau melakukan sesuatu yang harus dilakukan untuk kepentingan dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam tidak pernah menghina orang miskin karena kemiskinan dan keluh kesahnya, dan tidak takut kepada raja karena kerajaannya. Semua didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dengan dakwah yang sama. Kemuliaan kepribadian dan kesempurnaan sikap telah dianugerahkan oleh Allah kepada beliau, padahal dia adalah seorang yang buta baca-tulis.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dibesarkan di negeri fakir dan padang pasir dengan segala ketandusannya, dan dibesarkan dalam menggembala domba sebagai seorang anak yatim tidak punya ayah. Lalu Allah subhanahu wata’aala mengajarkan kepadanya seluruh budi pekerti luhur dan jalan-jalan yang terpuji, khabar tentang orang-orang yang telah lalu dan orang-orang yang akan datang kemudian dan apa saja yang mengandung keselamatan dan kemenangan di akhirat, bahagia dan selamat di dunia.

Tidak seorang yang datang kepadanya melainkan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam turut memecahkan permasalahannya; Nabi tidak pernah berucap kasar dan tidak pula bersikap keras dan tidak pula berteriak-teriak di pasar; dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan berlapang dada.

Di antara akhlak beliau juga ialah memberi salam kepada orang yang dijumpainya, dan setiap orang yang menemuinya untuk suatu keperluan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam tetap sabar menemaninya hingga tamunya itu yang terlebih dahulu pulang.

Siapa saja yang memegang tangannya, Nabi tidak melepasnya sehingga orang itu yang melepasnya terlebih dahulu.

Apabila Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berjumpa salah seorang dari sahabatnya, maka ia yang berjabat tangan terlebih dahulu, lalu memegang tangan sahabat tersebut dengan erat.

Duduknya lebih banyak dengan menegakkan kedua betisnya dengan kedua tangan memegang, dan tidak ada tempat duduk tertentu bagi Nabi shallallahu ‘alahi wasallam di majlis-majlisnya bersama para sahabatnya, karena Nabi shallallahu ‘alahi wasallam duduk di tempat mana saja yang masih kosong dari majlis tersebut.

Dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam tidak pernah meluruskan kakinya (di waktu duduk) di hadapan para sahabatnya hingga mempersempit terhadap seseorang, kecuali jika majlis (tempat duduk bersama) itu luas dan tidak sempit.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam sangat menghormati orang yang menjum-painya hingga kadang menghamparkan kainnya lalu duduk bersama dengannya di atas kain tersebut. Bahkan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan bantal yang beliau pakai kepada tamunya, hingga jika tamu itu menolak, Nabi tetap memaksanya sampai menerima.

Setiap orang yang dijumpainya, Nabi shallallahu ‘alahi wasallam merasa bahwa orang itu lebih mulia daripada dirinya; dan siapa saja orang yang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alahi wasallam pasti mendapat perhatian penuh dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, dan pasti mendapat kelembutan tutur kata dan bimbingannya. Sekalipun demikian, majlis Nabi shallallahu ‘alahi wasallam adalah majlis yang penuh dengan rasa malu dan rendah hati serta penuh amanah.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam selalu memanggil para shahabatnya dengan nama panggilan mereka (kunyah) sebagai rasa hormatnya kepada mereka dan supaya mereka merasa tertarik. Dan Nabi seringkali memberikan nama panggilan (kunyah) kepada orang yang belum mem-punyai nama panggilan. Dan Nabi juga suka memberi nama panggilan kepada wanita-wanita yang sudah punya anak dan juga kepada yang belum mempunyai anak, dan Nabi yang memulai memanggil mereka dengan nama panggilan (kun-yah); beliau juga memberi kun-yah (nama panggilan) kepada anak-anak, hingga mereka merasa senang.

Beliau adalah orang yang paling susah marah dan paling mudah rela (ridha); beliau adalah manusia yang sayang paling belas kasih kepada orang lain dan paling baik terhadap mereka serta paling berguna bagi mereka.

Dia lebih menyukai kemudahan dan tidak menyukai kesulitan, dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam tidak bertutur kata kepada orang lain dengan kata yang tidak menyenangkan. Siapa saja yang menjumpai Nabi dan ia belum mengenalnya, maka orang itu merasakan kewibawaan beliau, dan siapa saja yang bergaul dengan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam setelah mengenalnya pasti orang itu mencintainya.

Demikianlah sebagian dari akhlak dan kepribadian Nabi shallallahu ‘alahi wasallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: