23 Jan

Ushul (landasan) Ahlussunnah wal-jama’ah

Sesungguhnya Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah orang-orang yang berjalan diatas landasan yang tetap, kokoh lagi terang, dalam masalah I’tiqod (keyakinan),amal dan perilaku. Landasan-landasan ini bersumber dari kitabulloh dan sunnah Rasulullloh  serta pada jalan yang ditempuh oleh para pendahulu ummat ini: Dari kalangan para sahabat, para tabi’in dan para pengikut mereka dari dari tiga kurun yang terutama, dan barangsiapa yang berjalan diatas jalan mereka dengan sebaik-baiknya smapai hari kiamat nanti, dan pokok atau landasan-landasan itu adalah sebagai berikut:

A- Beriman kepada Allah –Azza Wajalla-.
Beriaman kepada Allah –Azza Wajalla- ialah keimanan yang pasti yang tidak terjadi padanya suatu keraguan bahwasanya Allah adalah Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya, dan bahwasanya Ia adalah yang berhak untuk disembah tanpa selainNya, dan hendaknya Ia ditunggalkan dalam ibadah yang disertai dengan sempurnanya rasa cinta, rendah diri dan andap asor, dan bahwasanya Ia yang disifati dangan segala sifat yang sempurna , maka baginyalah nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi dan Dia Maha suci dari segala sifat cacat dan sifat kekuranan.
Maka nampak dari situ bahwa beriman kepada Allah itu mengandung empat perkara:
1- Beriman akan wujudnya Allah Azza Wajalla, dan telah menunjukkan atas hal itu fitrah, akal, syariat dan perasaan.
Adapun dalil fitrah atas wujudnya Allah –Azza Wajalla-, maka sesungguhnya tiap-tiap mahluk ini telah diciptakan diatas keimanan terhadap penciptanya tanpa berfikir dan suatu pengajaran. Berdasarkan sabda Nabi –Shollallohu alihi wasallam- : “tidak seorang anak melainkan dilahirkan diatas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi atau menjadi Nasrai”. Hr. Bukhari dan Muslim
Adapun dalil dari akal yang menunjukkan adanya Allah –Azza Wajalla- maka dikarenakan seluruh mahluk ini baik yang terdahulu maupun yang sekarang pasti ada pencipta yang telah menciptakan kehidupan yang indah ini. Karen itu Allah menyebutkan dalil akal dan alasan yang pasti ini, maka Allah berfirman:
“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?  Ataukah mereka Telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan) Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?”.
Dan tatkala Jubair bin Mut’im mendengar Rasululloh  membaca ayat-ayat ini ketaika ia dalam keadaan musyrik, ia berkata: “ Hampir saja hatiku hendak terbang, yang demikian adalah awal suatu keimanan yang menetap dihati”. Hr. Bukhari dan Muslim
Adapun dalil secara syari’at atas wujudnya Allah –Azza Wajalla- maka dikarenakan Allah –Azza Wajalla- telah mengutus para utusan dan telah menurunkan kitab-kitab samawiyyah yang telah berbicara akan hal itu.
Adapun dalil secara syari’at atas wujudnya Allah –Azza Wajalla- maka bisa dilihat dari dua hal:
a- Sesungguhnya kita telah mendengar dan menyaksikan diterimanya suatu do’a dan permohonan orang-orang yang ditimpa musibah, adalah merupakan dalil yang pasti atas wujudnya Allah –Azza Wajalla- . Allah –Azza Wajalla- berfirman:

“ Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami memperkenankan doanya, lalu kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar”.Al-Ambiya’: 76
Dan didalam hadits Bukhari dari Anas r.a : “Bahwasanya seorang baduwi masuk pada waktu shalat jum’at sedang Nabi  berhutbah, maka ia berkata: “Ya Rasululloh telah hancur harta dan keluarga telah menjadi lapar, maka berdo’alah agar Allah memberi hujan kepada kami . maka Rsulull0h  mengangkat kedua tangannya lalu berkata: “Ya Allah berilah kami hujan, ya Allah berilah kami hujan”. Anas berkata: Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, tidaklah Beliau meletakkanya sehingga ada mendung yang berjalan seperti gunung, kemudian tidaklah beliau turun dari mimbar sehingga aku melihat hujan membasahi jenggotnya; maka kami diberi hujan, demi Allah kami tidak melihat matahari selama sepekan. Kemudian lelaki tersebut memasuki kembali pada jum’at berikutnya sedang Rasulullah berdiri berhutbah, maka berkatalah lelaki tersebut: “Ya Raululloh telah hancur seluruh harta (sebab hujan) dan jalan-jalan telah terputus maka berdo’alah kepada Allah agar menahannya dari kita. Maka Rasululloh mengangkat kedua tangannya lalu berkata: “Ya Allah timpakan pada sekitar kami, dan kepada kami”. maka tidak menunjuk dengan tangannya kesuatu arah dari awan itu melainkan hilang”. Hr.Bukhari dan Muslim
b- sesungghunya tanda-tanda kenabian yang disebut sebagai mu’jizat adalah dalil yang pasti atas wujudnya Allah –Azza Wajalla- , karena ia adalah perkara yang keluar dari pembicaraan atau kemampuan manusia, yang jalankan untuk menjadi penguat bagi rasulNya dan merupakan pertolongan bagi mereka.
2- Beriman kepada sifat rububiyah Allah –Azza Wajalla-
Beriman kepada sifat rububiyah Allah –Azza Wajalla- artinya ialah menunggalkan Allah –Azza Wajalla- bahwasanya Dialah Tuhan yang menciptakan, Yang merajai dan Yang menguasia segala sesuatu.
Allah berfirman:
“yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”. Fathir: 13
Dan tidak seseorangpun dari mahluk ini yang mengingkari akan rububiyah Allah –Azza Wajalla- kecuali karena kesombangan. Sebagaimana dikisahkan tentang firaun dalam surat An-Naml: 14

“ Dan mereka mengingkarinya Karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”. An-Naml: 14

3- Beriman kepada sifat uluhiyah Allah–Azza Wajalla-
Beriman kepada sifat uluhiyah Allah –Azza Wajalla- ialah menunggalkanNya dalam ibadah. Bahwasanya Allah –Azza Wajalla- adalah Tuhan Yang Maha berhak untuk disembah tanpa selainNya. Karena Dialah yang menciptakan semua hamba ini dan yang berbuat baik kepada mereka, yang memberi rizki kepada mereka, yang Maha mengetahui keadaan mereka dan yang Maha mampu memberi pahala kepada siapapun yang mentaatiNya dan menyiksa kepada siapapun yang durhaka kepadaNya. Sedangkang sesembahan manusia yang selain Allah adalah lemah mereka tidak mampu memberi rizki kepada penyembahnya, tidak mampu memberi syafaat kepada penyembahnya, tidak mampu memberi pehala kepada penyembahnya dan tidak pula mampu menyiksa atau memberikan tindakan kepada siapapun yang menentangnya. 
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”. Fathir: 13

Allah –Azza Wajalla- berfirman:
“ Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. Al-Ma’idah 76

Cobalah kita baca sepanjang sejarah kehidupan ini, apa pernah ada sesembahan yang dianggap Tuhan oleh manusia yang benar-benar terbukti bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan yang mematikan, ditangannya penciptaan langit dan bumi ?. tidak akan ada seorangpun yang mampu menjawab walaupun untuk sekedar memenangkan tuhannya, paling tidak hati kecil mereka tak akan mampu menjawabnya. Coba kita timbang pula, para rasul yang membawa berita akan ketuhanan, Allah –Azza Wajalla- kah yang benar atau tuhan-tuhan yang mereka bikin dengan kesengajaan otak mereka ?. Disinilah akal sehat kita harus teruji.
Untuk apa kita diciptakan:
Kita diciptakan sebenarnya hanyalah untuk beribadah kepada Allah –Azza Wajalla-. Inilah penyebab utama Allah –Azza Wajalla- menciptakan dua kelompok jin dan manusia, Allah berfirman:
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Adz-Dzariyat: 56
Dan Allah –Azza Wajalla- berfirman:
“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa  Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah , padahal kamu Mengetahui”. Al-baqarah : 21-22

Ayat-ayat diatas sangat baik untuk kita renungkan lalu kita jadikan sebagai landasan hidup, dimana kita berada. Seorang manusia yang didalam benaknya senantiasa ada perasaan bahwa dirinya diciptakan hanyalah untuk beribadah, maka dia akan senantiasa menjadikan semua pekerjaannya bernilai ibadah atau untuk mendukung ibadahnya, sedang ibadah adalah bagian dari perbuatan yang membutuhkan kebaikan, sudah semestinya agar perbuatannya bernilai ibadah , maka ia akan melakukan setiap perbuatannya yang baik-baik atau dengan cara yang baik. Dia akan senantiasa menjauhkan dirinya dari hal-hal yang dimungkinkan akan merusak nilai ibadahnya.

Para rasul diutus untuk berda’wah kepada beribadah kepada Allah –Azza Wajalla-
Allah –Azza Wajalla- telah mengutus para rasul dan telah menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan tauhid ini (yaitu tauhidul uluuhiyyah) dan berdakwah kepadanya. Tauhidul Uluhiyyah disebut juga tauhidul ibadah, yaitu menunggalkan peribadatan semata-mata kepada Allah, utntuk Allah, sesuai dengan apa-apa yang Allah ajarkan kepada para Rasul alaihimus shalaatu wassalam. Allah berfirman:

“ Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. An-Nahl: 36

Dan Allah –Azza Wajalla- berrfirman:
“ Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. Al-Anbiya’: 25
Dan Allah –Azza Wajalla- berfirman:
“ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Ali Imran: 18

Tuhan apapun selain Allah –Azza Wajalla- adalah batil
Maka jelaslah bahwa apapun yang di jadikan sebagai Tuhan selain Allah –Azza Wajalla- , maka ketuhanannya adalah batil, berdasarkan firman Allah :

“ (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah Karena Sesungguhnya Allah, dialah (Tuhan) yang Haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar ”. Al-Haj : 62

Dan Allah –Azza Wajalla- berfirman:
          
“ Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Al-Baqarah: 163

Dan sungguh Allah –Azza Wajalla- telah membatalkan perbuatan orang-orang musyrik dengan menjadikan tuhan-tuhan selainNya dan menjelaskan akan kelemahannya dari segala sisi, dalam firmanNya:

“ Katakanlah: ” Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya  Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang Telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila Telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka Berkata “Apakah yang Telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar ]”. Saba’: 22-23

Maka ibadah itu hanyalah hak Allah –Azza Wajalla-, karena itu Nabi  bersabda kepada Muadz r.a : “ Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka menyembahNya dan janganlah mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun”. Hr. Bukhari dan Muslim
4- Beriman terhadap nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifatNyan Yang Maha Tinggi.
Ahlussunnah menetapkan apa-apa (nama-nama) yang telah ditetapkan oleh Allah –Azza Wajalla- untuk diriNya, dan apa-apa yang telah ditetapkan untukNya (dari nama-nama) oleh Rasululloh  , dengan tanpa merobah-merobah, tanpa meliburkannya, tanpa mempertanyakan dan tanpa menyerupakanNya dengan apapun. Mereka membiarkan apa adanya (nama atau sifat) sebagaimana kalimat yang tertulis serta mengartikannya dengan maknanya yang sebenarnya dengan beriman secara penuh terhadap apa-apa yang telah ditunjukkan padanya dari maknanya yang agung. Maka apapun yang telah ditetapkan olehNya untuk diriNya, atau yang telah ditetapkan untukNya oleh RasulNya dari seluruh nama-nama dan sifat-sifat. Mereka (Ahlussunnah) menetapkannya diatas apa-apa yang pantas bagi Allah –Azza Wajalla-, dengan penetapan yang terperinci diatas batasan firman Allah –Azza Wajalla- :

:” dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat”. Dan mereka (Ahlussunnah) menafikan apa-apa yang Dia nafikan untuk diriNya sendiri atau yang telah menafikannya dariNya RasulNya  dengan penafian secara global diatas batasan firman Allah:
”Tidak ada suatu apapun yang menyrupaiNya”.
Penafian, menuntut adanya penetapan terhadap lawannya yaitu sifat sempurna, maka apasaja yang Allah nafikan dari diriNya dari sifat kekurangan, maka sesungguhnya hal itu menunjukkan atas lawannya dari segala macam sifat sempurna. Allah telah memadukan penafian (peniadaan) dan pengitsbatan (penetapan) dalam satu ayat:
“ tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat”. Asy-Syura: 11

