Al-Iman

Kitab Iman

1. Iman, Islam, ihsan dan kewajiban beriman kepada takdir
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (Shahih Muslim No.10)
2. Salat lima waktu adalah salah satu rukun Islam
• Hadis riwayat Thalhah bin Ubaidillah ra., ia berkata:
Seseorang dari penduduk Najed yang kusut rambutnya datang menemui Rasulullah saw. Kami mendengar gaung suaranya, tetapi kami tidak paham apa yang dikatakannya sampai ia mendekati Rasulullah saw. dan bertanya tentang Islam. Lalu Rasulullah saw. bersabda: (Islam itu adalah) salat lima kali dalam sehari semalam. Orang itu bertanya: Adakah salat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukan salat sunat. Kemudian Rasulullah bersabda: (Islam itu juga) puasa pada bulan Ramadan. Orang itu bertanya: Adakah puasa lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin melakukan puasa sunat. Lalu Rasulullah saw. melanjutkan: (Islam itu juga) zakat fitrah. Orang itu pun bertanya: Adakah zakat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin bersedekah. Kemudian lelaki itu berlalu seraya berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambahkan kewajiban ini dan tidak akan menguranginya. Mendengar itu, Rasulullah saw. bersabda: Ia orang yang beruntung jika benar apa yang diucapkannya. (Shahih Muslim No.12)
3. Pertanyaan tentang rukun Islam
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sesuatu. Yang mengherankan kami bahwa seorang badui yang beradab mengajukan pertanyaan kepada beliau dan kami mendengarkan. Suatu hari datang seorang badui, lalu berkata: Wahai Muhammad, utusanmu telah datang kepada kami, ia mengatakan bahwa engkau menyatakan bahwa Allah telah mengutusmu. Rasulullah saw. menjawab: Benar. Orang itu bertanya: Kalau begitu, siapakah yang menciptakan langit? Rasulullah saw. menjawab: Allah. Orang itu bertanya: Siapakah yang menciptakan bumi? Rasulullah saw. menjawab: Allah. Orang itu bertanya: Siapakah yang menegakkan gunung-gunung ini dan menjadikan sebagaimana adanya? Rasulullah saw. menjawab: Allah. Orang itu berkata: Demi Zat yang telah menciptakan langit, menciptakan bumi dan menegakkan gunung bahwa Allah-lah yang mengutusmu? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Orang itu berkata: Utusanmu mengatakan bahwa kami wajib mengerjakan salat lima waktu dalam sehari semalam. Rasulullah saw. menjawab: Benar. Orang itu berkata: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu? Rasulullah saw. menjawab: Benar. Orang itu berkata: Utusanmu mengatakan, bahwa kami wajib mengeluarkan zakat harta kami. Rasulullah saw. menjawab: Benar. Orang itu bertanya: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Orang itu berkata: Utusanmu juga mengatakan bahwa kami diwajibkan puasa pada bulan Ramadan. Rasulullah saw. menjawab: Benar. Orang itu bertanya: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Orang itu berkata: Utusanmu mengatakan pula bahwa kami wajib menunaikan ibadah haji ke Baitullah, jika mampu. Rasulullah saw. menjawab: Benar. Kemudian orang itu pergi, seraya berkata: Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan menambahkan atau mengurangi semua apa yang telah engkau terangkan. Mendengar itu, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya jika benar apa yang diucapkan, ia akan masuk surga. (Shahih Muslim No.13)
4. Iman menyebabkan masuk surga dan barang siapa menjalankan apa yang diperintahkan, niscaya ia akan masuk surga
• Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.:
Bahwa Seorang badui menawarkan diri kepada Rasulullah saw. dalam perjalanan untuk memegang tali kekang unta beliau. Kemudian orang itu berkata: Wahai Rasulullah atau Ya Muhammad, beritahukan kepadaku apa yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka. Nabi saw. tidak segera menjawab. Beliau memandang para sahabat, seraya bersabda: Ia benar-benar mendapat petunjuk. Kemudian beliau bertanya kepada orang tersebut: Apa yang engkau tanyakan? Orang itu pun mengulangi perkataannya. Lalu Nabi saw. bersabda: Engkau beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat, menunaikan zakat dan menyambung tali persaudaraan. Sekarang, tinggalkanlah unta itu. (Shahih Muslim No.14)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa seorang badui datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang apabila aku lakukan, aku akan masuk surga. Rasulullah saw. bersabda: Engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat fardu, membayar zakat dan puasa Ramadan. Orang itu berkata: Demi Zat yang menguasai diriku, aku tidak akan menambah sedikit pun dan tidak akan menguranginya. Ketika orang itu pergi, Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang senang melihat seorang ahli surga, maka lihatlah orang ini. (Shahih Muslim No.16)
5. Rukun Islam dan pilar-pilarnya
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, puasa Ramadan dan menunaikan haji. (Shahih Muslim No.19)
6. Perintah beriman kepada Allah dan rasul-Nya, hukum-hukum agama, seruan, bertanya, memeliharanya dan menyampaikannya kepada orang lain
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Rombongan utusan Abdul Qais datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata: Wahai Rasulullah, kami berasal dari dusun Rabiah. Antara kami dan engkau, terhalang oleh orang kafir Bani Mudhar. Karena itu, kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada bulan-bulan Haram (yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab). Karena itu, perintahkanlah kami dengan sesuatu yang dapat kami kerjakan dan kami serukan kepada orang-orang di belakang kami. Rasulullah saw. bersabda: Aku memerintahkan kepada kalian empat hal dan melarang kalian dari empat hal. (Perintah itu ialah) beriman kepada Allah kemudian beliau menerangkannya. Beliau bersabda: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat dan memberikan seperlima harta rampasan perang kalian. Dan aku melarang kalian dari arak dubba’ (arak yang disimpan dalam batok), arak hantam (arak yang disimpan dalam kendi yang terbuat dari tanah, rambut dan darah), arak naqier (arak yang disimpan dalam kendi terbuat dari batang pohon) dan arak muqayyar (arak yang disimpan dalam potongan tanduk). (Shahih Muslim No.23)
7. Ajakan kepada dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam
• Hadis riwayat Muaz ra., ia berkata:
Rasulullah saw. mengutusku, beliau bersabda: Engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Karena itu, ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Jika mereka taat, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Kalau mereka taat, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka membayar zakat, yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka. Jika mereka taat, maka waspadalah terhadap harta pilihan mereka. Dan takutlah engkau dari doa orang yang dizalimi, karena doa itu tidak ada sekat dengan Allah Taala. (Shahih Muslim No.27)
8. Perintah memerangi manusia hingga mereka mengucap “laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah”, mendirikan salat, mengeluarkan zakat dan beriman kepada semua yang dibawa oleh Rasulullah saw. siapa melakukan semua itu, maka akan terpelihara diri dan hartanya kecuali dengan alasan yang benar, memerangi orang yang enggan mengeluarkan zakat atau enggan menunaikan hak-hak Islam yang lain dan kepedulian imam terhadap syiar-syiar Islam
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. wafat dan kekhalifahan digantikan oleh Abu Bakar, sebagian masyarakat Arab kembali kepada kekufuran. (Ketika Abu Bakar ingin memerangi mereka), Umar bin Khathab berkata kepada Abu Bakar: Kenapa engkau memerangi manusia (orang-orang murtad), bukankah Rasulullah saw. telah bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Barang siapa telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah berarti harta dan dirinya terlindung dariku, kecuali dengan sebab syara, sedangkan perhitungannya terserah pada Allah. Abu Bakar menanggapi: Demi Allah, aku akan perangi orang yang membedakan antara salat dan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan memberikan zakat binatang ternak kepadaku yang sebelumnya mereka bayar kepada Rasulullah saw., niscaya aku akan perangi mereka karena tidak membayar zakat binatang ternak. (Shahih Muslim No.29)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan: Laa ilaaha illallah, barang siapa telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah, maka harta dan dirinya terlindung dariku, kecuali dengan sebab syara, sedangkan perhitungannya (terserah) pada Allah. (Shahih Muslim No.30)
• Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw. adalah utusan Allah, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat. Barang siapa melaksanakannya berarti ia telah melindungi diri dan hartanya dariku kecuali dengan sebab syara, sedang perhitungannya (terserah) pada Allah Taala. (Shahih Muslim No.33)
9. Dalil keabsahan Islam seseorang menjelang kematian, asal belum sekarat, membatalkan dibolehkannya istigfar untuk orang-orang musyrik dan dalil bahwa orang yang mati dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka jahim, tak dapat dibebaskan dengan perantaraan apa pun
• Hadis riwayat Musayyab bin Hazn ra., ia berkata:
Ketika Abu Thalib menjelang kematian, Rasulullah saw. datang menemuinya. Ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai pamanku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, ucapan yang dapat kujadikan saksi terhadapmu di sisi Allah. Tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib? Rasulullah saw. terus-menerus menawarkan kalimat tersebut dan mengulang-ulang ucapan itu kepada Abu Thalib, sampai ia mengatakan ucapan terakhir kepada mereka, bahwa ia tetap pada agama Abdul Muthalib dan tidak mau mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, demi Allah, aku pasti akan memintakan ampunan buatmu, selama aku tidak dilarang melakukan hal itu untukmu. Kemudian Allah Taala menurunkan firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim. Dan mengenai Abu Thalib, Allah Taala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Shahih Muslim No.35)
10. Dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mati dalam keadaan menetapi tauhid, niscaya akan masuk surga
• Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Nabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan. (Shahih Muslim No.41)
• Hadis riwayat Muaz bin Jabal ra., ia berkata:
Aku pernah membonceng Nabi saw, yang memisahkan antara aku dan beliau hanyalah bagian belakang pelana. Beliau bersabda: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau bersabda lagi: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau kembali memanggil: Hai Muaz bin Jabal. Aku pun menyahut: Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Beliau bersabda: Tahukah engkau, apa hak Allah atas para hamba? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba, yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Setelah berjalan sesaat, beliau memanggil lagi: Hai Muaz bin Jabal Aku menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. bertanya: Tahukah engkau apa hak hamba atas Allah, bila mereka telah memenuhi hak Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan menyiksa mereka. (Shahih Muslim No.43)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. dan Muaz bin Jabal berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah saw. bersabda: Hai Muaz. Muaz menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. memanggil lagi: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah saw. memanggil: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. bersabda: Setiap hamba yang bersaksi bahwa: Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan api neraka atasnya. Muaz berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang banyak agar mereka merasa senang? Rasulullah saw. bersabda: Kalau engkau kabarkan, mereka akan menjadikannya sebagai andalan. (Shahih Muslim No.47)
• Hadis riwayat Itban bin Malik ra.:
Dari Mahmud bin Rabi` ia berkata: Aku datang ke Madinah dan bertemu Itban. Dan aku berkata: Aku mendengar cerita tentang engkau. Itban berkata: Mataku terkena suatu penyakit. Lalu aku menyuruh orang menghadap Rasulullah saw. untuk mengatakan kepada beliau bahwa aku ingin engkau (Rasulullah saw.) datang dan mengerjakan salat di rumahku, sehingga aku dapat menjadikannya sebagai mushalla. Nabi pun datang bersama beberapa orang sahabat beliau. Beliau masuk dan mengerjakan salat di rumahku. Sementara itu para sahabat saling berbincang di antara mereka. Mereka umumnya sedang membicarakan Malik bin Dukhsyum (artinya, mereka membicarakan sikap orang-orang munafik yang buruk, di antaranya Malik). Mereka ingin Rasulullah saw. berdoa agar Malik mendapat celaka. Mereka ingin ia tertimpa malapetaka. Ketika Rasulullah saw. selesai salat, beliau bertanya: Bukankah ia bersaksi: Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Para sahabat menjawab: Memang benar ia mengucapkan itu, tetapi itu tidak ada dalam hatinya. Rasulullah saw. bersabda: Seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidak akan masuk neraka atau dimakan api neraka. (Shahih Muslim No.48)
11. Menerangkan jumlah cabang iman, yang paling tinggi dan yang paling rendah, keutamaan malu dan bahwa malu termasuk iman
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman. (Shahih Muslim No.50)
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. mendengar seseorang menasehati saudaranya dalam hal malu, lalu Nabi saw. bersabda: Malu adalah bagian dari iman. (Shahih Muslim No.52)
• Hadis riwayat Imran bin Husaini ra., ia berkata:
Nabi saw. pernah bersabda: Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. (Shahih Muslim No.53)
12. Menerangkan keutamaan Islam dan ajarannya yang paling utama
• Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. Islam manakah yang paling baik? Rasulullah saw. bersabda: Memberikan makanan, mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal. (Shahih Muslim No.56)
• Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: Orang Islam manakah yang paling baik? Rasulullah menjawab: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.57)
• Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.59)
13. Menerangkan sikap-sikap yang mendatangkan manisnya iman
• Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60)
14. Wajib lebih mencintai rasulullah saw. dari keluarga, anak, orang-tua dan semua manusia, serta memastikan bahwa seseorang yang tidak memiliki cinta semacam ini berarti tidak ada iman dalam dirinya
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang. (Shahih Muslim No.62)
15. Dalil sebagian dari iman adalah cinta seseorang kepada sesama muslim seperti ia mencintai dirinya sendiri
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri. (Shahih Muslim No.64)
16. Sunat memuliakan tetangga dan tamu, berdiam diri kecuali untuk kebaikan, menerangkan bahwa semua itu termasuk iman
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. (Shahih Muslim No.67)
• Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Shahih Muslim No.69)
17. Mencegah kemungkaran itu termasuk iman, bahwa iman dapat bertambah atau berkurang, bahwa memerintahkan yang makruf (kebaikan) dan melarang kemungkaran itu wajib
• Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Dari Thariq bin Syihab ra. ia berkata: Orang yang pertama berkhutbah pada hari raya sebelum salat Ied adalah Marwan. Ada seseorang yang berdiri mengatakan: Salat Ied itu sebelum khutbah. Marwan menjawab: Telah ditinggalkan apa yang ada di sana. Abu Said berkata: Orang ini benar-benar telah melaksanakan kewajibannya. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (Shahih Muslim No.70)
18. Kelebihan orang beriman dan keunggulan penduduk Yaman
• Hadis riwayat Abu Masud ra., ia berkata:
Nabi saw. pernah memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sana, sedangkan kekerasan dan kekasaran hati ada pada orang-orang yang bersuara keras di dekat pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk setan, yaitu pada golongan Rabiah dan Bani Mudhar. (Shahih Muslim No.72)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Penduduk Yaman datang. Mereka lebih halus hatinya. Iman ada pada orang Yaman, fikih ada pada orang Yaman dan Hikmah ada pada orang Yaman. (Shahih Muslim No.73)
19. Menjelaskan bahwa agama adalah nasehat
• Hadis riwayat Jarir bin Abdullah ra., ia berkata:
Aku berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk selalu mendirikan salat, memberikan zakat dan memberi nasehat baik kepada setiap muslim. (Shahih Muslim No.83)
20. Menerangkan kurangnya iman sebab maksiat dan kekosongan iman pelakunya
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman. (Shahih Muslim No.86)
21. Menjelaskan tanda-tanda munafik
• Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah bersabda: Ada empat sifat yang bila dimiliki maka pemiliknya adalah munafik murni. Dan barang siapa yang memiliki salah satu di antara empat tersebut, itu berarti ia telah menyimpan satu tabiat munafik sampai ia tinggalkan. Apabila berbicara ia berbohong, apabila bersepakat ia berkhianat, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila bertikai ia berbuat curang. (Shahih Muslim No.88)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat.
(Shahih Muslim No.89)
22. Menerangkan keadaan iman seseorang yang mengatakan kepada sesama muslim: Hai, kafir!
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). (Shahih Muslim No.91)
23. Menjelaskan iman orang yang membenci ayahnya, padahal ia tahu bahwa orang tersebut adalah ayah kandungnya
• Hadis riwayat Abu Zar ra.:
Bahwa Ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Setiap orang yang mengaku keturunan dari selain ayahnya sendiri, padahal ia mengetahuinya, pastilah ia kafir (artinya mengingkari nikmat dan kebaikan, tidak memenuhi hak Allah dan hak ayahnya). Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya. (Shahih Muslim No.93)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir. (Shahih Muslim No.94)
• Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
Kedua telingaku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang mengakui seseorang dalam Islam sebagai ayah, sedangkan ia tahu bahwa itu bukan ayahnya, maka diharamkan baginya surga. (Shahih Muslim No.95)
24. Menjelaskan sabda Nabi saw. bahwa mencaci-maki orang Islam adalah fasik dan memeranginya adalah kafir
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Mencaci-maki orang Islam adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran. (Shahih Muslim No.97)
25. Menjelaskan makna sabda Nabi saw.: Janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian membunuh sebagian yang lain
• Hadis riwayat Jarir ra., ia berkata:
Ketika haji wada, Nabi saw. bersabda kepadaku: Suruhlah orang-orang diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda: Janganlah sesudah kutinggalkan, kalian kembali menjadi orang-orang kafir, di mana sebagian membunuh sebagian yang lain. (Shahih Muslim No.98)
26. Menerangkan kekafiran orang yang mengatakan: Kita diberi hujan oleh bintang tertentu
• Hadis riwayat Zaid bin Khalid Al-Juhaini ra., ia berkata:
Rasulullah saw. melakukan salat bersama kami di Hudaibiyah, sesudah hujan turun semalam. Seusai salat, beliau mendatangi para sahabatnya, lalu bersabda: Tahukah kalian apa yang telah difirmankan Tuhan kalian? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Allah berfirman: Di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir di pagi ini. Orang yang berkata: Kita diturunkan hujan karena anugerah dan rahmat Allah, maka orang itu beriman kepada-Ku dan mengingkari bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata: Kita diturunkan hujan oleh bintang ini atau bintang itu, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang-bintang. (Shahih Muslim No.104)
27. Dalil yang menunjukkan bahwa mencintai sahabat Ansar termasuk iman dan tanda-tandanya, sedangkan membenci mereka termasuk tanda kemunafikan
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Ansar dan tanda keimanan adalah mencintai sahabat Ansar. (Shahih Muslim No.108)
• Hadis riwayat Barra’ ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda tentang kaum Ansar: Yang mencintai mereka hanyalah orang yang beriman dan yang membenci mereka hanyalah orang munafik. Barang siapa yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya. Dan Barang siapa yang membenci mereka, maka Allah membencinya. (Shahih Muslim No.110)
28. Menjelaskan berkurangnya iman disebabkan oleh kurang taat dan menjelaskan ucapan kata kufur dengan arti bukan kufur kepada Allah, seperti kufur kepada nikmat dan hak
• Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istigfar (memohon ampun). Karena aku melihat kalian lebih banyak menjadi penghuni neraka. Seorang wanita yang cerdik di antara mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang lebih banyak menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Kalian banyak mengutuk dan mengingkari kebaikan suami. Aku tidak melihat kurangnya akal dan agama yang lebih menguasai manusia dari kalian. Wanita itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah saw. menjawab: Yang dimaksud dengan kurang pada akal adalah karena dua orang saksi wanita sama dengan seorang saksi laki-laki. Ini adalah kekurangan akal. Wanita menghabisi waktu malamnya tanpa mengerjakan salat dan tidak puasa di bulan Ramadan (karena haid), ini adalah kekurangan pada agama. (Shahih Muslim No.114)
29. Menerangkan bahwa iman kepada Allah Taala merupakan amal paling utama
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah ditanya: Apakah amal yang paling utama? Beliau menjawab Iman kepada Allah. Orang bertanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah saw. menjawab:Berjuang di jalan Allah. Kembali ia bertanya: Kemudian apa? Rasulullah saw. menjawab: Haji mabrur (haji yang diterima). (Shahih Muslim No.118)
• Hadis riwayat Abu Zar ra., ia berkata:
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya. Aku bertanya: Budak manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Yang paling baik menurut pemiliknya dan paling tinggi harganya. Aku tanya lagi: Bagaimana jika aku tidak bekerja? Rasulullah saw. bersabda: Engkau dapat membantu orang yang bekerja atau bekerja untuk orang yang tidak memiliki pekerjaan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tidak mampu melakukan sebagian amal. Rasulullah saw. bersabda: Engkau dapat mengekang kejahatanmu terhadap orang lain. Karena, hal itu merupakan sedekah darimu kepada dirimu. (Shahih Muslim No.119)
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: Pekerjaan manakah yang paling utama? Beliau menjawab: Salat pada waktunya. Aku bertanya lagi, Kemudian apa? Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua. Kembali aku bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: Berjuang di jalan Allah. Aku tidak bertanya lagi kepada beliau untuk menjaga perasaan beliau. (Shahih Muslim No.120)
30. Menyekutukan Allah adalah dosa paling besar dan menjelaskan dosa besar lainnya setelah itu
• Hadis riwayat Abdullah ra., ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah saw: Dosa apakah yang paling besar menurut Allah? Rasulullah saw. bersabda: Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu. Aku berkata: Sungguh, dosa demikian memang besar. Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: Engkau membunuh anakmu karena takut miskin. Aku tanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah saw. menjawab: Engkau berzina dengan istri tetanggamu. (Shahih Muslim No.124)
31. Menerangkan dosa-dosa besar dan yang paling besar
• Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., ia berkata:
Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: Tidak inginkah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali) yaitu; menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan persaksian palsu. Semula Rasulullah saw. bersandar, lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya itu, sehingga kami membatin: Mudah-mudahan beliau diam. (Shahih Muslim No.126)
• Hadis riwayat Anas ra.:
Dari Nabi saw. tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda: Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh manusia dan persaksian palsu. (Shahih Muslim No.127)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jauhilah tujuh hal yang merusak. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa tujuh hal itu? Rasulullah saw. bersabda: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran dan menuduh berzina wanita-wanita yang terjaga (dari berzina) yang lalai dan beriman. (Shahih Muslim No.129)
• Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Di antara dosa-dosa besar, yaitu memaki kedua orang tua. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat memaki kedua orang tuanya? Rasulullah saw. menjawab: Dia memaki bapak orang lain, lalu orang lain itu memaki bapaknya. Dia memaki ibu orang lain, lalu orang lain itu memaki ibunya. (Shahih Muslim No.130)
32. Siapa yang meninggal tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk surga dan siapa yang meninggal dalam kemusyrikan, maka ia masuk neraka
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka. Dan aku (Abdullah) sendiri berkata: Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga. (Shahih Muslim No.134)
• Hadis riwayat Abu Zar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Jibril as. mendatangiku dengan membawa kabar gembira bahwa barang siapa di antara umatmu meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk surga. Aku (Abu Dzar) bertanya: Meskipun ia berzina dan mencuri? Nabi menjawab: Meskipun ia berzina dan mencuri. (Shahih Muslim No.137)
33. Larangan membunuh orang kafir yang telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah
• Hadis riwayat Miqdad bin Aswad ra., ia berkata:
Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, seraya berkata: Aku menyerahkan diri kepada Allah (masuk Islam). Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu? Rasulullah saw. menjawab: Jangan engkau bunuh ia. Aku memprotes: Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya? Rasulullah saw. tetap menjawab: Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau seperti ia sebelum engkau membunuhnya, dan engkau seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan. (Shahih Muslim No.139)
• Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
Rasulullah saw. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi saw. Rasulullah saw. bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah saw. bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah. Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah. (Shahih Muslim No.140)
34. Sabda Nabi saw: Barang siapa yang menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami
• Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.143)
• Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.145)
35. Haram menampar pipi, merobek baju, dan berdoa dengan doa orang Jahiliyah
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Bukan termasuk golongan kami, orang yang menampar pipi (ketika tertimpa musibah), merobek-robek baju atau berdoa dengan doa Jahiliyah (meratapi kematian mayit seraya mengharap-harap celaka). (Shahih Muslim No.148)
36. Menerangkan sangat diharamkan menghasut
• Hadis riwayat Hudzaifah ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka menghasut. (Shahih Muslim No.151)
37. Menerangkan haram menjuraikan kain, mengungkit-ungkit pemberian dan melariskan dagangan dengan bersumpah, menerangkan tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak pula dipandang atau disucikan dan mereka mendapatkan siksa pedih
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga orang yang nanti pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang, tidak disucikan dan mereka mendapatkan siksa yang pedih, yaitu; orang yang mempunyai kelebihan air di gurun sahara tetapi tidak mau memberikannya kepada musafir; orang yang membuat perjanjian dengan orang lain untuk menjual barang dagangan sesudah Asar; ia bersumpah demi Allah bahwa telah mengambil (membeli) barang itu dengan harga sekian dan orang lain tersebut mempercayainya, padahal sebenarnya tidak demikian; orang yang berbaiat kepada pemimpin untuk kepentingan dunia. Jika sang pemimpin memberikan keuntungan duniawi kepadanya, ia penuhi janjinya, tapi bila tidak, maka ia tidak penuhi janjinya. (Shahih Muslim No.157)
38. Kerasnya larangan bunuh diri. Orang yang bunuh diri dengan suatu alat, akan disiksa dengan alat tersebut dalam neraka dan tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang pasrah
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka Jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka Jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka Jahanam selama-lamanya. (Shahih Muslim No.158)
• Hadis riwayat Tsabit bin Dhahhak ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang bersumpah dengan agama selain Islam secara dusta, maka ia seperti apa yang ia ucapkan. Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan sesuatu itu pada hari kiamat. Seseorang tidak boleh bernazar dengan sesuatu yang tidak ia miliki. (Shahih Muslim No.159)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku ikut Rasulullah saw. dalam perang Hunain. Kepada seseorang yang diakui keIslamannya beliau bersabda: Orang ini termasuk ahli neraka. Ketika kami telah memasuki peperangan, orang tersebut berperang dengan garang dan penuh semangat, kemudian ia terluka. Ada yang melapor kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, orang yang baru saja engkau katakan sebagai ahli neraka, ternyata pada hari ini berperang dengan garang dan sudah meninggal dunia. Nabi saw. bersabda: Ia pergi ke neraka. Sebagian kaum muslimin merasa ragu. Pada saat itulah datang seseorang melapor bahwa ia tidak mati, tetapi mengalami luka parah. Pada malam harinya, orang itu tidak tahan menahan sakit lukanya, maka ia bunuh diri. Hal itu dikabarkan kepada Nabi saw. Beliau bersabda: Allah Maha besar, aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Kemudian beliau memerintahkan Bilal untuk memanggil para sahabat: Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali jiwa yang pasrah. Dan sesungguhnya Allah mengukuhkan agama ini dengan orang yang jahat. (Shahih Muslim No.162)
• Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bertemu dengan orang-orang musyrik dan terjadilah peperangan, dengan dukungan pasukan masing-masing. Seseorang di antara sahabat Rasulullah saw. tidak membiarkan musuh bersembunyi, tapi ia mengejarnya dan membunuhnya dengan pedang. Para sahabat berkata: Pada hari ini, tidak seorang pun di antara kita yang memuaskan seperti yang dilakukan oleh si fulan itu. Mendengar itu, Rasulullah saw. bersabda: Ingatlah, si fulan itu termasuk ahli neraka. Salah seorang sahabat berkata: Aku akan selalu mengikutinya. Lalu orang itu keluar bersama orang yang disebut Rasulullah saw. sebagai ahli neraka. Kemana pun ia pergi, orang itu selalu menyertainya. Kemudian ia terluka parah dan ingin mempercepat kematiannya dengan cara meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada di dadanya, lalu badannya ditekan pada pedang hingga meninggal. Orang yang selalu mengikuti datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Aku bersaksi bahwa engkau memang utusan Allah. Rasulullah saw. bertanya: Ada apa ini? Orang itu menjawab: Orang yang engkau sebut sebagai ahli neraka, orang-orang menganggap besar (anggapan itu), maka aku menyediakan diri untuk mengikutinya, lalu aku mencarinya dan aku dapati ia terluka parah, ia berusaha mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada di dadanya, kemudian ia menekan badannya hingga meninggal. Pada saat itulah Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, seperti yang tampak pada banyak orang, padahal sebenarnya ia ahli neraka. Dan ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka, seperti yang tampak pada banyak orang, padahal ia termasuk ahli surga. (Shahih Muslim No.163)
• Hadis riwayat Jundab ra., ia berkata:
Rasulullah bersabda: Ada seorang lelaki yang hidup sebelum kalian, keluar bisul pada tubuhnya. Ketika bisul itu membuatnya sakit, ia mencabut anak panah dari tempatnya, lalu membedah bisul itu. Akibatnya, darah tidak berhenti mengalir sampai orang itu meninggal. Tuhan kalian berfirman: Aku haramkan surga atasnya. (Shahih Muslim No.164)
39. Kerasnya larangan berkhianat dan bahwa tidak masuk surga kecuali orang-orang yang beriman
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Kami pergi berperang bersama Rasulullah saw. menuju Khaibar. Allah memberikan kemenangan kepada kami, tetapi kami tidak mendapatkan rampasan perang berupa emas atau perak. Yang kami peroleh adalah barang-barang, makanan dan pakaian. Kemudian kami berangkat menuju lembah. Ikut pula bersama Rasulullah saw. seorang budak beliau (pemberian seseorang dari Judzam). Budak itu bernama Rifa’ah bin Zaid dari Bani Dhubaib. Ketika kami menuruni lembah, budak Rasulullah saw. berdiri untuk melepas pelananya. Tetapi, ia terkena anak panah dan itulah saat kematiannya. Kami berkata: Kami senang ia gugur syahid wahai Rasulullah. Rasulullah saw. menjawab: Tidak! Demi Zat yang menguasai Muhammad. Sesungguhnya sebuah mantel akan mengobarkan api neraka atasnya. Mantel itu ia ambil dari harta rampasan perang Khaibar, yang bukan jatahnya. Para sahabat menjadi takut. Lalu seseorang datang membawa seutas atau dua utas tali sandal, seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku mendapatkannya pada waktu perang Khaibar. Rasulullah saw. bersabda: Seutas tali (atau dua utas tali) sandal dari neraka. (Shahih Muslim No.166)
40. Kekhawatiran mukmin bahwa amalnya akan sia-sia
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Ketika ayat berikut ini turun: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, Tsabit bin Qais sedang duduk di rumahnya dan berkata: Aku ini termasuk ahli neraka. Dia menjauhi diri dari Nabi saw. Kemudian Nabi saw. bertanya kepada Saad bin Muaz: Hai Abu Amru, bagaimana keadaan Tsabit? Apakah ia sakit? Saad menjawab: Sesungguhnya ia adalah tetanggaku, aku tidak melihat pada dirinya suatu penyakit. Lalu Saad mendatangi Tsabit dan menuturkan perkataan Rasulullah saw. Lalu Tsabit berkata: Ayat ini telah diturunkan, padahal kalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling keras suaranya, melebihi suara Rasulullah saw. Jadi aku ini termasuk ahli neraka. Kemudian Saad menuturkan hal itu kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah saw. bersabda: (Tidak demikian), tetapi sebaliknya, ia termasuk ahli surga. (Shahih Muslim No.170)
41. Apakah segala perbuatan di masa jahiliyah akan diperhitungkan
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena perbuatan kami di masa jahiliyah? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa di antara kalian berbuat baik di masa Islam, maka ia tidak akan dikenai hukuman karena perbuatannya di masa jahiliyah. Tetapi barang siapa yang berbuat jelek, maka ia akan dihukum karena perbuatannya di masa jahiliyah dan di masa Islam. (Shahih Muslim No.171)
42. Islam menghilangkan dosa yang lalu, begitu pula hijrah dan haji
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Di antara orang musyrik banyak yang telah membunuh dan banyak pula yang telah berzina. Kemudian mereka datang kepada Nabi Muhammad saw. Mereka berkata: Apa yang engkau katakan dan engkau ajak sungguh bagus. Kalau saja engkau mau memberitahu kami bahwa dosa yang telah kami perbuat (di masa jahiliyah) ada penghapusnya. Lalu turun ayat: Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). Juga diturunkan ayat: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (Shahih Muslim No.174)
43. Menerangkan hukum perbuatan orang kafir setelah memeluk Islam
• Hadis riwayat Hakim bin Hizam ra., ia berkata:
Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: Apa pendapatmu tentang beberapa perkara yang dahulu, di masa jahiliyah aku menyembahnya. Apakah aku akan menerima hukuman karena itu? Rasulullah saw. bersabda: Engkau memeluk Islam dengan kebaikan dan ketaatan yang dahulu engkau lakukan. (Shahih Muslim No.175)
44. Kebenaran dan kemurnian iman
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Ketika turun ayat: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), para sahabat Rasulullah saw. merasa sedih. Kata mereka: Siapakah di antara kita yang tidak menganiaya dirinya? Rasulullah saw. bersabda: Maksudnya bukan seperti yang kalian duga, tetapi seperti yang dikatakan Lukman kepada anaknya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Shahih Muslim No.178)
45. Allah tidak memperhitungkan kata hati dan yang terbersit dalam hati selama tidak dikerjakan
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah melewati (tidak memperhitungkan) kata hati pada umatku, selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya. (Shahih Muslim No.181)
46. Bila seseorang bermaksud baik, maka kebaikan itu dicatat dan bila bermaksud buruk, maka maksud buruk itu tidak dicatat
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman (kepada malaikat pencatat amal): Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan jelek, maka janganlah kalian catat sebagai amalnya. Jika ia telah mengerjakannya, maka catatlah sebagai satu keburukan. Dan bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan baik, lalu tidak jadi melaksanakannya, maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat. (Shahih Muslim No.183)
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Dari Rasulullah saw. tentang apa yang diriwayatkan dari Allah Taala bahwa Allah berfirman: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan. Kemudian beliau (Rasulullah) menerangkan: Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau ia berniat melakukan perbuatan jelek, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan. (Shahih Muslim No.187)
47. Gangguan dalam iman dan saran bagi orang yang merasakannya
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tak henti-hentinya manusia bertanya-tanya, sampai-sampai dikatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa yang merasakan keraguan dalam hatinya, maka hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah. (Shahih Muslim No.190)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Allah Taala berfirman: Sesungguhnya umatmu tak henti-hentinya bertanya: Kenapa begini, kenapa begini? Sampai-sampai mereka mengatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah. (Shahih Muslim No.195)
48. Orang yang memotong hak orang Islam dengan sumpah palsu diancam dengan siksa neraka
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Barang siapa yang bersumpah dengan sumpah yang memaksa, untuk mengambil harta seorang muslim, sedangkan ia melakukan kepalsuan dalam sumpahnya itu, maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan murka kepadanya. (Shahih Muslim No.197)
49. Dalil yang menunjukkan bahwa orang yang bermaksud mengambil harta orang lain tanpa hak, berarti darahnya sia-sia dan jika ia terbunuh, maka masuk neraka dan bahwa orang yang terbunuh karena mempertahankan hartanya adalah mati syahid
• Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang terbunuh demi mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid. (Shahih Muslim No.202)
50. Penguasa yang menipu rakyatnya akan mendapatkan neraka
• Hadis riwayat Ma’qil bin Yasar ra.:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Seorang hamba yang diserahi Allah memimpin rakyatnya mati sebagai penipu rakyatnya pada saat ia mati, maka Allah mengharamkan baginya masuk ke surga-Nya. (Shahih Muslim No.203)
51. Hilangnya amanat dan iman dari hati dan merasuknya fitnah ke dalam hati
• Hadis riwayat Hudzaifah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. menceritakan kepada kami dua hadis. Yang satu aku sudah tahu dan aku masih menunggu yang satu lagi. Beliau menceritakan kepada kami bahwa Amanat berada di pangkal hati manusia. Kemudian Alquran turun dan mereka tahu dari Alquran dan dari hadis. Kemudian beliau menceritakan kepada kami tentang hilangnya amanat, beliau bersabda: Seseorang tidur dengan nyenyak, lalu dicabutnya amanat dari dalam hatinya, maka tampak tinggal bekasnya seperti bercak. Kemudian ia tidur lagi, dan dicabutnya amanat tersebut dari hatinya, maka tinggallah bekasnya seperti tempat kosong, seperti batu yang jatuh di atas kakimu, bekas tatapan batu itu terus membengkak sedang di dalamnya kosong dan Nabi mengambil batu kecil lalu menjatuhkannya di atas kaki beliau. Kemudian beliau melanjutkan: Orang-orang saling berbaiat, tapi mereka tidak menjalankan amanat, sehingga dikatakan bahwa di antara bani fulan ada seorang yang jujur dan kepadanya dikatakan: Alangkah tabahnya orang ini, alangkah jujurnya ia, alangkah pandainya ia. Sedangkan di hatinya tidak ada iman meski sebesar biji sawi. Ternyata telah datang suatu zaman, di mana aku sudah tidak peduli siapa yang berbaiat kepadaku, kalau ia seorang muslim maka agamanya akan melarangnya berkhianat dan jika ia seorang Kristen atau Yahudi niscaya para pemimpinnya akan melarang mereka berkhianat kepadaku, adapun hari ini aku tidak akan membaiat kalian kecuali si fulan dan si fulan. (Shahih Muslim No.206)
52. Menjelaskan bahwa Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing, bahwa Islam berlindung di antara mesjid-mesjid
• Hadis riwayat Hudzaifah ra., ia berkata:
Ketika kami bersama Umar ra. ia bertanya: Siapakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah saw. bersabda tentang fitnah? Beberapa sahabat berkata: Kami pernah mendengarnya. Umar berkata: Barangkali yang kalian maksudkan adalah fitnah seseorang berhubungan dengan keluarga dan tetangganya? Mereka menjawab: Ya, benar. Umar berkata: Itu bisa dihapus dengan salat, puasa dan zakat. Tetapi (yang aku maksud), siapakah di antara kalian yang pernah mendengar sabda Nabi saw.: Fitnah yang berombak seperti ombak laut? Orang-orang terdiam. Lalu Hudzaifah berkata: Aku. Umar berkata: Engkau, beruntung ayahmu (Lillahi abuka, pujian orang Arab kepada seorang yang istimewa). Kata Hudzaifah: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Fitnah-fitnah akan melekat di hati bagaikan tikar, dengan berulang-ulang. Setiap hati yang termakan fitnah itu, maka pada hatinya akan terdapat bintik hitam dan setiap hati yang menolaknya, maka akan muncul bintik putih. Sehingga hati tersebut menjadi terbagi dua, putih yang bagaikan batu besar, sehingga tidak akan terkena bahaya fitnah, selama masih ada langit dan bumi. Sedangkan bagian yang lain hitam keabu-abuan seperti kuali terbalik, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, kecuali hanya hawa nafsu yang diserap (hatinya). (Shahih Muslim No.207)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah, sebagaimana ular berkumpul di sarangnya. (Shahih Muslim No.210)
53. Menyembunyikan keimanan bagi orang yang takut
• Hadis riwayat Hudzaifah ra., ia berkata:
Kami sedang berada bersama Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: Hitunglah, berapa orang yang menyatakan Islam? Lalu kata Hudzaifah: Kami berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau khawatir pada kami, sedangkan kami berjumlah antara enam hingga tujuh ratus orang. Rasulullah saw. bersabda: Kalian tidak tahu, mungkin suatu saat nanti kalian mendapat cobaan. Hudzaifah ra. berkata: Maka kami benar-benar diuji sampai-sampai seorang di antara kami tidak melaksanakan salat kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi. (Shahih Muslim No.213)
54. Membujuk hati orang yang takut akan keimanannya karena kelemahannya dan larangan memastikan iman tanpa dalil yang pasti
• Hadis riwayat Saad ra., ia berkata:
Rasulullah saw. membagikan suatu pembagian. Lalu aku mengusulkan: Wahai Rasulullah, berilah si fulan, karena ia seorang mukmin. Nabi saw. bersabda: Ataukah ia seorang muslim? Tiga kali aku mengusulkan hal itu dan tiga kali pula mendapat jawaban beliau yang sama: Ataukah ia seorang muslim? Kemudian beliau bersabda: Terkadang aku memberi seseorang, padahal ada orang lain yang lebih aku sukai darinya, karena khawatir Allah akan melemparnya di neraka (yakni pemberian itu dimaksudkan untuk membujuk hati orang yang diberi, agar tidak kembali menjadi kafir, sehingga ia dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka). (Shahih Muslim No.214)
55. Tambahnya ketenangan hati dengan kejelasan dalil-dalil
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih pantas ragu ketimbang Ibrahim as. ketika ia berkata: Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati? Allah berfirman: Apakah engkau tidak percaya? Ibrahim menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang. Rasulullah saw. melanjutkan: Semoga Allah memberikan rahmat kepada Luth. Dia benar-benar telah berlindung kepada golongan yang kuat. Seandainya aku tinggal di penjara seperti lamanya Yusuf tinggal di sana, mungkin aku akan memenuhi seruan penyeru (utusan raja). (Shahih Muslim No.216)
56. Kewajiban mengimani risalah nabi Muhammad saw. atas seluruh manusia dan penghapusan agama-agama sebelumnya dengan adanya agama Islam
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang nabi, kecuali diberi mukjizat kenabian yang sesuai, yang diimani manusia. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diturunkan Allah. Aku berharap, akulah yang paling banyak pengikut dibanding mereka nanti di hari kiamat. (Shahih Muslim No.217)
• Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga orang yang diberi pahala dua kali: Pertama, seorang dari ahli kitab (Yahudi atau Kristen) yang beriman kepada nabinya dan sempat mengalami masa Nabi saw. lalu beriman kepadanya, mengikuti dan membenarkannya, maka ia mendapat dua pahala. Kedua, budak sahaya yang menunaikan hak Allah Taala dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala. Dan ketiga, seseorang yang mempunyai budak perempuan lalu diberinya makan dengan baik, mendidiknya dengan baik, lalu memerdekakannya dan mengawininya, maka ia mendapat dua pahala. (Shahih Muslim No.219)
57. Turunnya Isa bin Maryam as. sebagai penguasa dengan menjalankan syariat nabi Muhammad saw.
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun kepada kalian untuk menjadi hakim yang adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan tidak menerima upeti. Harta akan melimpah, sehingga tak seorang pun mau menerimanya. (Shahih Muslim No.220)
58. Menerangkan masa di mana iman tidak lagi diterima
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Apabila matahari telah terbit dari barat, maka seluruh manusia akan beriman. Tetapi (Pada saat itu), tidak bermanfaat lagi iman seseorang untuk dirinya sendiri pada apa yang belum diimaninya atau pada kebaikan yang belum diusahakannya di masa imannya. (Shahih Muslim No.226)
• Hadis riwayat Abu Zar ra.:
Bahwa pada suatu hari Nabi saw. bersabda: Tahukah kalian ke mana matahari pergi? Para sahabat menjawab Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah saw. bersabda lagi: Matahari berjalan hingga berakhir sampai ke tempat menetapnya di bawah Arsy, lalu menjatuhkan diri bersujud. Dia (matahari) terus dalam keadaan begitu hingga difirmankan kepadanya: Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang. Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi terbit lagi dari tempat terbitnya. Kemudian berjalan, hingga berakhir pada tempat menetapnya di bawah Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan begitu, sampai difirmankan kepadanya: Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang. Matahari kembali, sehingga di waktu pagi muncul dari tempat terbitnya. Kemudian ia kembali berjalan tanpa sedikit pun manusia menyadarinya, hingga berakhir pada tempat menetapnya itu di bawah Arsy, lalu difirmankan kepadanya: Naiklah, terbitlah dari Barat. Maka pagi berikutnya, matahari terbit dari sebelah Barat. Rasulullah saw. melanjutkan: Tahukah kalian kapan itu terjadi? Itu terjadi saat: Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau ia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. (Shahih Muslim No.228)
59. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw.
• Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata:
Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagaikan terangnya Subuh. Kemudian beliau sering menyendiri. Biasanya beliau menyepi di gua Hira’. Di sana, beliau beribadah beberapa malam, sebelum kembali kepada keluarganya (istrinya) dan mempersiapkan bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang ke Khadijah, mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal itu terus beliau lakukan sampai tiba-tiba wahyu datang ketika beliau sedang berada di gua Hira’. Malaikat (Jibril as.) datang dan berkata: Bacalah. Beliau menjawab: Aku tidak dapat membaca. Rasulullah saw. bersabda: Malaikat itu menarik dan mendekapku, hingga aku merasa kepayahan. Lalu ia melepaskanku seraya berkata: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak dapat membaca. Dia menarik dan mendekapku lagi, hingga aku merasa kepayahan. Kemudian ia melepaskan sambil berkata: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak dapat membaca. Dan untuk yang ketiga kalinya ia menarik dan mendekapku sehingga aku merasa kepayahan, lalu ia melepaskanku dan berkata: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui. Rasulullah saw. pulang membawa ayat tersebut dalam keadaan gemetar, hingga beliau masuk ke rumah Khadijah seraya berkata: Selimuti aku, selimuti aku! Keluarganya pun menyelimutinya, hingga gemetarnya hilang. Kemudian beliau berkata kepada Khadijah: Hai Khadijah, apa yang telah terjadi denganku? Lalu beliau menceritakan seluruh peristiwa. Beliau berkata: Aku benar-benar khawatir terhadap diriku. Khadijah menghibur beliau: Jangan begitu, bergembirahlah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, engkau jujur dalam berkata: engkau telah memikul beban orang lain, engkau sering membantu keperluan orang tak punya, menjamu tamu dan selalu membela kebenaran. Kemudian Khadijah mengajak beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, saudara misan Khadijah. Dia adalah seorang penganut Kristen di masa Jahiliyah. Dia pandai menulis kitab berbahasa Arab dan menerjemahkan kitab Injil ke bahasa Arab, sesuai dengan kehendak Allah. Dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya: Paman, dengarkanlah cerita keponakanmu ini (Muhammad). Waraqah bin Naufal berkata: Hai keponakanku, apa yang engkau alami? Rasulullah saw. menceritakan semua peristiwa yang beliau alami. Mendengar penuturan itu, Waraqah berkata: Ini adalah Namus (Jibril as.) yang dahulu datang kepada Musa as. Seandainya saja di saat kenabianmu aku masih muda. Oh… seandainya saja aku masih hidup pada saat engkau diusir oleh kaummu. Rasulullah saw. bertanya: Apakah mereka akan mengusirku? Waraqah menjawab: Ya, setiap orang yang datang mengemban tugas sepertimu pasti dimusuhi. Jika harimu itu sempat kualami, tentu aku akan membelamu mati-matian. (Shahih Muslim No.231)
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra., ia berkata:
Rasulullah saw. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu: Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat kepalaku, ternyata malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku gemetar ketakutan. Lalu aku pulang dan berkata: Selimuti aku, selimuti aku. Keluargaku menyelimutiku. Ketika itulah Allah swt. menurunkan ayat: Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu, agungkanlah. Dan pakaianmu, bersihkanlah. Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. Perbuatan dosa artinya menyembah berhala. Kemudian wahyu turun berturut-turut. (Shahih Muslim No.232)
60. Isra’ Rasulullah saw. ke langit dan diwajibkan salat
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)
• Hadis riwayat Malik bin Sha`sha`ah ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Ketika aku sedang berada di dekat Baitullah antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata: Salah satu dari tiga yang berada di antara dua orang. Lalu aku didatangi dan dibawa pergi. Aku dibawakan bejana dari emas yang berisi air Zamzam. Lalu dadaku dibedah hingga ini dan ini. Qatadah berkata: Aku bertanya: Apa yang beliau maksud? Anas menjawab: Hingga ke bawah perutnya. Hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air Zamzam, kemudian dikembalikan ke tempatnya dan mengisinya dengan iman dan hikmah. Lalu aku didatangi binatang putih yang disebut Buraq, lebih tinggi dari khimar dan kurang dari bighal, ia meletakkan langkahnya pada pandangannya yang paling jauh. Aku ditunggangkan di atasnya. Lalu kami berangkat hingga ke langit dunia. (Sampai di sana) Jibril minta dibukakan. Dia ditanya: Siapa ini? Jibril menjawab Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Ya, jawabnya. Malaikat penjaga itu membukakan kami dan berkata: Selamat datang padanya. Sungguh, merupakan kedatangan yang baik. Lalu kami datang kepada Nabi Adam as. (selanjutnya seperti kisah pada hadis di atas). Anas menjelaskan bahwa Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as. di langit kedua, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf as. di langit keempat dengan Nabi Idris as. di langit kelima dengan Nabi Harun as. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Kemudian kami berangkat lagi. Hingga tiba di langit keenam. Aku datang kepada Nabi Musa as. dan mengucap salam kepadanya. Dia berkata: Selamat datang kepada saudara dan nabi yang baik. Ketika aku meninggalkannya, ia menangis. Lalu ada yang berseru: Mengapa engkau menangis? Nabi Musa menjawab: Tuhanku, orang muda ini Engkau utus setelahku, tetapi umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku. Kami melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh. Aku datang kepada Nabi Ibrahim as. Dalam hadis ini dituturkan, Nabi saw. bercerita bahwa beliau melihat empat sungai. Dari hilirnya, keluar dua sungai yang jelas dan dua sungai yang samar. Aku (Rasulullah saw.) bertanya: Hai Jibril, sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua sungai yang samar adalah dua sungai di surga, sedangkan yang jelas adalah sungai Nil dan Furat. Selanjutnya aku diangkat ke Baitulmakmur. Aku bertanya: Hai Jibril, apa ini? Jibril menjawab: Ini adalah Baitulmakmur. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk ke dalamnya. Apabila mereka keluar, tidak akan masuk kembali. Itu adalah akhir mereka masuk. Kemudian aku ditawarkan dua bejana, yang satu berisi arak dan yang lain berisi susu. Keduanya disodorkan kepadaku. Aku memilih susu. lalu dikatakan: Tepat! Allah menghendaki engkau (berada pada fitrah, kebaikan dan keutamaan). Begitu pula umatmu berada pada fitrah. Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh kali tiap hari. Demikian kisah seterusnya sampai akhir hadis. (Shahih Muslim No.238)
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Rasulullah saw. menuturkan perjalanan Isra’nya. Beliau bersabda: Nabi Musa as. berkulit sawo matang, tingginya seperti lelaki Syanu’ah (nama kabilah). Beliau bersabda pula: Nabi Isa as. itu gempal, tingginya sedang. Beliau juga menuturkan tentang Malik as. penjaga Jahanam dan Dajjal. (Shahih Muslim No.239)
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa Rasulullah saw. melewati lembah Azraq. Beliau bertanya: Lembah apa ini? Para sahabat menjawab: Ini lembah Azraq. Rasulullah saw. bersabda: Aku seperti melihat Nabi Musa as. sedang menuruni bukit dan memohon kepada Allah dengan suara keras melalui talbiah. Ketika sampai di bukit Harsya, beliau berkata: Bukit apa ini? Para sahabat menjawab: Bukit Harsya (dekat Juhfah). Rasulullah saw. bersabda: Aku seperti melihat Nabi Yunus bin Matta as. berada di atas unta merah yang gempal. Dia memakai mantel bulu wol dan tali kekang untanya adalah sabut, ia sedang bertalbiah. (Shahih Muslim No.241)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Ketika aku diisra’kan, aku bertemu dengan Nabi Musa as., ia seorang lelaki yang tinggi kurus dengan rambut berombak, seperti seorang Bani Syanu’ah. Aku juga bertemu dengan Nabi Isa as. ia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya. Lalu aku diberi dua bejana, yang satu berisi susu dan yang lain berisi arak. Dikatakan padaku: Ambillah yang engkau suka. Aku mengambil susu dan meminumnya. Kemudian dikatakan: Engkau diberi petunjuk dengan fitrah atau engkau menepati fitrah. Seandainya engkau mengambil arak, niscaya sesat umatmu. (Shahih Muslim No.245)
61. Menjelaskan Masih Bin Maryam Dan Masih Dajjal
• Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi di dekat Kakbah, melihat seorang lelaki berkulit sawo matang, seperti warna coklat paling bagus yang pernah engkau lihat. Dia berambut gondrong, gondrong terbaik yang pernah engkau lihat. Dia menyisir rambutnya dan masih tampak menetes airnya. Dia bersandar kepada dua orang atau pundak dua orang lelaki, melakukan tawaf di Kakbah. Aku bertanya: Siapakah orang ini? Dijawab: Ini adalah Masih bin Maryam. Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang sangat keriting, mata kanannya buta seakan-akan mata itu buah anggur yang mengapung (matanya melotot). Aku bertanya: Siapakah ini? dijawab: Ini adalah Masih Dajjal. (Shahih Muslim No.246)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Aku melihat diriku berada di Hijir Ismail, dan seorang Quraisy bertanya kepadaku tentang perjalanan isra’ku. Mereka bertanya berbagai hal mengenai Baitulmakdis yang tidak begitu kuingat. Aku sangat merasakan kesulitan yang belum pernah kualami. Lalu Allah memperlihatkannya kepadaku dari kejauhan, sehingga aku dapat melihatnya. Apapun yang mereka tanyakan kepadaku, pasti aku ceritakan kepada mereka. Aku melihat diriku berada di antara sekelompok nabi. Ada Nabi Musa as. yang sedang mengerjakan salat, ternyata ia itu seorang lelaki tinggi kurus dengan rambut keriting, ia seperti seorang suku Syanu’ah. Ada pula Nabi Isa bin Maryam as. yang sedang mengerjakan salat. Orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Masud As-Tsaqafi. Ada juga Nabi Ibrahim as. yang sedang mengerjakan salat. Orang yang paling menyerupainya adalah sahabat kalian (maksudnya, diri beliau sendiri). Ketika datang waktu salat, aku mengimami mereka. Usai salat terdengar suara.: Hai Muhammad, ini Malik, penjaga neraka. Ucapkanlah salam padanya. Aku berpaling kepadanya dan dialah yang lebih dahulu mengucap salam. (Shahih Muslim No.251)
62. Makna firman Allah: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya lagi pada waktu yang lain, dan apakah Nabi saw, melihat Tuhannya pada malam isra’
• Hadis riwayat Aisyah ra.:
Dari Masruq ia bercerita: Ketika aku bertelekan di sisi Aisyah, Aisyah berkata: Wahai Abu Aisyah, ada tiga hal barang siapa yang membicarakan salah satunya, maka ia berbohong besar atas Allah. Aku bertanya: Tiga hal apa itu? Aisyah menjawab: (Pertama) barang siapa yang menyangka bahwa Muhammad saw. melihat Tuhannya, maka ia berbohong besar atas Allah. Aku mulanya bersandar, santai, lalu duduk sambil berkata: Hai Ummul mukminin, tunggu, jangan tergesa-gesa! Bukankah Allah telah berfirman Dan sesungguhnya ia melihatnya di ufuk yang terang. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya di waktu lain. Aisyah berkata: Aku adalah orang pertama umat ini yang menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda: Itu adalah Jibril as. aku tidak pernah melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali ini. Aku melihatnya turun dari langit, besarnya menutupi cakrawala antara langit dan bumi. Aisyah melanjutkan: Apakah engkau belum pernah mendengar firman Allah: Dia tidak dapat dicapai oleh mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan. Dia Maha halus dan Maha mengetahui. Tidakkah engkau mendengar firman Allah: Tidak mungkin bagi manusia berbicara dengan Tuhannya kecuali dengan perantaraan wahyu, di belakang hijab (maksudnya hanya mendengar suara), atau mengutus malaikat untuk mewahyukan apa saja yang diinginkan-Nya kepada manusia. Sesungguhnya Dia Maha tinggi dan Maha bijaksana. Aisyah berkata lagi: (Kedua) barang siapa yang menyangka bahwa Rasulullah saw. menyembunyikan sebagian isi Kitabullah (Alquran), maka ia berbohong besar atas Allah. Allah berfirman: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhanmu. Dan jika engkau tidak melakukan (perintah itu) maka engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Kemudian Aisyah melanjutkan: (Ketiga) barang siapa yang menyangka bahwa Rasulullah saw. diberi tahu tentang apa yang akan terjadi besok, maka ia berbohong besar atas Allah. Allah berfirman: Katakanlah Tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah. (Shahih Muslim No.259)
63. Tentang sabda Rasulullah saw. bahwa Allah tidak tidur dan sabda beliau bahwa tirai-Nya adalah nur, jika Dia menyingkapnya, tentu Keagungan Zat-Nya akan membakar semua makhluk-Nya
• Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. berada di tengah-tengah kami, memberikan lima kalimat. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Taala tidak pernah tidur dan mustahil Dia tidur, Dia kuasa menurunkan timbangan (amal) dan menaikkannya kepada-Nya, dinaikkan (dilaporkan) amal malam sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam, tirai-Nya adalah nur (menurut riwayat Abu Bakar adalah nar=api) yang andai kata Dia menyingkapnya, tentu keagungan Zat-Nya akan membakar makhluk yang dipandang-Nya (maksudnya seluruh makhluk akan terbakar, sebab pandangan Allah meliputi semua makhluk). (Shahih Muslim No.263)
64. Bukti bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat
• Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari perak dan dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari emas. Antara orang-orang dan kemampuan memandang Tuhan mereka hanya ada tirai keagungan pada Zat-Nya, di surga Aden. (Shahih Muslim No.265)
65. Menjelaskan cara melihat Tuhan
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama? Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan? Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya. Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami. Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya). Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat. Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: “Laa ilaaha illallah”. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur). Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah. Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain. Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga. Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji. Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi. Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga. Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji! Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (rida). Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya. (Shahih Muslim No.267)
• Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah saw. bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami di hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Ya! Kemudian beliau melanjutkan: Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang hari yang cerah, yang tidak ada awan sedikit pun? Apakah kalian terhalang melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa awan sedikit pun? Kaum muslimin menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Kalian tidak akan terhalang melihat Allah Taala pada hari kiamat, sebagaimana kalian tidak terhalang melihat salah satu dari matahari dan bulan. Ketika hari kiamat terjadi, ada penyeru yang mengumumkan: Setiap umat hendaklah mengikuti apa yang dahulu disembah. Maka tidak tersisa orang-orang yang dahulu menyembah selain Allah yakni berhala, kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka. Hingga yang tinggal hanya orang-orang yang menyembah Allah ada yang baik dan ada yang jahat serta sisa-sisa Ahli Kitab, maka dipanggillah orang-orang Yahudi. Mereka ditanya: Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Uzair anak Allah. Dikatakan: Kalian salah! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai sahabat atau anak. Lalu apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: Kami haus, ya Tuhan kami berilah kami minum. Lalu ditunjukkan pada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka. Kemudian orang-orang Kristen dipanggil. Mereka ditanya: Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Isa Almasih anak Allah. Dikatakan kepada mereka: Kalian salah! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai sahabat atau anak. Apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: Kami haus ya Tuhan, berilah kami minum. Lalu ditunjukkan pada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka Jahanam, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berguguran ke dalam neraka. Ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dahulu menyembah Allah Taala (yang baik dan yang jahat), maka Allah datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui. Dia berfirman: Apa yang kalian tunggu? Setiap umat mengikuti apa yang dahulu disembah. Mereka mengucapkan: Ya Tuhan kami, di dunia kami memisahkan diri dari orang-orang yang sebenarnya sangat kami butuhkan (untuk membantu kehidupan di dunia) dan kami tidak mau berkawan dengan mereka (karena menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama). Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian! Mereka mengucap: Kami mohon perlindungan kepada Allah darimu. Kami tidak akan menyekutukan Allah dengan apapun (ini diucapkan dua atau tiga kali), sampai sebagian mereka hampir-hampir berubah (berbalik dari kebenaran, karena cobaan berat yang berlaku saat itu). Allah berfirman: Apakah antara kalian dan Dia ada tanda-tanda, sehingga dengan demikian kalian dapat mengenal-Nya? Mereka menjawab: Ya, ada. Lalu disingkapkanlah keadaan yang mengerikan itu. Setiap orang yang hendak bersujud kepada Allah dengan keinginan sendiri, pasti mendapat izin Allah. Sedangkan orang yang akan bersujud karena takut atau pamer, tentu Allah menjadikan punggungnya menyatu (sehingga tidak dapat sujud). Setiap kali hendak sujud, ia terjungkal pada tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka, sementara itu Allah telah berganti rupa dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka menyahut: Engkau Tuhan kami. Kemudian suatu jembatan dibentangkan di atas neraka Jahanam dan syafaat diperbolehkan. Mereka berkata: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apakah jembatan itu? Rasulullah saw. bersabda: Tempat berpijak yang licin (menggelincirkan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkaitnya. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang secepat kejapan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok, golongan selamat sama sekali, golongan yang terkoyak-koyak tapi dapat bebas dan golongan yang terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Pada saat orang-orang mukmin telah terbebas dari neraka, maka demi Zat yang menguasai diriku, tidak ada orang yang sangat menaruh perhatian dalam meraih kebenaran, melebihi orang-orang mukmin yang mencari kebenaran kepada Allah demi kepentingan saudara-saudara mereka yang masih berada di neraka. Mereka berkata: Wahai Tuhan kami, mereka dahulu berpuasa bersama kami, salat dan beribadah haji. Lalu difirmankan kepada mereka: Keluarkanlah orang-orang yang kalian kenal. Maka wajah mereka diharamkan atas neraka. Mereka mengeluarkan banyak orang dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betisnya dan ada yang sudah sampai ke lututnya. Orang-orang mukmin itu berkata: Ya Tuhan kami, di dalam neraka tidak ada lagi seorang pun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan meski hanya seberat dinar. Keluarkanlah. Kemudian mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Lalu mereka berkata: Ya Tuhan kami! Kami tidak tahu apakah di neraka masih ada orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan maski hanya seberat setengah dinar, keluarkanlah. Mereka dapat mengeluarkan lagi banyak orang. Setelah itu mereka berkata: Ya Tuhan kami! Kami tidak tahu, apakah di sana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di dalam hatinya terdapat kebaikan meski hanya seberat atom, keluarkanlah. Lagi-lagi mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata: Ya Tuhan kami. Kami tidak tahu apakah di sana masih ada pemilik kebaikan. Abu Said Al-Khudri berkata: Jika kalian tidak mempercayaiku mengenai hadis ini, maka bacalah firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar atom. Dan jika ada kebaikan sebesar atom, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Allah Taala berfirman: Para malaikat telah memohon syafaat, para nabi telah memohon syafaat dan orang-orang mukmin juga telah memohon syafaat. Yang tinggal hanyalah Zat yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang. Lalu Allah mengambil dari neraka dan mengeluarkan dari sana sekelompok orang yang sama sekali tidak pernah beramal baik. (Saat itu) mereka telah menjadi arang hitam. Mereka dilempar ke sebuah sungai dekat mulut surga, yang disebut Sungai Kehidupan. Kemudian mereka keluar seperti tumbuhan kecil keluar dari lumpur banjir. Bukankah kalian sering melihat tumbuhan kecil di sela-sela batu atau pohon, di mana bagian yang terkena sinar matahari akan berwarna sedikit kuning dan hijau, sedangkan yang berada di keteduhan menjadi putih? Para sahabat menyela: Seolah-olah baginda dahulu pernah menggembala di dusun. Rasulullah saw. meneruskan: Lalu mereka keluar bagaikan mutiara. Di leher mereka ada kalung, sehingga para ahli surga dapat mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga, tanpa amal yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang mereka lakukan. Kemudian Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam surga. Apapun yang kalian lihat, itu adalah untuk kalian. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, Engkau telah memberi kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun di antara orang-orang di seluruh alam. Allah berfirman: Di sisiku ada pemberian untuk kalian yang lebih baik daripada pemberian ini. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini? Allah berfirman: Rida-Ku, sehingga Aku tidak akan murka kepada kalian sesudah itu, selamanya. (Shahih Muslim No.269)
66. Penghuni neraka yang terakhir keluar
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, aku benar-benar tahu penghuni neraka yang keluar terakhir dari sana dan penghuni surga yang terakhir masuk ke dalamnya, yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia pun mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga, karena sesungguhnya menjadi milikmu semisal dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau, sesungguhnya bagimu sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata: Apakah Engkau mengejekku (atau menertawakanku), sedangkan Engkau adalah Raja? Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah saw. tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. Dikatakan: Itu adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya. (Shahih Muslim No.272)
67. Penghuni surga yang paling rendah kedudukannya di dalam surga
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
Dari Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah ra. bertanya tentang kedatangan di akhirat. Jabir berkata: Kita datang pada hari kiamat dari ini dan ini. Lihat (kedatangan itu di atas manusia). Lalu dipanggillah umat manusia dengan berhala dan apa yang dahulu disembahnya secara berurutan. Sesudah itu, Tuhan mendatangi kita seraya berfirman: Siapa yang kalian tunggu? Mereka menjawab: Kami menunggu Tuhan kami. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka berkata: Sampai kami melihat-Mu. Lalu tampak bagi mereka Tuhan tertawa. (Akhirnya) Dia membawa mereka dan mereka mengikuti-Nya. Setiap orang di antara mereka, munafik atau mukmin diberi nur. Mereka terus mengikuti-Nya. Di atas jembatan neraka Jahanam terdapat besi-besi berkait dan berduri, yang merenggut barang siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian nur orang-orang munafik padam, sedangkan orang-orang mukmin tetap bersinar. Selamatlah rombongan pertama, wajah mereka bagaikan bulan purnama. Mereka berkisar 70.000 (tujuh puluh ribu) orang. Kemudian orang-orang berikutnya, wajah mereka seperti terangnya bintang-bintang di langit. Demikian seterusnya. Kemudian syafaat diizinkan. Mereka pun memintakan syafaat, hingga keluar orang-orang yang mengucap: Laa ilaaha illallah dari neraka dan orang-orang yang di hatinya terdapat kebaikan seberat gandum. Mereka ditempatkan di halaman surga, sedangkan ahli surga memerciki mereka dengan air, sampai mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya sesuatu (tumbuhan) di dalam banjir. Hilanglah hangus tubuh mereka. Kemudian ia (orang terakhir) meminta Allah memberikannya dunia dan sepuluh kali lipatnya. (Shahih Muslim No.278)
68. Nabi saw. menyimpan doa syafaat untuk umatnya
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.293)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Nabi saw. pernah bersabda: Setiap nabi mempunyai doa yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.299)
69. Mengenai firman Allah Dan berilah peringatan berbentuk ancaman kepada kaum kerabatmu yang terdekat
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Tatkala diturunkan ayat ini: Dan peringatkanlah para kerabatmu yang terdekat, maka Rasulullah saw. memanggil orang-orang Quraisy. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah saw. berbicara secara umum dan khusus. Beliau bersabda: Wahai Bani Kaab bin Luaiy, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Murrah bin Kaab, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari neraka! Karena aku tidak kuasa menolak sedikit pun siksaan Allah terhadap kalian. Aku hanya punya hubungan kekeluargaan dengan kalian yang akan aku sambung dengan sungguh-sungguh. (Shahih Muslim No.303)
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Ketika diturunkan ayat ini: Dan berilah peringatan berbentuk ancaman kepada kaum kerabatmu yang terdekat, yaitu kaum kerabatmu yang benar-benar ikhlas. Rasulullah saw. keluar dan naik ke bukit Shafa, lalu berteriak: Hati-hatilah! Orang-orang saling bertanya: Siapa yang berteriak? Di antara mereka berkata: Muhammad! Mereka pun berkumpul mengerumuni beliau. Beliau bersabda: Wahai Bani fulan! Wahai Bani fulan! Wahai Bani fulan! Wahai Bani Abdi Manaf! Wahai Bani Abdul Muthalib! Mereka mengerumuni beliau. Lalu beliau bersabda: Apa pendapat kalian seandainya aku beritahu kalian bahwa pasukan berkuda akan keluar di kaki gunung ini. Apakah kalian mempercayaiku? Orang-orang menjawab: Kami telah buktikan engkau tidak pernah berbohong. Rasulullah saw. bersabda: Aku peringatkan kalian akan siksa yang sangat pedih. Mendengar itu Abu Lahab berkata: Celaka engkau! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami? Kemudian ia pergi. Lalu turunlah surat ini, Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan ia benar-benar binasa. (Shahih Muslim No.307)
70. Menjelaskan syafaat Nabi saw. kepada Abu Thalib dan keringanan siksanya karena syafaat tersebut
• Hadis riwayat Abbas bin Abdul Muthalib ra.:
Bahwa ia berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau dapat memberikan suatu manfaat kepada Abu Thalib. Karena, dahulu ia merawat dan pernah membelamu. Rasulullah saw. bersabda: Ya, ia berada di neraka yang paling ringan. Seandainya tidak karena (berkah) aku, tentu ia berada neraka paling bawah. (Shahih Muslim No.308)
• Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa Rasulullah saw. mendengar pamannya Abu Thalib dibicarakan dekat beliau, lalu beliau bersabda: Mudah-mudahan syafaatku dapat memberinya manfaat pada hari kiamat, sehingga ia ditempatkan di neraka paling ringan yang apinya membakar kedua mata kakinya sampai mendidihkan otaknya. (Shahih Muslim No.310)
71. Tentang siksa penghuni neraka yang paling rendah
• Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat, adalah seseorang yang pada lekukan telapak kakinya diberi dua bara yang menyebabkan otaknya mendidih. (Shahih Muslim No.313)
72. Persaudaraan sesama mukmin dan memutus hubungan dengan selain mereka
• Hadis riwayat Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dalam forum terbuka, bukan rahasia: Ingatlah, bahwa keluarga ayahku (yakni si fulan) bukanlah termasuk waliku. Sesungguhnya waliku hanyalah Allah dan orang-orang mukmin yang saleh. (Shahih Muslim No.316)
73. Dalil masuknya beberapa kelompok orang Islam yang masuk surga tanpa hisab dan siksa
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Tujuh puluh ribu orang dari umatku masuk surga tanpa hisab (tanpa perhitungan amal). Seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah semoga Dia berkenan menjadikanku bagian dari mereka. Rasulullah saw. berdoa: “Ya Allah, perkenankanlah, Engkau menjadikannya termasuk di antara mereka”. Kemudian yang lain berdiri pula dan berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menjadikanku bagian dari mereka. Rasulullah saw. bersabda: Engkau telah didahului Ukasyah. (Shahih Muslim No.317)
• Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:
Dari Abu Hazim dari Sahal bin Saad bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tujuh puluh ribu orang atau tujuh ratus ribu orang (Abu Hazim ragu mana yang benar antara keduanya) akan masuk surga saling berpegangan, mereka masuk bersama-sama tidak ada yang lebih dahulu dan tidak ada yang paling akhir, wajah mereka cerah seperti bulan purnama. (Shahih Muslim No.322)
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Beberapa umat ditunjukkan kepadaku. Aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil (tidak lebih dari sepuluh orang), ada lagi nabi yang disertai seorang atau dua orang dan ada pula nabi yang tidak disertai seorang pun. Tiba-tiba ditunjukkan padaku kelompok besar. Aku menyangka mereka adalah umatku. Tetapi lalu dijelaskan: Ini adalah Musa as. dan kaumnya. Lihatlah ke ufuk! Aku memandang ke sana, ternyata ada kelompok besar. Dijelaskan lagi kepadaku: Pandanglah ke ufuk yang lain. Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah saw. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah saw. saw. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata: Berdoalah kepada Allah semoga Dia berkenan menjadikanku termasuk di antara mereka. Rasulullah saw. bersabda: Engkau termasuk di antara mereka. Kemudian yang lain berdiri dan berkata: Berdoalah kepada Allah, semoga Dia berkenan menjadikanku bagian dari mereka. Rasulullah saw. bersabda: Engkau telah didahului Ukasyah. (Shahih Muslim No.323)
74. Umat Islam merupakan setengah penghuni surga
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Ridakah kalian menjadi seperempat penghuni surga? Kami (para sahabat) bertakbir. Beliau bersabda lagi: Ridakah kalian menjadi sepertiga penghuni surga? Kami pun bertakbir. Lalu beliau kembali bersabda: Sungguh, aku berharap kalian dapat menjadi setengah penghuni surga. Aku akan memberitahukan hal itu kepada kalian. Orang-orang Islam di tengah orang-orang kafir seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada sapi putih. (Shahih Muslim No.324)
75. Sabda Rasulullah saw. bahwa Allah berfirman kepada Adam: Keluarkanlah 999 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan) penghuni neraka dari setiap kelipatan seribu
• Hadis riwayat Abu Said ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Hai Adam. Beliau menjawab: Aku patuhi panggilan-Mu dan kebaikan ada di tangan-Mu. Allah berfirman: Keluarkanlah ba`tsan naar. Dia (Adam) bertanya: Apa itu ba`tsan naar? Allah berfirman: Setiap kelipatan seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh orang. Perintah Allah kepada (Adam as.) itu terjadi ketika anak-anak beruban. Dan kandungan setiap wanita yang hamil gugur dan engkau lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi sesungguhnya siksa Allah sangat pedih. Penuturan Rasulullah saw. tersebut membuat para sahabat merasa khawatir. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah lelaki itu (yang seorang di antara seribu) di antara kami? Rasulullah saw. bersabda: Bergembiralah kalian. Karena, dari Yakjuj dan Makjuj seribu, sedangkan dari kalian seorang. Kemudian beliau melanjutkan: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, aku sangat mendambakan kalian menjadi seperempat penghuni surga. Kami (para sahabat) memuji Allah dan bertakbir. Lalu beliau bersabda lagi, Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, aku mendambakan kalian menjadi sepertiga penghuni surga. Kami memuji Allah dan bertakbir. Kemudian kembali beliau bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, aku mendambakan kalian menjadi separoh penghuni surga. Perumpamaan kalian di tengah-tengah umat lain, adalah bagaikan sehelai rambut putih pada kulit sapi hitam, atau seperti belang pada betis khimar. (Shahih Muslim No.327)

MANISNYA IMAN V

Manisnya Iman V

Betapa indahnya sebuah kehidupan yang berhias keimanan, dan senantiasa berbaju keridho’an dari Tuhannya. Sebuah kehidupan yang senantaiasa bertaburan nilai-nilai emas, serta puji Tuhan yang senantiasa meronai wajahnya, perlindunganNya yang selalu menyertainya. Sebuah kehidupan yang ROBBANI, yang senantiasa terdidik diatas nilai-nilai ILAHIYYAH, yang bertaburan ma’na ilmu dan amal.

Kendali yang kokoh

Iman adalah merupakan satu-satunya kendali yang disediakan oleh Allah Ta’ala untuk menjadi keseimbangan bagi kehidupan manusia, dalam bersifat, dalam bertingkah laku, dalam melangkah, dalam berkehendak, dalam bermuamalah[1], dalam bermu’asyaroh[2], dalam berkasab (bekerja), untuk mencapai kesempurnaan dan hasil yang maksimal, selama seseorang tetap berpegang teguh kepadanya.

Iman seberapapun nilainya yang bercokol didalam hati seseorang manusia, pasti akan menjadi pembeda dengan   orang lainnya yang tidak ada padanya iman, dalam beberapa hal:

  • Ketika iman itu besar, maka ia akan menjadikan pemiliknya dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan akan mampu menjalani kehidupannya diatas nilai-nilai kebenaran dan bebas dari kesalahan, sehingga dia kelak akan menuai keridho’an dan ampunan dari Tuhannya dan akan langsung masuk kedalam surgaNya.
  • Ketika iman itu pertengahan, mungkin akan membawa pemiliknya, menjadi orang yang terkadang naik imannya dan terkadang turun, tergantung kepada besar kecilnya kebaikan atau keburukan yang dilakukannya. Dan pada akhirnya siapa yang paling kuat dari keduanya, dialah yang akan menjadi ketentuan bagi pemiliknya.
  • Ketika iman itu kecil nilainya pada diri seseorang, maka akan membawa kepada pemiliknya suatu ketika taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, namun kecil nilainya, suatu ketika pemiliknya menjadi orang yang durhaka, bahkan hingga menjadi orang yang paling jahat. Yang pasti sesuatu yang menjadi pembeda antara dia dengan penjahat lain yang tidak beriman (kafir), adalah keimanannya yang masih ada didalam hatinya, dimana dia masih ada ikatan dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Sudah menjadi keputusan dari nas Al-Qur’an maupun As-Sunnah, bahwa seseorang yang masih ada didalam hatinya iman meskipun nilainya lebih kecil dari debu yang terbang di udara, ketika ia difonis masuk neraka, namun dia masih memilki harapan dimana dia akan dikeluarkan dari  neraka, inilah suatu hal yang menjadi pembeda antara orang yang beriman dengan orang kafir.

Adapun orang kafir, seberapapun kekafirannya, mereka telah difonis oleh  Allah Subhanahu Wata’ala, untuk menjadi penghuni neraka selama-lamanya.

Wahai saudaraku!! Mari kita jaga diri kita masing-masing dari kekafiran, karena kekafiran itu adalah permusuhan dengan Allah. Padahal apapun usaha manusia untuk menentang Allah Subhanahu Wata’ala, pasti hanya Dia jualah Tuhannya. Itulah kebenaran kaliamat LAA ILAAHA ILLALLOOH (tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah).

ADA TIGA TANDA-TANDA KEBAHAGIAAN

Allah berfirman didalam surat: (Al-Baqoroh: 218)[3]

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

218.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Inilah tiga macam amal yang akan menjadi tanda-tanda dan penyebab kebahagian dan menjadi QUTHBU RUHAL UBUDIYYAH (puncak penghambaan).

  • Iman.
  • Hijrah.
  • Jihad fii sabilillah.

Dan dengannya (ya’ni tiga perkara ini), bisa diketahui apa yang ada pada diri manusia, apakah keuntungan atau kerugian.

Iman

Adapun keimanan, maka tidak perlu dipertanyakan tentang keutamaannya. Bagaimana sesuatu yang menjadi pemisah antara kelompok yang berbahagia dengan kelompok yang celaka, yang menjadi pemisah antara calon ahli surga dan calon ahli neraka masih dipertanyakan??

Dimana ketika keimanan itu ada bersama seorang hamba, menjadi penyebab diterimanya suatu amal kebaikan, dan dengan tidak adanya, menjadi tidak diterima suatu amal perbuatan seberapapun keberadaannya.

Hijrah

Adapun hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang dicintainya karena mencari ridho Allah Ta’ala. Maka seorang yang berhijrah dia mungkin meninggalkan tanah airnya, hartanya, keluarganya dan kekasihnya semata-mata karena pendekatan diri kepada Allah dan dalam rangka membela agamaNya.

Jihad

Adapun jihad adalah mengerahkan tenaga untuk menghadapi musuh-musuh, dan berjalan denga sempurna dalam rangka membela agama Allah dan dalam rangka mematikan agama syaithon.

Jihad adalah merupakan puncak daripada amal-amal sholih dan akan mendapatkan balasan yang terbesar. Dan ia adalah merupakan penyebab terbesar untuk memperluas daerah Islam, dan menjadi penyebab kehinaan bagi para penyembah berhala, dan penyebab keamanan bagi kaum muslimin pada diri mereka, harta mereka dan anak-anak mereka.

Maka barangsiapa yang mampu menegakkan ketiga amal ini, dan mampu menjalaninya diatas segala rintangan dan kesulitan yang menghadangnya, maka sungguh ia akan lebih mampu menjalani amal-amal ibadah yang lainnya dan lebih sempurna.

Maka sesungguhnya merekalah orang-orang yang paling tepat mengharapkan ridho Tuhannya, karena mereka telah menjalani sebab-sebab yang mengharuskan mereka untuk mendapatkan kerohmatan dari Allah.

Dan dari sini menunjukkan bahwasanya harapan akan mendapat rahmat Allah itu tidak akan terjadi kecuali setelah menjalani sebab-sebab kebahagian itu.

Adapun harapan yang bersamaan dengan kemalasan, dan tidak adanya usaha menegakkan penyebab kebahagiaan diatas, maka hal ini adalah merupakan kelemahan, dan sekedar impian dan tipuan.

Dan merupakan pertanda lemahnya cita-cita, dan merupakan lemahnya akal. Seperti layaknya seseorang yang mengharapkan mempunyai seorang anak tanpa menikah. Dan seperti seseorang yang mengharapkan penghasilan tanpa menanam. Walloohu A’lam.


[1] – hubungan kemasyarakatan

[2] – dalam pergaulan baik dengan keluarga, dan handai tolan.

[3] – lihat Tafsir As-Sa’di pada surat Al-Baqoroh ayat: 218

manisnya iman IV

Manisnya Iman [IV]

Iman dengan kapasitas ma’nanya yang bernuansa pembenaran adanya Tuhan Allah Subahanahu Wata’ala, yang menjadi sebab terangkatnya seorang manusia menjadi seorang hamba yang diakui sebagai hamba.

Yang menjadi sebab terpujinya kehidupan seorang manusia, dan menjadi sebab seorang manusia menggapai ridhoNya, dan menjadikan seorang manusia dibebaskan dari JAHANNAM, meski keberadaannya hanyalah sebesar biji atom atau yang lebih rendah darinya, ia adalah merupakan harta manusia yang paling berharga daripada yang lainnya.

APA YANG MENJADI SEBAB MAHALNYA IMAN

Seseorang yang diberi kekayaan melimpah ruah, kekuasaan yang amat luas, dan kenikmatan yang paling tinggi didunia ini, namun pada dirinya tidak ada iman sedikitpun, maka harta yang melimpah ruah dan kenikmatan yang paling tinggi itu tidak akan bermanfaat sama sekali bagi dirinya, karena beberapa hal:

-          Amal sholih berupa apapun yang diusahakannya tidak diterima disisi Allah Subhanahu Wata’ala, karena adanya iman adalah merupakan syarat diterimanya amal.

-          Kelak diakhirat akan dimasukkan keneraka dan untuk selama-lamanya karena tidak ada iman pada dirinya.

-          Adanya iman pada diri seseorang seberapapun besar kecilnya adalah merupakan tanda perwaliannya dengan Allah Subhanahu Wata’ala dan menyebabkan keluarnya dari neraka.

Maka sudah selayaknya kita berusaha mencapai ketinggihan iman dalam rangka meningkatkan kuwalitas diri kita dihadapan Tuhan kita.

IMAN ADALAH MERUPAKAN SYARAT DITERIMANYA AMAL

Seagaimana firman Allah Ta’ala:  (Al-Kahfi: 110)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Allah Ta’ala berfirman: (Az-Zumr: 65)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65)

65- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

ORANG-ORANG KAFIR TIDAK DITERIMA AMALNYA

Allah Ta’ala berfirman: (An-Nur: 39)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

39- Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: (Al-Ma’idah:36)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari adzab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh adzab yang pedih.

IMAN ADALAH PENYEBAB KELUAR DARI NERAKA

Adapun seseorang yang masih ada harapan akan keluar dari neraka, yaitu apabila ada pada dirinya keimanan meskipun hanya sebiji debu, bahkan  meski yang lebih kecil dari itu.

Sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِي، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيْثِ الشَّفَاعَةِ الطَّوِيْلِ، وَفِيْهِ: فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: “اِرْجِعُوْا، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَأَخْرِجُوْهُ مِنَ النَّارِ”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam dalam hadits yang sangat panjang. (Dan padanya): “Maka Allah Azza Wajalla berfirman (kepada para pemberi syafaat): “Kembalilah, maka barangsiapa mendapatkan seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari keimanan, maka keluarkanlah dia dari neraka”.

Dalam sebuah lafadz:

“أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ فَأَخْرِجُوْهُ مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا”

“Lebih kecil, lebih kecil, lebih kecil dari biji atom dari keimanan, maka keluarkanlah dia dari neraka. Lalu dikeluarkanlah (darinya) makhluk yang banyak sekali”.

ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُو سَعِيْدٍ: اِقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: { إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا}

Kemudian Abu Sa’id berkata:“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorangpuan walaupun sebesar zarrah (biji atom), dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (An-Nisa :40)

Wahai kaum muslimin!!

Silahkan anda perhatikan dalil-dalil diatas, pasti anda akan mendapatkan perasaan yang mendalam, bahwa iman itu ternyata adalah harta kita yang paling mahal, dan yang paling berharga.

Mungkin diantara manusia ada yang berkehidupan serba cukup, memiliki harta yang melimpah, memiliki kekuasaan yang besar, namun tidak ada didalam hatinya sedikitpun dari iman walau sebesar biji atom, maka tidak ada harapan bagi dirinya untuk keluar dari neraka.

Maka dimanakah letak harga dunia seisinya ini, ketika sesoarang telah merasakan panasnya api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan bebatuan. Ketika Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam ditanya tentang siksa yang paling ringan, beliau menjawab: “Fii dhohdhoohin minan naar” (di dalam neraka yang paling dangkal). Yang panasnya yaitu seseorang hanya disiksa dengan menginjak dua bongkahan batu, namun karena panasnya hingga otaknya mendidih, pada saat itu dia berkata: “Sungguh aku adalah yang paling berat siksanya”.

EMAS DAN PERAK TIDAK BERHARGA

Suatu ketika Allah Ta’ala memanggil seseorang dari ahli neraka yang telah difonis kekal di neraka. Sebagaimana tertuang dalam hadits dibawah ini.

رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُقَالُ لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهِ؟” قَالَ: “فَيَقُوْلُ: نَعَمْ. فَيَقُوْلُ: قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنُ مِنْ ذَلِكَ، قَدْ أَخَذْتُ عَلَيْكَ فِي ظَهْرِ آدَمَ أَلاَّ تُشْرِكَ بِي شَيْئًا، فَأَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تُشْرِكَ بِي”.أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيْحَيْنِ، مِنْ حَدِيْثِ شُعْبَةَ بِهِ.

Imam Ahmad rahimahulloh meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalloohu anhu, dari Rasululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Akan dikatakan kepada seseorang dari ahli neraka kelak pada hari kiamat: “Bagaimana pendapatmu sekiranya bagi kamu segala yang ada dimuka bumi, adakah engkau akan menebusnya dengannya?.

Ia menjawab: “Ya”.

Lalu Allah berfirman: “Padahal Aku telah menghendaki darimu kepada yang lebih mudah dari itu. Padahal Aku telah mengambil (janji) atasmu sejak kamu berada di punggung ADAM, yaitu agar janganlah engkau mensekutukan Aku dengan sesuatu apapun, lalu engkau menolak, kecuali engkau mempersekutukan Aku ”.

ORANG KAFIR MENYADARI PANASNYA API NERAKA

Allah Subhanahu Wata’ala telah mengkisahkan keadaan itu, tatkala mereka telah mencicipi panasnya api neraka, maka mereka berharap untuk bisa kembali ke dunia dan mereka bercita-cita untuk melakukan ketaan yang penuh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, memang hal seperti itu jelas tidak mungkin.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: (Al-An’Am: 27)

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآَيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (27)

  1. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan keadaan orang-orang kafir yaitu tatkala mereka telah berdiri dihadapan api neraka dan telah menyaksikan segala macam jenis siksa yang akan didapatinya, baik dari jenis rantai dan belenggu. Dan mereka telah melihat dengan mata kepala mereka huru hara yang agung itu, lantas mereka berandai-andai seperti yang telah dikisahkan pada ayat diatas.

Mereka berharap jikalau masih ada harapan untuk dikembalikan ke dunia, agar mereka bisa melakukan amal amal sholih dan tidak lagi mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka dan mereka berharap agar termasuk diantara orang-orang yang beriman. Ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi!!.

Saudarku! Apapun alasan kita, apapun usaha kita untuk menolak akan kebenaran akhirat tetap akan sia-sia, dan tidak akan membuahkan apa-apa bagi kita, bahkan sebaliknya, kita akan mendapatkan sangsi dari Allah disebabkan penolakan kita kepada mengimaniNya.

Allah telah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ اَلَّذِيْنَ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَ أَنَا الَّذِي أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ وَ لاَ أُبَالِي فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُ فَاسْتَطْعِمُوْا نِي أَطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّ لَكُمْ وَ آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَزِدْ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَ آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَ آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ اِجْتَمَعُوْا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي وَ أَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ مَا سَأَلَ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْبَحْرُ إِنْ يَغْمِسْ فِيْهِ الْمُخِيْطُ غَمْسَةً وَاحِدَةً يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أَحْفَظُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَ مَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ”. رَوَى الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ

Dari Abi Dzarrin radhiyalloohu anhu: dari Rasulullah Shollalloohu alaihiwsallam, dari Allah Tabaaroka Wata’ala, bahwasanya Ia berfirman: “Wahai para hambaku sesungguhnya kalian senantiasa berbuat kesalahan pada siang dan malam, sedang Aku adalah Dzat Yang Maha mengampuni dosa-dosa dan Aku tidak peduli, maka mintalah kalian ampunan dariku niscaya Aku akan mengampuninya bagi kalian.

Wahai para hambaku! Sesungguhnya kalian semua dalam keadaan lapar kecuali barangsiapa yang aku beri makan, maka mintalah kalian makanan kepadaku niscaya aku beri makan kalian.

Wahai para hambaku! Sesungguhnya kalian semua adalah telanjang, kecuali barangsiapa yang aku beri pakaian, maka mintalah kalian pakaian kepadaku, maka aku beri pakaian kalian.

Wahai para hambaku! Sekiranya (sejak) orang pertama kalian dan orang yang terakhir kalian, (seluruh) manusia kalian dan jin kaian, seluruhnya berada pada ketakwaan satu orang dari kalian, hal itu tidak akan menambah sedikitpun pada kerajaanKu.

Wahai para hambaku! Sekiranya (sejak) orang pertama kalian dan orang yang terakhir kalian, (seluruh) manusia kalian dan jin kaian, seluruhnya berada pada kedurhakaan satu orang dari kalian, hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanKu.

Wahai para hambaku! Sekiranya (sejak) orang pertama kalian dan orang yang terakhir kalian, (seluruh) manusia kalian dan jin kaian, berkumpul di satu tempat, lalu mereka semua meminta kepadaku, lalu aku beri setiap manusia dari mereka akan permintaannya, hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanku, kecuali sekedar seperti terkuranginya lautan jika dicelupkan padanya sehelai benang dengan sekali celupan.

Wahai para hambaku! Sesungguhnya ia hanyalah amal-amal kalian yang aku pelihara atas kalian, maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah Ta’ala, dan barangsipa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia sekali-kali mencela kecuali pada dirinya sendiri”.

Hr. Al-Hakim dan berkata: (ini adalah hadits shohih menurut syarat Syaikhoin dan mereka tidak meriwayatkannya

DO’A KETIKA PUNYA HUTANG

Do’a ketika punya hutang

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ المَسْجِدَ ، فَإِذًا هُوَ بِرَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ : أَبُو أُمَامَةَ ، فَقَالَ ” يَا أَبَا أُمَامَةَ ! مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلاةٍ ؟ ” قَالَ : هُمُوْمٌ لَزِمَتْنِي وَدُيُوْنٌ يَا رَسُولُ اللهِ ، قَالَ : ” أَفَلا أُعَلِّمُكَ كَلامًا إِذَا قُلْتَهُ أَذْهَبَ اللهُ هَمَّكَ وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ ” قُلْتُ : بَلَى يَا رَسُولُ اللهِ ، قَالَ : ” قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزْنِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ “. قَالَ : فَفَعَلْتُ ذَلِكَ ، فَأَذْهَبَ اللهُ تَعَالَى هَمِّي وَغَمِّي وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي . حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Abi Sa’id Al-Khudri radhiyallohu anhu berkata: Suatu hari Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam masuk masjid, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang bernama Abu Umamah, lalu Beliau bertanya: “Wahai Abu Umamah!, kenapa aku melihat anda duduk di masjid pada selain waktu sholat?”. Ia menjawab: “Kesusahan yang menetap pada diriku dan hutang-hutang wahai Rasulullah. Rasulullah bersabda: “Maukah aku ajari suatu perkataan , apabila anda mengatakannya, maka Allah akan menghilangkan kesusahan anda dan melunasi hutang dari anda”. Aku menjawab: “Ia Wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Ucapkan ketika di waktu pagi dan sore:

“Alloohumma innii a’uudzubika minal hammi

wal hazani wa a’uudzubika minal ajzi wal kasali, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli, wa a’uudzubika min gholabatid daini wa qohrir rijaali”.

(Abu Umamah berkata: “ Lalu aku mengerjakan hal itu, maka Allah Ta’ala menghilangkan kesusahan dan kesedihanku dan membayar hutangku”. Hr. Abu Daud

Artinya :

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kegelisahan dan kesusahan. Dan aku berlindung  kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada Engkau dari kelicikan dan kebakhilan, dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan tekanan orang lain”.

Kisah: Orang terakhir masuk surga

Al-Kisah

ORANG YANG TERAKHIR MASUK SURGA

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang terakhir masuk ke surga adalah seorang laki-laki ia sesekali berjalan dan sesekali tersandung dan sesekali dihanguskan oleh api neraka, maka tatkala ia telah melewatinya (keluar dari neraka), ia menoleh kepadanya lalu berkata: Maha Suci Dzat yang telah menyelamatkan aku darimu, sungguh Allah telah memberi kepadaku sesuatu yang tidak pernah Ia berikan kepada siapapun sejak orang-orang yang pertama dan yang terakhir. Lalu diangkat baginya sebuah pohon, lalu berkata: Wahai Tuhanku! Dekatkan aku dari pohon ini, lalu aku akan bernaung dengan naungannya dan meminum dari airnya.

Maka Allah Azza Wajalla berfirman: Wahai anak adam! Barangkali jika aku memberikannya kepadamu, kamu akan meminta kepadaku yang lainnya?. Lalu ia menjawab: Tidak wahai Tuhanku, dan ia berjanji kepadanya bahwa ia tidak akan meminta kepadaNya yang lainnya dan Tuhannya memaafkannya karena Ia melihat sesuatu yang tidak bersabar baginya atasnya, lalu ia mendekatkannya darinya (pohon), maka ia bernaung dengan naungannya dan meminum dari airnya. Kemudian disingkap baginya sebuah pohon yang lebih baik dari yang pertama

Lalu ia berkata: Wahai Tuhanku! Dekatkan aku dari kayu ini agar aku minum dari airnya dan bernaung dengan naungannya, aku tidak akan meminta kepadamu yang lainnya

Maka Ia berfirman: Wahai anak adam bukankah kamu berjanji kepadaku bahwasanya kamu tidak akan meminta kepadaku yang lainnya, lalu Ia berfirman: barangkali jika aku mendekatkanmu darinya, kamu akan meminta kepadaku yang lainnya, lalu ia berjanji kepadaNya bahwasanya ia tidak akan meminta yang lainnya, dan Tuhannya memaafkannya karena Ia melihat sesuatu yang tidak  ada kesabaran baginya atasnya, lalu ia mendekatkannya darinya, lalu ia bernaung dengan naungannya dan minum dari airnya

Kemudian disingkap baginya sebuah pohon didepan pintu surga, yang lebih baik dari keduanya, lalu ia berkata: Wahai tuhanku! Dekatkan aku dari pohon ini, agar aku bernaung dari naungannya dan meminum dari airnya, aku tidak akan meminta kepadamu yang lainnya. Lalu Ia berfirman: Wahai anak Adam! Bukankah kamu berjanji kepadaku bahwa kamu tidak akan meminta kepadaku yang liannya?, ia berkata: ia wahai Tuhanku, yang ini, aku tidak akan meminta kepadaMu selainnya,

Dan Tuhannya memaafkannya karena Ia melihat sesuatu yang tidak  ada kesabaran baginya atasnya, lalu Ia mendekatkannya darinya, maka tatkala di dekatkan ia darinya, lalu ia mendentar suaranya ahli surga lalu ia berkata: Wahai Tuhan! Masukkanlah aku kedalamnya, lalu Ia berfirman: Wahai anak Adam! Apakah yang membuat aku menjauh darimu?. Apakah engkau ridho jika aku memberikan kepadamu dunia dan yang semisalnya bersamanya, ia berkata: Wahai Tuhanku! Adakah Engkau mentertawakan aku sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam, lalu Ibnu Mas’ud tertawa lalu berkata: Tidakkah kalian bertanya mengapa aku tertawa?.

Mareka menjawab: kenapa anda tertawa? Ia menjawab: Beginilah Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam tertawa. Lalu mereka bertanya. Kenapa Rasulullah tertawa? Ia menjawab: karena tertawanya Rabbul ‘Aalamin ketika ia berkata: (wahai Tuhanku) adakah Engkau mentertawakan aku!. Tidak aku tidak mentertawakan engkau akan tetapi karena aku terhadap apasaja yang aku kehendaki, aku mampu. Hr. Muslim

PENGERTIAN AHLUSSUNNAH

PENGERTIAN AHLUSSUNNAH

As-Sunnah (السنة) secara bahasa: yaitu At-Thoriiqotu (الطريقة):  jalan.  As-Syiirotu (السيرة): sejarah hidup, baik terpuji keadaannya atau tercela.

Maksudnya, bahwa kebiasaan yang sering dilakukan oleh seseorang seperti suka baca Al-Qur’an, berkata lembut, peramah, pemarah, suka nyanyi, omong kotor, suka mencuri, apapun yang telah menjadi kebiasaan seseorang itulah sunnahnya.

Sehingga adakalanya dikatakan: orang ini sunnahnya baik atau orang ini sunnahnya buruk, tergantung pada nilai apa yang terjadi, demikianlah pengertian As-Sunnah secara bahasa.

Menurut istilah ulama akidah islamiyah:

As-Sunnah secara bahasa dapat dibagi dua:

1- As-Sunnah Al-Hasanah

2- As-Sunnah A-Sayyi’ah

Sunnah hasanah ialah segala sesuatu yang menyangkut perkataan atau perbuatan, dan termasuk diantaranya yang menyangkut masalah watak atau tabiat atau perangai atau akhlak, apabila hal itu baik maka hal itu disebut sunnah hasanah. Tetapi apabila hal itu mengarah kepada kejelekan maka hal itu disebut sunnah sayyi’ah. Demikianlah pengertian as-sunnah. Karena itu kita katakan bahwa langit dan bumi atau alam semesta ini adalah merupakan sunnatullah, karena semuanya adalah diperbuat oleh Allah.

Dalil kata As-Sunnah secara bahasa adalah hadits berikut ini:

عَنْ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَََالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ “. رواه مسلم

Dari Al-Mundzir bin Jarir dari ayahnya berkata: Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan didalam Islam suatu sunnah yang baik, maka baginya (mendapat) pahalanya dan pahala orang-orang (yang ikut) mengamalkannya sesudahnya, tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa melakukan  didalam Islam suatu sunnah yang jelek, maka atasnya dosanya dan dosa orang-orang (yang ikut) mengamalkannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun”. Hr.Muslim

adapun dari Al-Qur’an adalah firman Allah:

$£Jn=sù (#÷rr&u‘ $uZy™ùt/ (#þqä9$s% $¨ZtB#uä «!$$Î/ ¼çny‰÷nur $tRöxÿŸ2ur $yJÎ/ $¨Zä. ¾ÏmÎ/ tûüÏ.Ύô³ãB ÇÑÍÈ óOn=sù à7tƒ öNßgãèxÿZtƒ öNåkß]»yJƒÎ) $£Js9 (#÷rr&u‘ $uZy™ùt/ ( |M¨Yߙ «!$# ÓÉL©9$# ô‰s% ôMn=yz ’Îû ¾Ínϊ$t7Ïã ( uŽÅ£yzur y7Ï9$uZèd tbrãÏÿ»s3ø9$#

84.  Maka tatkala mereka melihat azab kami, mereka berkata: “Kami beriman Hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang Telah kami persekutukan dengan Allah”.

85.  Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka Telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir”. Al-Mu;min: 84-85

Dan firman Allah:

$¨B tb%x. ’n?tã ÄcÓÉ<¨Y9$# ô`ÏB 8ltym $yJŠÏù uÚtsù ª!$# ¼çms9 ( sp¨Zߙ «!$# ’Îû tûïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB ã@ö6s% 4 tb%x.ur ãøBr& «!$# #Y‘y‰s% #·‘r߉ø)¨B ÇÌÑÈ šúïÏ%©!$# tbqäóÏk=t7ムÏM»n=»y™Í‘ «!$# ¼çmtRöqt±øƒs†ur Ÿwur tböqt±øƒs† #´‰tnr& žwÎ) ©!$# 3 4’sx.ur «!$$Î/ $Y7ŠÅ¡ym ÇÌÒÈ

38.  Tidak ada suatu keberatanpun atas nabi tentang apa yang Telah ditetapkan Allah baginya. (Allah Telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang Telah berlalu dahulu . dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.  (39)  (yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan”. AL-Ahzab: 38-39

As-Sunnah secara istilah ulama akidah islamiyah ialah: Petunjuk yang berjalan diatasnya Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam dan para sahabatnya, baik dalam hal ilmu, keyakinan, ucapan dan perbuatan.

Inilah As-Sunnah yang wajib diikuti oleh semua ummatnya, yang akan menjadi terpuji ahlinya (pelakunya), dan akan tercela siapapun yang menyelisihinya.

Maka seseorang dikenal sebagai Ahlussunnah, ya’ni karena dia selalu menjalani agamanya dan kehidupannya diatas garis sunnah (ajaran) yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam yang lurus dan terpuji. Dan menghindarkan diri dari perkara-perkara yang tidak diajarkan olehnya.

Mereka senantiasa mendasarkan segala aspek keagamaannya diatas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah misalnya dalam masalah akidah, ibadah dan muamalah.

Tidaklah mereka berwudu kecuali dengan cara yang telah ada dalam Al-Hadits mulai dari membasuh tangan mereka harus melihat dari sisi ada hadisnya, berkumur, menghisap air kedalam hidung, mambasuh muka, mengusah kepala langsung ke telinga satu kali, membasuh kaki, semua gerakannya harus asli sesuai dengan hadits.

Misalnya haditsnya Humran atau haditsnya Utsman bin Affan –Radhiyalloohu anhuma-, begitu juga cara sholat mereka mulai dari bagaimana adzan dan amalan apasaja yang diperbolehkan sebelum sholat berjama’ah dan sesuadah berjamaah seperti melakukan wiridan, coba anda teliti di kebanyakan masjid atau musholla, maka anda akan temukan puluhan cara atau gaya wiridan dan pijian yang menggambarkan seolah-olah didalam Islam itu tidak ada patokan yang jelas.

Sebagian Ummat Islam dalam beribadah telah banyak melakukan kejahatan dan penyimpangan dari sunnah Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam dengan menambah amalan-amalan sebelum dan sesudah sholat pada apa-apa yang sama sekali tidak berasal dari Rasulullah dan sesungguhnya hal seperti ini adalah samasekali bukan akhlak atau amalan Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, sebab mereka adalah manusia yang paling taat dan paling tahu tentang ajaran Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam . Seperti pujian, kidungan yang disuarakan dengan suara-suara yang keras dengan berbagai macam lagu dan bahasa, ada yang lagunya mirip dangdut, ada yang mirip POP , ada yang mirip Jaipongan, ada yang seperti kentrungan, pokoknya macam-macam deh. Sungguh memalukan!  karena cara ini disamping tidak ada dasarnya baik di Bukhari, Muslim, Abu Dawud,Tirmidzi, Nasa’I , Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Musnad As-Safi’I, Musnad Abu Hanifah, Al-Muawattho’ dan seluruh kitab-kitab hadits manapun bisa anda cek pasti anda tidak akan menemukan.

Juga berarti tidak sopan terhadap Allah Dzat pemilik syari’at ini sendiri. Bagaimana ibadahnya akan hadir dihadapan Allah jika cara pelaksanaannya tidak ada ajarannya. Sunnguh peribadatan orang-orang kafir yang jelas-jelas batil, jauh lebih sopan dalam hal ini. Kebanyakan mereka hanya membatasi suara di dalam ruangan, tidak mengganggu sekitarnya.

Sekali lagi ibadah kepada Allah itu tidak boleh asal-asalan, diperlukan keikhlasan yang tinggi dan sesuai dengan ajaran, dan tetap tidak akan diterima manakala hanya ikhlas saja atau sesuai dengan ajaran saja sehingga benar-benar keduanya dilakukan secara bersamaan.

Saya mohon dari teguran ini jangan ada yang marah tapi silahkan anda jadikan sebagai awal untuk berfikir, sebab kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah.

Mari kita periksa satu persatu seperti bacaan istghfar sesudah sholat, kalau anda benar-benar kembali kepada ajaran, maka istighfar Rasulullah sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ اللهَ ثَلَاثًا وَقَالَ: (أَللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ، رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إِلَّا الْبُخَارِيْ.

وَزَادَ مُسْلِمٌ: قَالَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْاَوْزَاعِي: كَيْفَ الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ يَقُوْلُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ.

Dari Tsauban radhiyallohu anhu berkata: “ Adalah Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam apabila selesai dari sholatnya beliau Istighfar (memohon ampun) kepada Allah tiga kali lalu membaca: “Alloohumma antas Salaam wamingkas Salaam Tabaarokta Yaa Dzal Jalaali Wal-Ikroom”.

Hr. Al-Jama’ah kecuali Bukhari.

Dan Muslim menambahkan: berkata Al-Walid: “Maka aku bertanya kepada Al-Auza’i: “Bagaimana Istighfar?. Ia menjawab:

“Astaghfirullooh, Astaghfirullooh, Astaghfirullooh”.

Saudaraku! Coba anda perhatikan betapa sederhananya istighfar Rasulullah Shollalloohu alaihi wasallam lebih pendek dari yang biasa dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin, sungguh aneh!, karena yang selalu kita dengar hampir di seluruh pelosok nasional jauh berbeda dari aslinya.

Mari sama-sama menghitung berapakah kalimat tambahan dari keasliannya pada lafadz-lafadz berikut ini:

“أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيَّ وَلِمَشَايِخِنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمَنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ”.

“Astaghfirulloohal Adziim lii waliwaa lidayya wa liash-haabil huquuqil waajibaati alayya wa limasyaa

yikhinaa wa lijamii’il muslimiina wal-muslimaat wal-mu’miniina wal-mu’minat al-ahyaa’I minhum wal-amwaat”.

Saudaraku dari sini coba anda teliti, ada berapa tambahan kalimat dari istighfar aslinya. Kami tidak mungkin dibuku ini menerangkan seluruh penyimpangan yang terjadi, namun yang kami tampilkan ini jadikan sebagai contoh untuk menimbang-nimbang yang lainnya.

KEUTAMAAN BERDZIKIR

KEUTAMAAN BERDZIKIR

Berdzikir artinya mengingat Allah Ta’ala dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir atau memujinya dengan pepujian yang layak bagiNya di waktu pagi, siang, petang dan malam. Berdzikir kepada Allah bukan hanya berupa kalimat-kalimat thoyyibah, tetapi bisa berupa memikirkan dan mengakui akan kebesarannya dalam segala sesuatu, termasuk berusaha memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –Shollallohu alihi Wasallam- dan mendakwahkannya, semua itu mengantarkan kepada meningkatnya pepujian kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepadaKu, serta jangan ingkar (pada nikmatKu)”. (Al-Baqarah, 2:152).

Dan firmanNya:

“Hai, orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut namaNya)”. (Al-Ahzaab, 33:42).

Dan firmanNya:

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung”. (Al-Ahzaab, 33:35).

Dan firmanNya:

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaanNya), serta tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (Al-A’raaf, 7:205).

Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ”.

“Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati”.

HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari 11/208. Imam Muslim meriwayatkan dengan lafazh sebagai berikut:


“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk dzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk dzikir, laksana orang hidup dengan yang mati”.

(Shahih Muslim 1/539).

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى”.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata: “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi”.

HR. At-Tirmidzi 5/459, Ibnu Majah 2/1245. Lihat pula Shahih Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/316.

Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَة “.

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia ingat Aku.  Jika dia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika dia menyebut namaKu dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”.

HR. Al-Bukhari 8/171 dan Muslim 4/2061. Lafazh hadits ini riwayat Al-Bukhari.


وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ .

Dari Abdullah bin Busr Radhiallahu’anhu, dia berkata: Bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syari’at Islam telah banyak bagiku, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu buat pegangan”. Beliau bersabda: “Tidak hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya).”

HR. At-Tirmidzi 5/458, Ibnu Majah 2/1246, lihat pula dalam Shahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317.

Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

” مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ: الـم حَرْفٌ؛ وَلَـكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْ “.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedang satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif laam miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”

HR. At-Tirmidzi 5/175. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/9 dan Shahih Jaami’ush Shaghiir 5/340.

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ : أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِيْ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ اِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ.

Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar, sedang kami di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah di antara kamu yang senang berangkat pagi pada tiap hari ke Buthhan atau Al-Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya, tanpa mengerjakan dosa atau memutus sanak?” Kami (yang hadir) berkata: “Ya kami senang, wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda: “Apakah seseorang di antara kamu tidak berangkat pagi ke masjid, lalu memahami atau membaca dua ayat Al-Qur’an, hal itu lebih baik baginya daripada dua unta.  Dan (bila memahami atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila memahami atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta), dan demikian dari seluruh bilangan unta.” [6] HR. Muslim 1/553.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ.

“Barangsiapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, pastilah dia mendapatkan hukuman dari Allah dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berdzikir kepada Allah, pastilah mendapatkan hukuman dari Allah.” HR. Abu Dawud 4/264; Shahihul Jaami’ 5/342.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ .

“Apabila suatu kaum duduk di majelis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabinya, pastilah ia menjadi kekurangan dan penyesalan mereka, maka jika Allah menghendaki bisa menyiksa mereka dan jika menghendaki mengampuni mereka[1]”.. Shahih At-Tirmidzi 3/140.

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً “.

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majelis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan hal itu menjadi penyesalan mereka (di hari Kiamat)[2].”
HR. Abu Dawud 4/264, Ahmad 2/389 dan Shahihul Jami’ 5/176.

اَلْاَذْكَارُ وَالْاَدْعِيَّةُ بَعْدَ السَّلَامِ

Dzikir dan do’a setelah salam (II)

Telah datang dari Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- sejumlah dzikir-dzikir dan do’a-do’a sesudah salam, di sunnahkan bagi orang yang melakukan sholat agar mengamalkannya, dan kita sebutkan berikut ini:

1 – عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ اللهَ ثَلَاثًا وَقَالَ: (أَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالاِكْرَامِ(، رواه الجماعة إلا البخاري.

Dari Tsauban –rodhiyallohu anhu- berkata: “Adalah Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- apabila selesai dari mengerjakan sholatnya memohon ampunan kepada Allah sebanyak tiga kali dan membaca: (ALLOHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAM TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL-IKROOM). Hr. Bukhori

*  (اللهم أنت السلام ومنك السلام) السلام الاول اسم من أسماء الله تعالى.والثاني بمعنى السلامة.

*(ALLOHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAAM)

وََزَادَ مُسْلِمٌ: قَالَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْاَوْزَاعِي: كَيْفَ الْاِسْتِغْفَارُ؟ قَالَ يَقُوْلُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ.

Dan Muslim menambahkan: Al-Walid berkata: “Maka aku bertanya kepada Al-Auza’I : “Bagaimanakah Istighfar? Ia menjawab: “Beliau membaca: “ASTAGHFIRULLOH, ASTAGHFIRULLOH, ASTAGHFIRULLOH”.

2 – وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيََدِهِ يَوْمًا ثُمَّ قَالَ: (يَا مُعَاذُ إِنِّي لَاُحِبُّكَ) فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: (بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُوْلُ اللهِ، وَأَنَا أُحِبُّكَ) قَالَ: (أُوْصِيْكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُوْلَ: ) اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.

2- Dari Mu’adz bin Jabal: bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- pada suatu hari memegang tangannya lalu berkata: “Wahai Mu’adz! Sesungguhnya aku mencintaimu”. Maka Mu’adz berkata kepadanya: “Demi engkau sebagai bapak dan ibuku wahai Rasulullah, dan akupun mencintai engkau”. Beliau bersabda: “Aku berwasiat kepada engkau wahai Mua’adz, janganjah engkau tinggalkan setiap selesai sholat yaitu engkau membaca: “ALLOOHUMMA A’INNII ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBAADATIKA”. Hr. Ahmad, Abu Daud, Nasa’I , Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dan beliau berkata: “Hadits ini shohih menurut Syaikhoni”

3 – وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: (كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ فِي دُبُرِ الصَّلَاةِ يَقُوْلُ: (لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، أَهْلَ النِّعْمَةِ وَالْفَضْلِ وَالثَّنَاءِ الْحَسَنِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ). رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي.

3- Dan dari Abdillah bin Zubair ia berkata: “Adalah Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- apabila telah mengucapkan salam pada selesai sholat membaca: “LAA ILAAHA ILLALLOOH, WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH,  LAHUL MULKU, WALAHUL HAMDU, WAHUWA ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR, LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, WALAA NA’BUDU ILLA IYYAAH, AHLAN NI’MATI, WAL-FADHLI, WAS-TSANA’IL HASANI, LAA ILAAHA ILLALLOOH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WALAU KARIHAL KAAFIRUUN). Hr. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i.

4 – وَعَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ: (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قََدِيْرٌ: أَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ). رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُ وَمُسْلِمٌ.

Dan dari Al-Mughirah bin Syu’bah: bahwasanya Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- adalah membaca setiap selesai sholat wajib: “ LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH, LAHUL MULKU, WALAHUL HAMDU, WAHUWA ALAA KULLISYAI’IN QODIIR. ALLOHUMMA LAA MAA NI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU”. Hr. Ahmad, Bukhari dan Muslim

5 – وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَِأَ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ. رَوَاهُ أََحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

5- Dan dari Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah –Shollallohu alaihi wasallam- memerintah kepadaku agar aku membaca Al,muawwidzatain (Al-falaq dan An-Nas) setiap selesai sholat”. Hr. Ahmad, Bukhori dan Muslim

6 – وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ) رَوَاهُ النَّسَائِي وَالطَّبَرَانِي.

6- Dari Abi Umamah:

Bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa membaca AYAT KURSI setiap selesai sholat, maka tidak ada yang menghalangi dia masuk kedalam surga kecuali kematian”. Hr. An-Nasa’I dan At-Thobroni

7- وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ فِي ذِمَّةِ اللهِ إِلَى الصَّلاَةِ الاُخْرَى). رَوَاهُ الطَّبَرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

7- Dari Ali –radhiyallohu anhu-:

Bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa membaca AYAT KURSI pada setiap selesai sholat maktubah, maka ia berada pada penjagaan Allah hingga sholat berikutnya”. Hr. Thobaroni dengan sanad yang hasan

8 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ سَبَّحَ اللهَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ تِلْكَ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ. ثُمَّ قَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍْ قَدِيْرٌ، غُفِرَتْ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ.

8- Dari Abu Hurairah: Bahwasanya Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa BERTASBIH kepada Allah setiap selesai sholat, tiga puluh tiga kali. Dan Bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali. Dan BERTAKBIR kepada Allah tiga puluh tiga kali, kemudian membaca sebagai kesempurnaan seratus: “ LAA ILAAHA ILLALLOH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU

WALAHUL HAMDU WAHUWA ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR” maka di ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih lautan”. Hr.Ahmad, Bukhori, Muslim dan Abu Daud


[1] – perintah dzikir disini bukan berarti kemudian lantas mengadakan acara dzikir bersama yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Nabi –Shollallohu alihi Wasallam-, dan berdzikir itu sifatnya relatif, tidak dalam satu bentuk saja sebatas masih berpegangan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

[2] – sama seperti pada nomor satu , dimana pada hadits diatas sama sekali tidak menunjukkan agar dzikiran secara aklamasi, namun ia adalah sekedar menunjukkan pentingnya berdzikir bagi setiap orang dimanapun ia berada, tidak melupakannya pada saat ia berdiri, berjalan, duduk, berbaring atau ditengan suatu majlis. Karena adakalanya seseorang itu dimana ia berada tetap senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dan adakalanya seseorang berada di suatu majlis atau di tempat manapun   tidak mengingat Tuhannya sama sekali, bahkan terkadang terlibat pada pembicaraan yang merugikan.

DEEFINISI IBADAH

Definisi Ibadah

Sebagian kaum Muslimin masih ada yang beranggapan bahwa ibadah hanya merupakan salah satu bagian dari sisi kehidupan. Mereka mengira bahwa ibadah tidak ada kaitannya dengan masalah ekonomi, sosial, politik dan sebagainya, tetapi hanya suatu jenis aktivitas tertentu yang bersifat ritual belaka. Kesalahan dalam pemahaman ini akan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai Islam dalam banyak sisi kehidupan. Acuan dalam urusan bisnis dan perdagangan bukan lagi kepada hukum syar’i, tidak mau mencari tuntunan dari berbagai masalah kemasyarakatan melalui petunjuk nabawi, berpolitik secara membabi buta dan lain sebagainya.

Padahal yang benar adalah bahwa kehidupan ini sendiri merupakan ibadah, sebab Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah. Orang yang ingin memisahkan Islam dari seluruh bidang kehidupan serta membatasi Islam hanya di masjid dan dalam peribadatan keagamaan saja, maka dia telah tersesat dan terjerumus ke dalam pemikiran ilmaniyun (sekuler). Ibadah, secara bahasa artinya adalah at-tadzallul wal khudlu’ (menghinakan diri serta tunduk ).Sedangkan pengertian secara istilah, di antaranya yaitu:

1 – Taat dan merendahkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasul-Nya.

2 – Merendahkan diri hanya kepada Allah subhanahu wata’ala dengan tingkatan ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

3 – Sebutan untuk segala sesuatu yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah subhanahu wata’ala baik berupa ucapan atau perbuatan yang lahir maupun yang batin (pengertian yang lengkap).

Dengan memahami pengertian ini maka jelaslah bagi kita bahwa kehidupan ini adalah ibadah, sehingga segala kegiatan dan perbuatan positif yang kita kerjakan adalah merupakan ibadah, jika kita meniatkannya untuk itu. Apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah maka kita jadikan sebagai dasar acuan, baik dalam hal keyakinan, hukum halal-haram, dalam berakhlak, bermuamalah, dan lain sebagainya.

Maka tidak boleh seorang Muslim mempersempit makna ibadah, yakni dengan beranggapan bahwa ibadah itu hanya jenis amal-amal tertentu saja, seperti: shalat, haji, puasa, zakat dan semisalnya. Ibadah itu hanya sesuatu yang terkait dengan masjid saja. Tidak ada ibadah di rumah, di kantor, di pasar, di jalan, dalam politik, hukum dan lain-lain.

Namun sebaliknya, juga tidak boleh ekstrim dalam beribadah, yaitu dengan mengangkat sesuatu yang hukumnya sunnah menjadi wajib, mengharamkan sesuatu yang boleh (mubah), atau menganggap sesat siapa saja yang berbeda pendapat dengannya tanpa melihat jenis perbedaan pendapat yang terjadi.

Pembagian Ibadah

Ibadah terbagi menjadi tiga:

1 – Ibadah Hati (qalbiyah), contohnya adalah takut (khauf), berharap (raja’) , cinta (mahabbah), tawakkal, shabar dan lain-lain.

2 – Ibadah Lisan (lisaniyah), contohnya seperti tahlil, takbir, tasbih, tahmid, dzikir dan lain-lain.

3 – Ibadah Anggota Badan (badaniyah), di antara contohnya adalah shalat, haji, jihad, zakat dan lain-lain.

Yang dimaksud ibadah badaniyah (dalam shalat misalnya) adalah gerakan-gerakan yang dilakukan dalam shalat seperti mengangkat tangan ketika takbir, rukuk, sujud berdiri dan lain-lain. Adapun shalat itu sendiri maka ia mencakup ibadah hati, lisan dan anggota badan, demikian juga haji.

Cakupan Ibadah

Ibadah mencakup semua ketaatan yang tampak pada lisan dan anggota badan dan mencakup semua tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan untuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), atau segala sesuatu yang membantu pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Bahkan suatu kebiasaan pun jika diniatkan untuk ketakwaan dan ketaatan maka dia dinilai ibadah yang mendapatkan pahala.

Ibadah dalam makna sempit adalah merupakan perkara tauqifiyah yakni sebatas mengikuti petunjuk yang disampaikan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Dalam arti bahwa sesuatu tidak boleh diang-gap sebagai syari’at kecuali dengan adanya dalil dari al-Kitab atau as-Sunnah.

Melakukan bentuk peribadatan dengan sesuatu yang tidak disyariatkan maka ia disebut bid’ah yang tertolak, amalannya tidak diterima bahkan berdosa karena itu adalah kemaksiatan bukan ketaatan.

Tiga Pilar Utama Ibadah

Ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala memiliki tiga pilar utama yang tidak dapat ditinggalkan, yaitu; Cinta (hubb), Takut (khauf) , dan Harapan (raja’). Beribadah atau menghamba kepada Allah subhanahu wata’ala harus dilandasi dengan tiga pilar utama ini.

Berkata sebagian salaf,

Siapa yang beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala hanya dengan cinta (hubb) saja maka dia zindiq.

Siapa yang beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala hanya dengan pengharapan (raja’) maka dia murji’.

Siapa yang beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala hanya dengan rasa takut (khauf) saja maka dia haruri.

Siapa yang beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan hubb, raja’ dan khauf maka dia mukmin muwahhid.

Seseorang dikatakan beribadah apabila dia menghinakan dan merendahkan diri dengan disertai rasa cinta yang paling tinggi terhadap yang dia ibadahi itu. Maka hendaknya yang paling dicintai, paling ditunduki, dan paling diagungkan hanyalah Allah subhanahu wata’ala semata.

Sedangkan merendahkan diri atau menghinakan diri di hadapan manusia namun disertai rasa benci, atau tanpa diikuti rasa cinta maka tidak termasuk ibadah. Hal ini sebagaimana orang yang dipaksa untuk merendah (rukuk atau sujud) kepada raja atau penguasa pada-hal hatinya membenci hal tersebut.

Demikian pula mencintai manusia atau takut kepada selain Allah subhanahu wata’ala namun tidak dibarengi dengan menghinakan dan merendahkan diri maka tidak termasuk ibadah. Sebagaimana kita cinta kepada orang tua, anak, hormat kepada guru dan sebagainya. Atau seseorang yang takut terhadap singa, ular dan hal-hal lain yang membahayakan, maka ini tidak termasuk ibadah, karena tidak disertai dengan penghinaan dan penghambaan diri.

Syarat Diterimanya Ibadah

Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala hendaknya memenuhi dua syarat utama, yaitu:

1- Ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala semata, bebas dari syirik besar dan kecil, (konsekuensi la ilaha illallah)

2- Mutaba’ah, yaitu sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alihi wassallam, (konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah)

Di antara dalil yang mendasari hal ini adalah Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,

idak demikian) dan bahkan barang-siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran ter-hadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)

Menyerahkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala merupakan bentuk keikhlasan, dan berbuat kebajikan merupakan cermin-an dari berteladan atau ittiba’ kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wassallam. Di dalam ayat yang lain juga disebutkan, artinya,

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabb-nya”. (QS. Al-Kahfi:110 )

Amal yang shaleh adalah segala amal yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wassallam, baik yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Kemudian larangan menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala adalah merupakan bentuk keikhlasan. Dengan terkumpulnya dua syarat inilah maka ibadah menjadi sempurna dan akan diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Sumber: Kitab Tauhid I, Syaikh. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, dan berbagai sumber lain1).

TUNTUNAN THOHAROH

TUNTUNAN THAHARAH  (BER WUDHU )

Wudhu adalah thaharah yang wajib dari hadats kecil, seperti buang air kecil, buang air besar, keluar angin (kentut), tidur nyenyak dan makan daging onta.

Tata Cara Berwudhu

  • Niat wudhu di dalam hati, tanpa diucapkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melisankan niat dalam berwudhu, shalat dan ibadah apapun. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati tanpa pemberitaan kita.
  • Membaca “Bismillah”.
  • Membasuh kedua telapak tangan (3x).
  • Berkumur serta menghirup air ke dalam hidung (3x).
  • Membasuh seluruh muka (sampai batasan muka dengan telinga) dari tempat pertumbuhan rambut kepala sampai jenggot bagian bawah. (3x).
  • Membasuh kedua tangan, dari ujung jari sampai sikut, diawali dengan tangan kanan, kemudian tangan kiri (3x).
  • Mengusap kepala, yaitu dengan membasahi tangan kemudian menjalankannya dari kepala bagian depan sampai bagian belakang, kemudian mengembalikannya (1x).
  • Mengusap kedua telinga dengan memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang telinga dan mengusap bagian luar (belakang) dengan ibu jari (1x)
  • Membasuh kedua kaki, yaitu dari ujung jari sampai mata kaki, diawali dengan kaki kanan, kemudian kaki kiri.

Dalil pendukung dari As-Sunnah

Membaca “BISMILLAH”

رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ  عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

Imam Ahmad –rahimahullah- meriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri dari bapaknya dari kakeknya ia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Tidak sah berwudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya”

CARA BERWUDHU

رَوَى الإِمَامُ البُخَارِى

عَنْ حُمْرَانَ : رَأَيْتُ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَوَضَّأَ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا ثُمَّ الْيُسْرَى ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وَضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ نَفْسَهُ فِيهِمَا بِشَيْءٍ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Imam Bukhari meriwayatkan dari Humran : “Aku melihat Utsman –radhiyallahu anhu- berwudhu lalu ia menuwangkan air kepada kedua tangannya (tiga kali), kemudian ia berkumur dan menyemprotkannya kemudian membasuh wajahnya (tiga kali), kemudian membasuh tangannya yang kanan sampai ke siku (tiga kali), kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai ke siku (tiga kali), kemuidan mengusap kepalanya, kemudian membasuh kakinya yang kanan (tiga kali), kemudian  kakinya yang kiri (tiga kali). Kemudian ia berkata: “Aku melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian  sholat dua rakaat, yang kedua sholat itu tidak membicarakan dirinya, maka diampuni dosanya yang telah lampau”.

Manisnya Iman (II) رَوَى الإِمَامُ مُسْلِمُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas; Bahwasanya ia mendengar Rasulullah –Shollallohu alihi wasallam- bersabda: “Akan merasakan enaknya iman barangsiapa ridho: - Allah sebagai Tuhannya - dan Islam sebagai agamanya - Muhammad –Shollallohu alihi wasallam- rasulnya”. Imam Nawawi dalam syarah Muslim berkata: Shohibut Tahrir –rahimahullah- berkata: “Arti (aku rela terhadap sesuatu), yaitu: aku menerima dengannya dan aku merasa cukup dengannya dan aku tidak mencari bersamanya selainnya. Kandungan ma’na Al-Hadits - Tidak mencari Tuhan selain Allah Ta’ala - Tidak berjalan pada selain jalan Islam - Dan tidak mengikuti suatu jalan, kecuali apa-apa yang sesuai dengan syari’at Muhammad (Shollallohu alihi wasallam). Sungguh tidak diragukan lagi bahwasanya barangsiapa yang bersifat dengan ketiga perkara diatas, maka sampailah HALAAWATUL IMAN (manisnya iman) kedalam hatinya, dan akan merasakan enaknya. Al-Qodhi Iyadh –rahimahullah- berkata: arti hadits ini adalah: - Menjadi benar imannya - Menjadi tenang jiwanya dengannya - Dan terpenuhi batinnya. Semuanya dikarenakan ridhonya terhadap perkara diatas menunjukkan teguhnya pengetahuannya dan berlangsungnya pengetahuannya, dan bercampurnya keceriaannya dengan hatinya. Karena barangsiapa yang rela terhadap sesuatu maka ia akan menjadi mudah baginya. Maka begitulah keadaan seorang mu’min, manakala telah masuk kaedalam hatinya iman, maka menjadi mudahlah atasnya menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan akan terasa lezat baginya. Wallaahu A’lam. رَوى النَّسَائِي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَطَعْمَهُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ فِي اللَّهِ وَأَنْ يَبْغُضَ فِي اللَّهِ وَأَنْ تُوقَدَ نَارٌ عَظِيمَةٌ فَيَقَعَ فِيهَا أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا An-Nasa’I meriwayatkan dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah –Shollallohu alihi wasallam- : “Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman dan rasanya iman: - Hendaknya Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selain keduanya - Da hendaknya ia mencintai karena Allah dan bencipun karena Allah - Dan (sekiranya ) dinyalakan api yang besar, lalu ia jatuh kedalamnya, adalah lebih disukai olehnya daripada mempersekutukan Allah dengan sesuatu”. Halaawtul iman Artinya adalah kalapangan dada dengannya, dan enaknya hati baginya yang menyerupai lezatnya suatu makanan yang sampai kedalam mulut. THO’MUL IMAN THO’MUL IMAN Artinya rasanya iman maksudnya adalah kejinaan hati terhadapnya, ada yang berpendapat: bahwa AL-HALAWAH (kemanisan) adalah AL-husnu (kebaikan). Secara umum, maka iman itu mempunyai kelezatan didalam hati yang menyeruapai kemanisan yang bersifat nyata, bahkan terkadang kemanisan itu bisa menjadi sangat kuat atasnya sehingga bisa menetralisir kepahitan yang sangat. Yang seperti ini hanya akan bisa diketahui oleh orang-orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah –Subhanahu Wata’ala- terhadap Islam. “ALLAAHUMMAR ZUQNAA MA’AD DAWAAMI ‘ALAIHAA” (Ya, Allah berilah kami rizki dengan terus menerus berada diatasnya) AT-TAYMII berkata: “HALAAWATUL IMAN adalah HASAATUN (kebaikan). Kalau dikatakan: sesuatu itu menjadi manis di dalam mulut” apabila ia menjadi manis. Dan sesutau itu baik dalam pandangan mata atau di hati, maka dikatakan: “ia menjadi manis dalam pandangan mataku” ya’ni kebaikannya. Dan berkata selainnya: “Pada kemanisan iman itu adalah sebuah imajinasi penyerupaan terhadap kecintaan seorang mu’min terhadap keimanan dengan sesuatu yang rasanya manis. Dan komitmennya terhadap sesuatu itu sendiri yang membenarkan hal itu. Dan hal ini bisa dilihat dari isyarat pada kisah-kisah antara orang sakit dengan orang yang sehat. Orang yang sedang sakit parah, dia mendapati rasanya madu itu pahit sekali, padahal bagi orang yang sedang sehat, madu adalah minuman yang paling manis dimuka bumi ini. Begitulah kisah akan kemahalan sehat bagi kehidupan, maka setiap terkurangi kesehatan sedikit saja, maka terkurangilah rasa madu yang manis itu sedikit demi sedikit seukuran rasa sakit yang menimpanya. Ini adalah sebuah isyarat, bahwa dalam kehidupan manusia ada tingkatan-tingkatan derajat disisi Allah –Subhanahu Wata’ala-, bahwa semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang dan ketakwaannya, semakin tinggi pula kedudukannya (derajatnya), demikian pula tatkala keimanan seseorang menjadi merosot, maka derajatnyapun menjadi menurun, sehingga apabila dalam hal ini terus menerus terjadi dengan disadari atau tidak disadari, maka sampailah seseorang pada derajat yang terendah atau bahkan bisa menyebabkan hangusnya keimanannya. Wal iyaadzu billah.