MANISNYA IMAN V

Manisnya Iman V
Betapa indahnya sebuah kehidupan yang berhias keimanan, dan senantiasa berbaju keridho’an dari Tuhannya. Sebuah kehidupan yang senantaiasa bertaburan nilai-nilai emas, serta puji Tuhan yang senantiasa meronai wajahnya, perlindunganNya yang selalu menyertainya. Sebuah kehidupan yang ROBBANI, yang senantiasa terdidik diatas nilai-nilai ILAHIYYAH, yang bertaburan ma’na ilmu dan amal.

Kendali yang kokoh
Iman adalah merupakan [...]

manisnya iman IV

Manisnya Iman [IV]

Iman dengan kapasitas ma’nanya yang bernuansa pembenaran adanya Tuhan Allah Subahanahu Wata’ala, yang menjadi sebab terangkatnya seorang manusia menjadi seorang hamba yang diakui sebagai hamba.
Yang menjadi sebab terpujinya kehidupan seorang manusia, dan menjadi sebab seorang manusia menggapai ridhoNya, dan menjadikan seorang manusia dibebaskan dari JAHANNAM, meski keberadaannya hanyalah sebesar biji atom atau [...]

DO’A KETIKA PUNYA HUTANG

Do’a ketika punya hutang

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ المَسْجِدَ ، فَإِذًا هُوَ بِرَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ : أَبُو أُمَامَةَ ، فَقَالَ ” يَا أَبَا أُمَامَةَ ! مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلاةٍ ؟ [...]

Kisah: Orang terakhir masuk surga

Al-Kisah

ORANG YANG TERAKHIR MASUK SURGA

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang terakhir masuk ke surga adalah seorang laki-laki ia sesekali berjalan dan sesekali tersandung dan sesekali dihanguskan oleh api neraka, maka tatkala ia telah melewatinya (keluar dari neraka), ia menoleh kepadanya lalu berkata: [...]

PENGERTIAN AHLUSSUNNAH

PENGERTIAN AHLUSSUNNAH

As-Sunnah (السنة) secara bahasa: yaitu At-Thoriiqotu (الطريقة):  jalan.  As-Syiirotu (السيرة): sejarah hidup, baik terpuji keadaannya atau tercela.
Maksudnya, bahwa kebiasaan yang sering dilakukan oleh seseorang seperti suka baca Al-Qur’an, berkata lembut, peramah, pemarah, suka nyanyi, omong kotor, suka mencuri, apapun yang telah menjadi kebiasaan seseorang itulah sunnahnya.
Sehingga adakalanya dikatakan: orang ini [...]

KEUTAMAAN BERDZIKIR

KEUTAMAAN BERDZIKIR
Berdzikir artinya mengingat Allah Ta’ala dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir atau memujinya dengan pepujian yang layak bagiNya di waktu pagi, siang, petang dan malam. Berdzikir kepada Allah bukan hanya berupa kalimat-kalimat thoyyibah, tetapi bisa berupa memikirkan dan mengakui akan kebesarannya dalam segala sesuatu, termasuk berusaha memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –Shollallohu alihi Wasallam- [...]

DEEFINISI IBADAH

Definisi Ibadah

Sebagian kaum Muslimin masih ada yang beranggapan bahwa ibadah hanya merupakan salah satu bagian dari sisi kehidupan. Mereka mengira bahwa ibadah tidak ada kaitannya dengan masalah ekonomi, sosial, politik dan sebagainya, tetapi hanya suatu jenis aktivitas tertentu yang bersifat ritual belaka. Kesalahan dalam pemahaman ini akan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai Islam dalam banyak [...]

TUNTUNAN THOHAROH

TUNTUNAN THAHARAH  (BER WUDHU )
Wudhu adalah thaharah yang wajib dari hadats kecil, seperti buang air kecil, buang air besar, keluar angin (kentut), tidur nyenyak dan makan daging onta.
Tata Cara Berwudhu

Niat wudhu di dalam hati, tanpa diucapkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melisankan niat dalam berwudhu, shalat dan ibadah apapun. Allah mengetahui [...]

Manisnya Iman (II) رَوَى الإِمَامُ مُسْلِمُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas; Bahwasanya ia mendengar Rasulullah –Shollallohu alihi wasallam- bersabda: “Akan merasakan enaknya iman barangsiapa ridho: - Allah sebagai Tuhannya - dan Islam sebagai agamanya - Muhammad –Shollallohu alihi wasallam- rasulnya”. Imam Nawawi dalam syarah Muslim berkata: Shohibut Tahrir –rahimahullah- berkata: “Arti (aku rela terhadap sesuatu), yaitu: aku menerima dengannya dan aku merasa cukup dengannya dan aku tidak mencari bersamanya selainnya. Kandungan ma’na Al-Hadits - Tidak mencari Tuhan selain Allah Ta’ala - Tidak berjalan pada selain jalan Islam - Dan tidak mengikuti suatu jalan, kecuali apa-apa yang sesuai dengan syari’at Muhammad (Shollallohu alihi wasallam). Sungguh tidak diragukan lagi bahwasanya barangsiapa yang bersifat dengan ketiga perkara diatas, maka sampailah HALAAWATUL IMAN (manisnya iman) kedalam hatinya, dan akan merasakan enaknya. Al-Qodhi Iyadh –rahimahullah- berkata: arti hadits ini adalah: - Menjadi benar imannya - Menjadi tenang jiwanya dengannya - Dan terpenuhi batinnya. Semuanya dikarenakan ridhonya terhadap perkara diatas menunjukkan teguhnya pengetahuannya dan berlangsungnya pengetahuannya, dan bercampurnya keceriaannya dengan hatinya. Karena barangsiapa yang rela terhadap sesuatu maka ia akan menjadi mudah baginya. Maka begitulah keadaan seorang mu’min, manakala telah masuk kaedalam hatinya iman, maka menjadi mudahlah atasnya menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan akan terasa lezat baginya. Wallaahu A’lam. رَوى النَّسَائِي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَطَعْمَهُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ فِي اللَّهِ وَأَنْ يَبْغُضَ فِي اللَّهِ وَأَنْ تُوقَدَ نَارٌ عَظِيمَةٌ فَيَقَعَ فِيهَا أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا An-Nasa’I meriwayatkan dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah –Shollallohu alihi wasallam- : “Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman dan rasanya iman: - Hendaknya Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selain keduanya - Da hendaknya ia mencintai karena Allah dan bencipun karena Allah - Dan (sekiranya ) dinyalakan api yang besar, lalu ia jatuh kedalamnya, adalah lebih disukai olehnya daripada mempersekutukan Allah dengan sesuatu”. Halaawtul iman Artinya adalah kalapangan dada dengannya, dan enaknya hati baginya yang menyerupai lezatnya suatu makanan yang sampai kedalam mulut. THO’MUL IMAN THO’MUL IMAN Artinya rasanya iman maksudnya adalah kejinaan hati terhadapnya, ada yang berpendapat: bahwa AL-HALAWAH (kemanisan) adalah AL-husnu (kebaikan). Secara umum, maka iman itu mempunyai kelezatan didalam hati yang menyeruapai kemanisan yang bersifat nyata, bahkan terkadang kemanisan itu bisa menjadi sangat kuat atasnya sehingga bisa menetralisir kepahitan yang sangat. Yang seperti ini hanya akan bisa diketahui oleh orang-orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah –Subhanahu Wata’ala- terhadap Islam. “ALLAAHUMMAR ZUQNAA MA’AD DAWAAMI ‘ALAIHAA” (Ya, Allah berilah kami rizki dengan terus menerus berada diatasnya) AT-TAYMII berkata: “HALAAWATUL IMAN adalah HASAATUN (kebaikan). Kalau dikatakan: sesuatu itu menjadi manis di dalam mulut” apabila ia menjadi manis. Dan sesutau itu baik dalam pandangan mata atau di hati, maka dikatakan: “ia menjadi manis dalam pandangan mataku” ya’ni kebaikannya. Dan berkata selainnya: “Pada kemanisan iman itu adalah sebuah imajinasi penyerupaan terhadap kecintaan seorang mu’min terhadap keimanan dengan sesuatu yang rasanya manis. Dan komitmennya terhadap sesuatu itu sendiri yang membenarkan hal itu. Dan hal ini bisa dilihat dari isyarat pada kisah-kisah antara orang sakit dengan orang yang sehat. Orang yang sedang sakit parah, dia mendapati rasanya madu itu pahit sekali, padahal bagi orang yang sedang sehat, madu adalah minuman yang paling manis dimuka bumi ini. Begitulah kisah akan kemahalan sehat bagi kehidupan, maka setiap terkurangi kesehatan sedikit saja, maka terkurangilah rasa madu yang manis itu sedikit demi sedikit seukuran rasa sakit yang menimpanya. Ini adalah sebuah isyarat, bahwa dalam kehidupan manusia ada tingkatan-tingkatan derajat disisi Allah –Subhanahu Wata’ala-, bahwa semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang dan ketakwaannya, semakin tinggi pula kedudukannya (derajatnya), demikian pula tatkala keimanan seseorang menjadi merosot, maka derajatnyapun menjadi menurun, sehingga apabila dalam hal ini terus menerus terjadi dengan disadari atau tidak disadari, maka sampailah seseorang pada derajat yang terendah atau bahkan bisa menyebabkan hangusnya keimanannya. Wal iyaadzu billah.