Maka ayat ini mengandung pemahasucian Allah dari serupa dengan mahlukNya, baik DzatNya maupun sifat-sifatNya dan serupa pada perbuatanNya. Pada awal ayat ini adalah merupakan penolakan terhadap pendapat kaum musyabbihat yaitu pada firmanNya: ”Tidak ada suatu apapun yang menyrupaiNya”, dan pada akhir ayat ini adalah merupakan penolakan terhadap Al-Mu’ath-thilah (kelompok atheis) yaitu pada firmanNya: “Dan Dia Maha mengengar lagi Maha melihat”. Pada awal ayat ini terkandung penafian secara global sedang pada skhirnya adalah penafian secara terperinci. Allah melarang dirinya dipermisalkan atau dipersekutukandengan apapun, dalam firmanNya:
“ Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”. An-Nahl: 74
Inilah akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah dari para sahabat Rasululloh  dan para pengikut mereka dengan sebaik-baiknya. Dan telah menukil dari mereka para imam Ahlussunnah . Al-Walid bin Muslim rahimahulloh berkata: “ Aku bertanya kepada Al-Auza’I, Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Laits bin Said tentang hadits-hadits yang terdapat pada keterangan tentang ru’yah (melihat Allah di surga), mereka semua menjawab dengan jawaban sama: “ biarkanlah ia sebagaimana datangnya tanpa mempertanyakannya”. Disisi lain, Ahlussunnah menerangkan perkataan para imam akan firman Allah:
(الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَاى) : “ Allah bersemayam diatas Arsy”, bahwasanya hal itu menunjukkan atas ketinggihan Allah atas mahluknya. Sebagaimana Allah –Azza Wajalla- berfirman:
“Barangsiapa yang bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya . dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur”. Fathir: 10

Dan Allah berfirman: menghendaki kemuliaan, Maka
“ Dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami, dan malaikat- malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya”. Al-An’am: 61

Abul Qosim Al-Laalikaa’I rahimahullah berkata: “ maka ayat-ayat ini telah menunjukkan bahwasanya Allah Ta’ala berada di langit sedang ilmuNya meliputi segala tempat dibumiNya dan dilangitNya. Dan beliau berkata: dan hal itu telah diriwayatkan dari para sahabat: (seperti) Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ummu Salamah At-Taimy, Muqaatil Ibnu Hayyan. Dan dengannya berpendapat sebagian fuqoha’ (seperti) Anas bin Malik, Sufyan Ats-Tsauri dan Ahmad bin Hambal.
Rubai’ah bin Abdirrahman ditanya tentang firman Alliah Ta’ala:
(الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْ شِ اسْتِوَى): “Allah beersemayam diatas arsy”. bagaimana bersemayam? . ia menjawab:

” الإسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٌ, وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَمِنَ اللهِ الرِّسَالَةُ, وَعَلَى الرَّسُولِ البَلاَغُ , وَعَلَيْنَا التَّصْدِيْق”
(Al-Istwa’ tidak dikenal, partanyaan bagaimana tidak masuk akal, dari Allah arrisaalah, dan kewajiban rasul menyampaikan, sedang kewajiban kita adalah membenarkan).
Seseorang berkata kepada Imam Malik rahimahullah : Ya abaa Abdillah (الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى): “ Allah bersemayam diatas Arsy”. Bagaimanakah Istawa?, maka beliau menjawab: “ pertanyaan bagaimana tidak masuk akal, bersemayam darinya tidak dikenal, beriman kepadanya adalh wajib, bertanya tentangnya adlah bid’ah, maka sesungguhnya aku hawatir anda tersesat , lalu diperintahkan untuk dikeluarkan”.
Abu Abdillah Ahmad bin Hambal rahimahullah ditanya: “Allah –Azza Wajalla- diatas tujuh langit, diatas arsyNya nampak dari mahlukNya sedang kekuasaanNya dan ilmuNya ada pada setiap tempat?. Beliau menjawab: “Ya, diatas arsy sedang ilmuNya tidak ada yang kosong darinya suatu tempatpun”. Begitu juga ketika beliau ditanya tentang firman Allah: “ Dan Dia bersama kalian dimanasaja kalian berada” bliau menjawab dengan jawaban diatas.
Samua penukilan diatas menunjukkan bahwasanya Ahlussunnah memetapkan nama-nama dan sifat-sifat serta apa-apa yang ditunjukkan padanya dari makna-makna yang agung, dengan menjalankan apa adanya tanpa mempertanyakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: