23 Jan

Pengertian Ahlussunnah:

As-Sunnah (السنة) secara bahasa: yaitu At-Thoriiqotu (الطريقة): jalan. As-Syiirotu (السيرة): sejarah hidup, baik terpuji keadaannya atau tercela. Maksudnya, bahwa kebiasaan yang sering dilakukan oleh seseorang seperti suka baca Al-Qur’an, berkata lembut, peramah, pemarah, suka nyanyi, omong kotor, suka mencuri, apapun yang telah menjadi kebiasaan seseorang itulah sunnahnya. Sehingga adakalanya dikatakan: orang ini sunnahnya baik atau orang ini sunnahnya buruk, tergantung pada nilai apa yang terjadi, demikianlah pengertian As-Sunnah secara bahasa.
Menurut istilah ulama akidah islamiyah:
As-Sunnah secara bahasa dapat dibagi dua:
1- As-Sunnah Al-Hasanah
2- As-Sunnah A-Sayyi’ah
Sunnah hasanah ialah segala sesuatu yang menyangkut perkataan atau perbuatan, dan termasuk diantaranya yang menyangkut masalah watak atau tabiat atau perangai atau ahlak, apabila hal itu baik maka hal itu disebut sunnah hasanah. Tetapi apabila hal itu mengarah kepada kejelekan maka hal itu disebut sunnah sayyi’ah. Demikianlah pengertian as-sunnah. Karena itu kita katakan bahwa langit dan bumi atau alam semesta ini adalah merupakan sunnatullah, karena semuanya adalah diperbuat oleh Allah.
Dalil kata As-Sunnah secara bahasa adalah hadits berikut ini:

عَنْ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ:

َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ “. رواه مسلمDari Al-Mundzir bin Jarir dari ayahnya berkata: Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa melakukan didalam Islam suatu sunnah yang baik, maka baginya (mendapat) pahalanya dan pahala orang-orang (yang ikut) mengamalkannya sesudahnya, tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa melakukan didalam Islam suatu sunnah yang jelek, maka atasnya dosanya dan dosa orang-orang (yang ikut) mengamalkannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun”. Hr.Muslim
adapun dari Al-Qur’an adalah firman Allah:
84. Maka tatkala mereka melihat azab kami, mereka berkata: “Kami beriman Hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang Telah kami persekutukan dengan Allah”. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka Telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir”. Al-Mu;min: 84-85

38. Tidak ada suatu keberatanpun atas nabi tentang apa yang Telah ditetapkan Allah baginya. (Allah Telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang Telah berlalu dahulu . dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku. (39) (yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan”. AL-Ahzab: 38-39

As-Sunnah secara istilah ulama akidah islamiyah ialah: Petunjuk yang berjalan diatasnya Rasulullah -Shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya, baik dalam hal ilmu, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Inilah As-Sunnah yang wajib diikuti oleh semua ummatnya, yang akan menjadi terpuji ahlinya (pelakunya), dan akan tercela siapapun yang menyelisihinya. Maka seseorang dikenal sebagai Ahlussunnah, ya’ni karena dia selalu menjalani agamanya dan kehidupannya diatas garis sunnah (ajaran) yang telah diajarkan oleh Rasulullah  yang lurus dan terpuji. Dan menghindarkan diri dari perkara-perkara yang tidak diajarkan olehnya.

Pengertian Al-Jama’ah

Al-Jama’ah secara bahasa diambil dari asal kata: Jama’a (جمع) mengumpulkan. Kata ini maknanya berkisar antara: Al-Jam’u الْجَمْعُ)): mengumpulkan. Al-Ijma’u ( (الإِجْمَاعُ: Bersepakat. Al-Ijtima’u (الإجتماع) : berkumpul.

Al-Jama’ah secara istilah ulama akidah islamiyah:
Mereka adalah para pendahulu ummat, dari para sahabat, para tabi’in dan barangsiapa yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya sampai hari kiamat nanti. Yaitu mereka yang senantiasa berkumpul dan bersepakat diatas kebenaran yang terang dari alkitab dan assunnah .
Al-Jama’ah diucapkan untuk orang-orang yang berkumpul diatas kebenaran.
Abdullah bin Mas’ud  berkata:إِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ” “الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَِ
(Al-Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran meskipun anda seorang diri ).
Nu’aim bin Hammad rahimahulloh berkata:


“يَعْنِي إِذَا فَسَدَتْ الْجَمَاعَةُ فَعَليْكََ بِمَا كَانَتْ الْجَمَاعَةُ قَبْلَ أَنْ تَفْسِدَ, وَإِنْ كُنِتَ وَحْدَكَ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْجَمَاعَةُ حيْنَئِذٍ”
 

( ya’ni apabila terjadi kerusakan pada Al-Jama’ah, maka tetaplah anda pada apa-apa yang berada diatasnya Al-Jama’ah sebelum terjadi kerusa sunnakan , meskipun anda seorang diri, maka anda adalah Al-Jama’ah pada saat itu ).
Keistimewaan berjamaah:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قََالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلى الله علَيهِ وَسَلَّمَ : « مَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنًّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةََ فََإِِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ » رواه أبو بكر الأجري


Dari Umar bin Khaththab  brekata: Rasululah  bersabda: “Barangsiapa menghendaki (tempat) bagian tengah surga maka tetaplah diatas Al-Jamaah, maka sesungguhnya syaithan itu bersama orang yang sendirian sedang ia bersama dua orang adalah menjauh”. Hr. Al-Ajri


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الجَمَاعَةَ فَمَاتَ ، فَمَيتَة جَاهِلِيَّة » رواه أبو بكر الأجري
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah-Shollallohu alaihi wasallam-bersabda: “ Barangsiapa keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah, lalu ia mati , maka kematiannya adalah (kematian) jahiliyah”. Hr. Al-Ajri

عَنِ الأَوْزَاعِي ، قَالَ : ”خَمْسٌ كَانَ عَلَيْهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعُوْنَ بِإِحْسَانٍ : لُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ ، وَاتِّبَاعُ السُّنَّةِ ، وَعِمَارَةُ الْمَسَاجِدِ ، وَتِلاوَةُ القُرْآنِ ، وَالْجِهَادُ في سَبِيْلِ اللهِ” « : شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي

Auza’I “Lima perkara, diatasnya (berada) para sahabat Muhammad  Dari Al-Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya:
1- menetapi AL-Jamaah,
2- mengikuti sunnah,
3- memakmurkan masjid-masjid,
4- membaca Al-Qur’an
5- dan berjihat dijalan Allah” .
(Syarah ushul I’tiqat Ahlussunnah wal-jammah Al-Lalika’i)

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ”.رواه النسائي
Dari Auf bin Malik berkata: “Rasulullah -Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “ Ummat yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan masuk surga dan tujuh puluh golongan masuk neraka. Dan Nashrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, maka yang tujuh puluh satu golongan masuk nereka dan satu golongan masuk surga. Demi dzat yang diri Muhammad berada ditanganya, sungguh akan terpecah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka. (beliau) ditanya: Wahai Rasulullah! Siapa mereka?. Beliau menjawab: Al-Jamaah”. Hr. An-Nasa’i
عن ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً”. رواه البخاري
Dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma dari Nabi
-Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “ Barangsiapa melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dibenci maka bersabarlah atasnya, maka sesunguhnya barangsiapa memisahkan diri dari Al-Jamaah sejengkal saja lalu ia mati, melainkan kematiannya adalah kematian secara jahiliyyah”. Hr. Bukhari

Perintah Nabi -Shollallohu alaihi wasallam- kepada manusia agar berjamaah dan tidak berkelompok-kelompok dan melarang fanatik golongan.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:(… وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ وَالْجِهَادُ وَالْهِجْرَةُ وَالْجَمَاعَةُ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَّا أَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ ادَّعَى دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ فَإِنَّهُ مِنْ جُثَا جَهَنَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ قَالَ وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ فَادْعُوا بِدَعْوَى اللَّهِ الَّذِي سَمَّاكُمْ الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللَّهِ). قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Nabi bersabda: “…dan aku memerintahkan kepada kalian dengan lima perkara, Allah telah memerintahkan kepada dengannya: mendengar, taat, jihad, hijrah dan al-jamaah. Maka sesungghnyabarangsiapa memisahkan diri dari al-jamaah barang sejengkal saja, maka ia benar-benar telah melepaskan tali Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali, dan barangsiapa yang memanggil dengan panggilan jahiliyyah, maka sesungguhnya ia adal merupakan buihnya neraka jahannam. Maka seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah meskipun ia shalat dan berpuasa?. Nabi menjawab: “meskipun ia shalat dan berpuasa. Maka memanggillah kalian dengan panggilan Allah yang telah menyebut kalian dengan sebutan orang-orang Islam, orang-orang mu’min, hamba-hamba Allah”. Hr. Tirmidzi
Termasuk diantara panggilan jahiliyyah adalah seperti kebiasaan kaum muslimin saat ini, karena fanatisme golongan yang selalu ditonjolkan sehingga mereka saling memanggil satu dengan yang lainnya dengan nama kelompoknya dan mereka bangga dengan itu, maka terjadilah suatu ketika saling mencemooh antar sesama kaum muslimin. Semua ini tentunya tidak luput dari kesalahan pemahamannya terhadap agamanya.
Al-jamaah adalah merupakan hablullah (tali Allah)


عن ثابت بن قطبة أن عبد الله بن مسعود قال في خطبته : « يا أيها الناس ، عليكم بالطاعة والجماعة ، فإنها حبل الله الذي أمر به ، وما تكرهون في الجماعة خير مما تحبون في الفرقة » رواه أبو بكر الآجري
Dari Tsabit bin Quthbah bahwasanya Abdullah bin Mas’ud berkata dalam khutbahnya: “Wahai manusia, tetaplah kalian diatas ketaatan dan berjamaah, karena sesungguhnya ia adalah tali Allah yang diperintahkan, dan apasaja yang kalian benci didalam Al-Jamaah adalah lebih baik daripada apa-apa yang kalian menyukainya didalam perpecahan”. Hr. Abu Bakar Al-Ajri
Perkara yang dibenci, seperti adanya perselisihan antar jamaah dalam satu perkara, hal itu janganlah menjadikan perpecahan diantara jamaah, apalagi kemudian meninggalkannya, karena selama kita masih didalam Al-Jamaah dan masih meyakini kebenarannya, adalah masih lebih baik daripada hidup tenang dalam kebersamaan dan kesenangan akan tetapi berada pada jalan yang tidak benar, seperti ketika seseorang berada dalam kelompok-kelompok (firqoh) yang sesat . Seseorang apabila semakin mapan kedudukannya didalam berkelompok, karirnya semakin terangkat, itu bukanlah menunjukkan baiknya orang tersebut, tetapi itu adalah sebagai bukti bahwa orang tersebut semakin buruk, karena sesorang tidak akan terangkat didalam sebuah kelompok kalau tidak karena loyalnya yang tinggi terhadap kelompoknya. Ketika ada seseorang melakukan keanehan dalam kelompoknya seperti sok kritis terhadap apa-apa yang ia yakini tidak benar menurut sunnah, maka sudah menjadi kebiasaan ia akan dikucilkan dari kelompoknya. Hal ini adalah merupakan masalah yang sangat disayangkan, karena ia lebih takut kepada manusia daripada takut salah dihadapan Tuhannya. Kenyataan dilapangan telah membuktikan, bahwa banyak tokoh-tokoh (para da’I, para kiyai atau ustadz) dalam rangka mempertahankan kedudukannya, mereka rela meninggalkan kebenaran, rela menolak dalil yang shohih karena takut kehilangan massa, pangkat atau jabatan, bahkan sering sekali terjadi agar terus mendapatkan kepercayaan dari masyarakatnya dia berusaha menggatuk-gatukkan dalil untuk membolehkan atau membenarkan kebid’ahan yang terjadi. Dan diantara bentuk mempertahankan harga diri mereka ialah tatkala ada orang baru atau anak muda menyerukan suatu kebenaran kepada masyarakatnya, lalu timbul diantara mereka suatu kebimbangan terhadap apa yang selama ini mereka terima, maka tidak sedikit dari para tokoh ini tampil dengan memusuhinya, memfitnahnya, mempersesatkannya, bahkan ketika tidak berhasil dengan sekedar kritikan, sampai kepada pembunuhan. Jadi artinya kemurkaan manusia lebih mereka takuti daripada murka Tuhannya.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: