Al-Islam


Keutamaan Islam ke 2
Keutamaan Islam dibandingkan dengan agama-agama yang lainnya adalah merupakan masalah yang harus dipikirkan oleh semua manusia. Manusia dalam masalah agama pada umumnya beranggapan akan kebebasan beragama, seakan-akan masalah agama adalah sama halnya dengan masalah HAM atau masalah kemasyarakatan biasa, dimana masing-masing punya hak untuk menyalurkan aspirasinya, atau semata-mata permasalahan pribadi yang orang lain tidak boleh mencampurinya sehingga ketika ada yang berdakwah kepadanya, dia berkata: “biarkan aku sendiri menentukan agama, anda gak usah mencampuri urusanku, atau seperti yang dikatakan oleh seorang tokoh (di TELEVISI) tatkala ummat Islam dihebohkan oleh kelompok AHMADIYYAH yang bernabi MIRZA GHULAM AHMAD, dimana dengan seperti itu mereka benar-benar telah kafir, tokoh tersebut mengatakan: “biarkan aja mereka, itu kan hak asasi mereka”, dan lain sebagainya yang sering nyeleneh muncul ditengah-tengah ummat ini. Demikianlah fenomena agama di hadapan ummat ini, padahal masalah agama adalah masalah yang hampir tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia, silahkan anda lihat bagaimana ketergantungan alam ini satu dengan yang lainnya, ketidak berdayaan manusia keluar dari aturan hidup adalah merupakan satu bukti bahwa manusia itu memang harus beraturan.
Dalam pola kehidupan bermasyarakat saja kalau kita tidak menjaga lidah kita sedikit saja hampir-hampir saja kita ditaboki orang banyak, setidaknya kalau ada seorang manusia bergaya semaunya, dia akan dipandang jelek oleh orang lain. Sebab akibat yang menyelubungi kehidupan manusia, adalah satu hal yang menentukan bahwa manusia itu tidak bisa hidup tanpa aturan. Dan aturan hidup itu nampaknya memang telah diseting oleh Allah , kita lihat alam semesta dengan letak, posisi yang teratur rapi satu dengan yang lainnya saling berpautan, kehidupan alamiyyah yang berjalan dengan mesra sesuai dengan fitrah masing-masing, bentuk dan karakter serta jenis yang berbeda-beda namun semua itu ternyata berjalan diatas jalan hidup yang teratur dan rapi, sehingga tatkala ada diantara mahluk ini yang menyimpang dari jalan fitrah yang telah digariskannya, maka ia akan menghadapi kehancuran. Disinilah akal yang diberikan oleh Allah  harus dimanfaatkan agar kita bisa membawa diri kita kepada kehidupan yang hakiki. Demikianlah kehidupan ini, maka agama adalah solusi dari semua permasalahan ini bagi manusia, sehingga agama menjadi bagian terbesar dalam segala pesoalan kehidupan manusia, dan hal ini adalah merupakan keniscayaan yang tak terelakkan, peperangan antar bangsapun terjadi karena masalah agama, sehingga disadari atau tidak, maka agama adalah sesuatu yang penting bagi kehidupan ini.
Kalau demikian halnya maka sudah pasti bahwa hidup ini harus beragama, dan karena pentingnya sehingga memastikan bahwa dalam masalah keagamaan tentu ada yang benar, sehingga apabila kita memeluknya pasti akan selamat. Dan ada yang salah, sehingga apabila kita memeluknya kita akan tersesat.
Karena dalam hal keagamaan itu tidak mungkin semua benar, karena Dzat Yang Maha benar itu pasti hanya satu, sehingga tidak adil dan tidak pantas kalau Yang Maha benar membuat suatu agama yang tidak benar kemudian mahluk ini dipaksa untuk memeluknya. Mungkin ada diantara kita yang mengatakan: “ternyata agama itu banyak, apakah ini tidak diciptakan?”. Jawabannya: memang benar agama itu banyak tetapi diantara agama itu ada yang sekedar dijadikan olehNya sebagai tandingan untuk sebuah uji coba, dalam menentukan siapa sesungguhnya pemeluk agama yang benar itu?. Dan untuk uji coba siapa yang sebenarnya beriman kepadaNya dengan keimanan yang salah. Dan perbedaannya adalah kalau agama yang benar, ia pasti diciptakan langsung oleh Yang Maha benar dengan dalil-dalil yang akurat akan kebenarannya, disampaikan melalui malaikat Jibril lalu disampaikan kepada Rasulullah . Adapun agama yang salah, pasti hanyalah hasil cipta rasa dan rekayasa manusia belaka, meskipun kemampuan manusia itu tetap dibawah kemauan Allah, hanya saja karena agama tersebut hanya akan diperuntukkan untuk uji coba, siapa diantara kita yang benar-benar teguh keimanannya kepadaNya dan siapa yang kemudian berbelok kepada kekafiran, maka hal itu datangnya dari manusia. Dan bentuk keagamaan hasil ciptaan manusia perbedaannya sangat jauh dengan yang langsung dari Allah, karena yang datang dari Allah berupa agama tauhid.
Perbedaan itu dapat kita baca dan kita rasakan pada perbedaan antara Islam dan agama-agama selainnya, dimana Islam adalah satu-satunya agama yang membawa mahluk ini (hususnya manusia) kepada bertauhid (memaha Esakan) Allah , sedangkan agama selainnya adalah sangat beragam sesauai dengan keinginan kepercayaan mereka masing-masing. Ada yang menyembah manusia seperti agama Kristen, ada yang menyembah batu, ada yang menyembah dewa-dewa yang gak jelas dan sesembahan yang lainnya.
Wahai manusia!. Apakah sama antara yang menyembah Allah Dzat Yang menciptakan langit dan bumi ini dangan mereka yang menyembah sesama mahluk yang dia juga diciptakan?. Tentu tidak sama. Mana yang akan menjadi pilihan akal kita!. Mari nikmat akal yang diberikan secara Cuma-Cuma oleh Allah  ini kita mamfaatkan untuk memilih.
Dalam menentukan pilihan
Setiap agama menawarkan diri untuk dipilih, dianut dan dlaksanakan, Islam adalah salah satunya, dia mengajak kita agar memasukinya, mentaati perintahnya dan menjahui larangannya. Sebagaimana dalam firman Allah  (Al-Baqrah: 208)
“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Pada ayat ini Allah  memerintahkan kepada para hambanya yang beriman kepadaNya, yang membenarkan terhadap RasulNya, agar menjalankan seluruh tali-tali Islam dan syariatnya dengan mengamalkan segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya semampunya.
Bahkan didalam surat (Ali Imran: 85) Allah mewajibkan kepada manusia agar beragama Islam dan jangan beragama lain.
“ Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Juga pada surat Al-An’am: 153
“ Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.
Adapun dalil dari As-Sunnah tentang larangan menyimpang dari perintah Allah . Adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah radhiyallahu anha, bahwasanya Rasulullah  bersabda: “ Barangsiapa mengadakan hal baru didalam urusan (agama) kami ini, apa-apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak”.
Imam bukhari meriwayatkan dari Abi Hurairah  berkata: Rasulullah  bersabda: “semua ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan (menolak). Ditanya: “ dan siapakah yang enggan itu?. Beliau menjawab: “Barangsiapa taat kepadaku, maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, berarti ia telah enggan (menolak)”.
Allah mengancam bagi mereka yang menolak agamaNya yaitu mereka yang menyibukkan diri dengan agama yang dibikin oleh manusia. Dalam firmanNya: Ar-Rum: 43-45

“Oleh Karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah (sebagian disurga dan sebagian di neraka)”.
“Barangsiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan)”,
“ Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar”.
Demikianlah Islam mengajak kepada manusia agar memeluknya sebagai agamanya dalam rangka menjalankan perintah Allah  dan menjauhi laranganNya, sedangkan Allah  itu bagi alam semesta ini adalah penciptanya, pemeliharanya dan Yang Maha memilikinya, Yang Maha pantas untuk di imani dan disembah. Semoga akal kita yang merupakan pemberian dariNya semata, mampu membawa diri kita dan memilihNya sebagai Tuhannya amin.

Tinggalkan Balasan